Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 96 Tahun 2015 Tentang
percepatan penanggulangan kemiskinan pasal 10 ayat 1 menjelaskan bawha
keanggotaan tim Nasional percepatan penanggulangan kemiskinan terdiri
dari unsur pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan
lainnya dalam penanggulangan kemiskinan.
Apabila
bangsa Indonesia benar-benar ingin melakukan percepatan dalam
penanggulangan kemiskinan, pertama yang harus kita lakukan
adalahmemahami apa yang dimaksud dengan kemiskinan dan penyebabnya. Agar
usaha penanggulangan kemiskinan berjalan dengan baik, efektif dan
efisien.Oleh karena itu, perlu dirancang kebijakan yang tepat dengan
melibatkan semua pihak yang berkepentingan, antara lain: pejabat
pemerintah, anggota parlemen, Organisasi Non Pemerintah (termasuk LSM,
Ormas, lembaga-lembaga sosial dan keagamaan, partai politik), masyarakat
madani, pihak swasta dan masyarakat miskin utamanya.
Keseriusan
pemerintah, termasuk pemerintah daerah dalam menjalankan kebijakan dan
program penanggulangan kemiskinan dapat dilihat dari program kebijakan
yang dibuat, pelaksanaan program yang tepat sasaran, dan anggaran yang
dialokasikan untuk membiayai upaya penanggulangan kemiskinan baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Aspek
penting lainnya adalah bagaimana mengembangkan indikator-indikator
keberhasilan penanggulangan kemiskinan, pemantauan dan evaluasi terhadap
kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. Dengan demikian dapat
diketahui sejauh mana kebijakan dan program yang dijalankan telah
mencapai tujuan dan sasaran. Setelah melakukan pemantauan dan evaluasi
kita dapat memperbaiki dan menyempurnakan kebijakan dan program agar
proses dan hasil yang diperoleh semakin baik dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Oleh
karena itu, pembahasan secara terperinci mengenai kemiskinan dan
penanggulangannya sangat penting dilakukan agar berbagai pihak dapat
memahami dan dapat bersama-sama memerangi kemiskinan. Penulisan Makalah
“Strategi Penanggulangan Kemiskinan Di Indonesia; Sebuah Analisis
Kemiskinan Dari Sudut Pandang Sosiologi Ekonomi” diharapkan bisa menjadi
informasi, bahan diskusi mengenai kemiskinan dan bahan masukan bagi
para pengambil kebijakan. Tentang bagaimana merancang suatu kebijakan
dan program pembangunan yang berpiihak pada orang miskin, mengembangkan
indikator keberhasilan program, melakukan pemantauan dan evaluasi.
Bagi
aktivis organisasi non pemerintah dan masyarakat, informasi ini
diharapkan dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kerjasama dalam
menggalang upaya penanggulangan kemiskinan. Dengan informasi ini
diharapkan semua pihak, terutama mereka yang bertanggungjawab dalam
merancang dan menjalankan kebijakan dan program penanggulangan
kemiskinan memiliki perhatian khusus dalam penanggulangan kemiskinan di
daerah khususnya di desa-desa, Sehingga memiliki pemahaman dan
pengertian yang lebih baik (menyeluruh) tentang kemiskinan dan upaya
penanggulangannya.
Kemiskinan
Pemerintah
Indonesia memiliki beberapa model kesejahteraan dan kemiskinan;
misalnya, Badan pusat statistik yang mengukur kemiskinan dengan fokus
konsumsi dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
yangberfokus pada kesejahteraan keluarga. Lembaga-lembaga internasional,
seperti United Nations DevelopmentProgramme (UNDP) juga memperhatikan
isu pengembangan manusia, yang didefinisikan sebagai harapan hidup,
tingkat melek huruf, pendidikan, dan tingkat daya beli per kapita
(Cahyat, 2007: 11).
Konsep-konsep tersebut memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dilihat dari sudut pandang
pemerintah daerah, misalnya Kutai Barat, model-model tersebut memiliki
beberapa kelemahan, yaitu:
- Tidak menggambarkan ciri khas lokal (misalnya, kondisi perumahan atau preferensi makanan setempat).
- Tidak menyentuh konteks kemiskinan (misalnya, tidak ada dari model
tersebut yang berhubungan dengan sumberdaya alam atau konteks sosial).
- Data yang ada sering kontradiktif.
- Tidak terkait dengan pengurangan kemiskinan atau perencanaan pembangunan.
Oleh
karena itu, Menurut Cahyat (2007:11) konsep kemiskinan dan
kesejahteraan yang baru diperlukan untuk menghubungkan aktivitas
pemantauan dan perencanaan secara lebih baik. Ciri khas lokal,
kepentingan pemerintah daerah, dan persepsi masyarakat tentang
kemiskinan dan kesejahteraan dipelajari melalui studi kehidupan
masyarakat secara mendalam, lokakarya pemerintah, dan analisis
kebijakan. Berdasarkan temuan dari pembelajaran partisipatif ini,
kemiskinan didefinisikan sebagai berikut:
“Kemiskinan
adalah suatu situasi dimana seseorang atau rumah tangga mengalami
kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara lingkungan
pendukungnya kurang memberikan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan
secara berkesinambungan atau untuk keluar dari kerentanan”.
Menurut
Bank Dunia, kemiskinan adalah deprivasi dalam kesejahteraan.
Berdasarkan definisi tersebut kemiskinan dapat dipandang dari beberapa
sisi. Dari pandangan konvensional kemiskinan dipandang dari sisi
moneter, dimana kemiskinan diukur dengan membandingkan
pendapatan/konsumsi individu dengan beberapa batasan tertentu, jika
mereka berada di bawah batasan tersebut, maka mereka dianggap miskin.
Pandangan
mengenai kemiskinan berikutnya adalah bahwa kemiskinan tidak hanya
sebatas ukuran moneter, tetapi juga mencakup miskin nutrisi yang diukur
dengan memeriksa apakah pertumbuhan anak-anak terhambat. Selain itu,
juga bisa dari miskin pendidikan, misalnya dengan menggunakan indikator
angka buta huruf. Selanjutnya pandangan yang lebih luas mengenai
kemiskinan adalah kemiskinan ada jika masyarakat kekurangan kemampuan
dasar, sehingga pendapatan dan pendidikan yang dimiliki tidak memadai
atau kesehatan yang buruk, atau ketidakamanan, atau kepercayaan diri
yang rendah, atau rasa ketidakberdayaan, atau tidak adanya hak bebas
berpendapat. Berdasarkan pandangan ini, kemiskinan adalah fenomena multi
dimensi, dan solusi untuk mengatasinya tidaklah sederhana.
Menurut
Martono (2014:163) Secara umum kemiskinan dapat dikategorikan menjadi
dua jenis, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kedua jenis
kemiskinan ini sama-sama memperhitungkan komponen kepemilikan materi,
terutama pendapatan. Namun, perbedaannya adalah pada kemiskinan absolut
ukurannya sudah ditentukan secara absolut, dan diterapkan di setiap
tempat atau wilayah, sedangkan kemiskinan relatif ditentukan berdasarkan
perbandingan relatif tingkat kesejahteraan antar penduduk setempat.
Misalnya: Di Indonesia, ditentukan batas bahwa penduduk berpendapatan
dibawah Rp. 1 Juta/bulan dikategorikan sebagai penduduk miskin. Batas
ini berlaku di semua wilayah Indonesia. Inilah yang dinamakan kemiskinan
absolut. Kemudian misalnya: ada penduduk yang tinggal di di suatu
pemukiman (Kota Surakarta), ia mempunyai pendapatan Rp. 1,5 Juta/bulan.
Ternyata pendapatan penduduk tersebut adalah pendapatan terendah di
Surakarta, karena rata-rata pendapatan di Surakarta adalah Rp. 5
Juta/bulan. Maka, penduduk tersebut dikategorikan sebagai penduduk
miskin berdasarkan rata-rata pendapatan penduduk wilayah setempat,
meskipun pendapatannya di atas Rp 1 Juta/bulan. Inilah yang disebut
sebagai kemiskinan relatif.
Menurut World Bank
Institute (2005), ada 4 alasan mengapa kemiskinan diukur. Pertama adalah
untuk membuat orang miskin terus berada dalam agenda; jika kemiskinan
tidak diukur, maka orang miskin akan mudah terlupakan. Kedua, orang
harus mampu mengidentifikasi orang miskin jika salah satu tujuannya
adalah untuk keperluan intervensi dalam rangka mengentaskan kemiskinan.
Ketiga adalah untuk memantau dan mengevaluasi proyek-proyek atau
kebijakan intervensi yang diarahkan kepada orang miskin. Dan terakhir
adalah untuk mengevaluasi efektivitas lembaga-lembaga pemerintah dalam
mengentaskan kemiskinan.
Barrientos (2010)
mengungkapkan konsep kemiskinan yang hampir mirip dengan yang
dikemukakan oleh Bank Dunia. Kemiskinan menggambarkan keadaan dimana
individu atau rumah tangga berada dalam kondisi yang sangat kekurangan
dalam kesejahteraannya. Perspektif yang berbeda mengenai kesejahteraan
dan pembangunan memberikan ruang yang berbeda dimana kemiskinan diamati
dan diukur. Perspektif resources mendefinisikan kemiskinan sebagai
ketidakmampuan individu atau keluarga untuk memerintahkan sumber daya
yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Perspektif ini
mendominasi diskusi mengenai kemiskinan dan pengukurannya di negara
sedang berkembang. Perspektif partisipasi sosial dan inklusi
mendefinisikan kemiskinan sebagai pengucilan dari aktivitas kerja sama;
orang yang berada dalam kemiskinan tidak bisa berpartisipasi dalam
kehidupan sosial dari suatu komunitas pada tingkat minimal yang dapat
diterima. Perspektif ini mendominasi diskusi mengenai kemiskinan di
negara maju.
Bappenas (2004) mendefinisikan kemiskinan
sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan
perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan
dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Hak-hak dasar tersebut
antara lain, terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan,
pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan
lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak
kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik.
Untuk mewujudkan hak-hak dasar seseorang atau sekelompok orang miskin
Bappenas menggunakan beberapa pendekatan utama antara lain; pendekatan
kebutuhan dasar (basic needs approach), pendekatan pendapatan (income
approach), pendekatan kemampuan dasar (human capability approach) dan
pendekatan objective and subjective.
Pendekatan
kebutuhan dasar, melihat kemiskinan sebagai suatu ketidakmampuan (lack
of capabilities) seseorang, keluarga dan masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan minimum, antara lain pangan, sandang, papan, pelayanan
kesehatan, pendidikan, penyediaan air bersih dan sanitasi. Menurut
pendekatan pendapatan, kemiskinan disebabkan oleh rendahnya penguasaan
asset, dan alat- alat produktif seperti tanah dan lahan pertanian atau
perkebunan, sehingga secara langsung mempengaruhi pendapatan seseorang
dalam masyarakat. Pendekatan ini, menentukan secara rigid standar
pendapatan seseorang di dalam masyarakat untuk membedakan kelas
sosialnya.
Pendekatan kemampuan dasar menilai
kemiskinan sebagai keterbatasan kemampuan dasar seperti kemampuan
membaca dan menulis untuk menjalankan fungsi minimal dalam masyarakat.
Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan tertutupnya kemungkinanbagi orang
miskin terlibat dalam pengambilan keputusan. Pendekatan obyektif atau
sering juga disebut sebagai pendekatan kesejahteraan (the welfare
approach) menekankan pada penilaian normatif dan syarat yang harus
dipenuhi agar keluar dari kemiskinan. Pendekatan subyektif menilai
kemiskinan berdasarkan pendapat atau pandangan orang miskin sendiri.
Kenyataan menunjukkan bahwa kemiskinan tidak bisa didefinisikan dengan
sangat sederhana, karena tidak hanya berhubungan dengan kemampuan
memenuhi kebutuhan material, tetapi juga sangat berkaitan dengan dimensi
kehidupan manusia yang lain. Karenanya, kemiskinan hanya dapat
ditanggulangi apabila dimensidimensi lain itu diperhitungkan.
Sementara
itu jika dilihat dari penyebabnya, kemiskinan terdiri dari: (1)
Kemiskinan natural, (2) Kemiskinan kultural, dan (3) Kemiskinan
struktural (Sumodiningrat, 1998). Kemiskinan kultural merupakan suatu
kondisi kemiskinan yang terjadi karena dari awalnya memang miskin.
Kelompok masyarakat tersebut menjadi miskin karena tidak memiliki
sumberdaya yang memadai baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia maupun
sumberdaya pembangunan, atau kalaupun mereka ikut serta dalam
pembangunan, mereka hanya mendapat imbalan pendapatan yang rendah.
kemiskinan natural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor
alamiah seperti karena cacat, sakit, usia lanjut atau karena bencana
alam.
Daerah seperti ini pada umumnya merupakan daerah
yang kritis sumberdaya alamnya atau daerah yang terisolir. Kemiskinan
kultural merupakan suatu kondisi kemiskinan yang terjadi karena kultur,
budaya atau adapt istiadat yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat.
Kemiskinan kultural mengacu pada sikap hidup seseorang atau kelompok
masyarakat yang disebabkan oleh gaya hidup, kebiasaan hidup dan budaya
di mana mereka merasa hidup berkecukupan dan tidak merasa kekurangan.
Kelompok masyarakat seperti ini tidak mudah untuk diajak berpartisipasi
dalam pembangunan, tidak mau berusaha untuk memperbaiki dan merubah
tingkat kehidupannya.
Akibatnya tingkat pendapatan
mereka rendah menurut ukuran yang dipakai secara umum. Penyebab
kemiskinan ini karena faktor budaya seperti malas, tidak disiplin, boros
dan lain-lainnya. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang
disebabkan oleh faktor faktor buatan manusia seperti kebijakan ekonomi
yang tidak adil, distribusi aset produksi yang tidak merata, korupsi dan
kolusi serta tatanan ekonomi dunia yang cenderung menguntungkan
kelompok masyarakat tertentu. Munculnya kemiskinan struktural disebabkan
karena berupaya menanggulangi kemiskinan natural, yaitu dengan
direncanakan bermacammacam program dan kebijakan. Namun karena
pelaksanaannya tidak seimbang, pemilikan sumber daya tidak merata,
kesempatan yang tidak sama menyebabkan keikutsertaan masyarakat menjadi
tidak merata pula, sehingga menimbulkan struktur masyarakat yang
timpang.
Faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Indonesia
Masalah
kemiskinan lebih banyak dihadapi oleh negara-negara berkembang atau
negara dunia ketiga. Ini terkait dengan kemampuan negara untuk
menyediakan berbagai fasilitas bagi warga negaranya. Setidaknya ada 3
faktor penyebab yang akan dibahas mengenai kemiskinan di Indonesia.
Pertama, Kemiskinan secara struktural: Pemerintah tidak bisa memberikan
jaminan pendidikan gratis sampai jenjang sarjana bagi seluruh warga
indonesia dan pemerintah gagal dalam menyediakan lapangan pekerjaan.
Kedua, Kemiskinan Kultural: Ketiadaan motivasi untuk maju atau
berprestasi. Ketiga, Menurut Beberapa Pakar.
Kemiskinan Struktural
Pemerintah
tidak bisa memberikan jaminan pendidikan gratis sampai jenjang sarjana
bagi seluruh warga indonesia, gagal dalam menyediakan lapangan
pekerjaan, dan mengeluarkan kebijakan yang tidak berpihak kepada
masyarakat miskin.
Ketidakmampuan
mengakses pendidikan adalah salah satu faktor pemicu tingginya angka
kemiskinan karena biaya pendidikan yang sangat mahal. Faktor pendidikan
ini berdampak pada ketidakmampuan masyarakat mendapatkan status
pekerjaan yang layak, sehingga mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan
pokok sehari-hari.
Pemerintah Indonesia baru bisa memberikan
kesempatan yang menyuluruh untuk pendidikan sampai Sekolah Menengah
Tingkat Pertama. Sedangkan untuk SMA dan perguruan tinggi jumlahnya
terbatas bagi siswa kurang mampu. Hal inilah yang menyebabkan
kesenjangan di Indonesia semakin tinggi dan penyelesaian permasalahan
kemiskinan semakin kompleks.
Penduduk miskin yang sebagian besar
tinggal dipedesaan, memaksa mereka berbondong-bondong merantau ke kota,
dan sebagian yang lain memilih mencari pekerjaan keluar negeri.
Banyaknya penduduk yang memilih bekerja keluar negeri juga menimbulkan
masalah baru ketika mereka tidak memiliki bekal keterampilan dan
pengetahuan yang memadai. Inilah problematika kemiskinan. Lapangan
pekerjaan yang semakin sempit, memaksa mereka untuk terus menerus
tenggelam dalam kemiskinan (Martono, 2014: 166).Seperti yang diberitakan
oleh sindonews.com pada tanggal 16 September 2015 dengan judul
keterbatasan lapangan pekerjaan di Indonesia menyebabkan kemiskinan
terus bertambah, selengkapnya sebagai berikut:
Keterbatasan
lapangan pekerjaan di Indonesia menyebabkan angka kemiskinan terus
bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, dari September 2014
hingga Maret 2015 angka kemiskinan naik 0,26%.
Ekonom dari Asian
Development Bank (ADB) Edimon Ginting mengatakan, ada 2,7 juta pekerjaan
yang diciptakan di Indonesia selama setahun, namun kapasitas tersebut
tidak sebanding dengan jumlah pelamar kerja.
"Kalau kita lihat
antara Februari 2014 ke 2015 bulan yang sama, ada 2,7 juta lapangan
pekerjaan yang diciptakan. Tapi, ada 3 juta orang yang mencari
pekerjaan. Nah, yang tidak bekerja ini, bisa menambah angka poverty
(kemiskinan) di negara kita. Jadi wajar kalau angka kemiskinan Indonesia
naik," jelasnya ketika dihubungi Sindonews di Jakarta, Rabu (16/9/2015)
Selain
itu, lanjut dia, banyak para pekerja yang dengan mudah berpindah sektor
pekerjaan dari sektor formal ke informal. Sedangkan selama jeda mencari
pekerjaan baru, itu membutuhkan waktu yang lama terkadang.
"Jadi mereka terkadang menganggur dulu. Itu yang sebabkan Picu angka kemiskinan juga," katanya.
Sedangkan,
lanjut dia, antara job dan pertumbuhan penduduk, tidak balance.
Lapangan pekerjaan saat ini dengan pertumbuhan pencari kerja sekarang
sudah tidak mencukupi untuk menarik pekerja.
"Ini tanda-tanda
bahwa pertumbuhan pencari kerja saat ini, sudah tidak memungkinkan untuk
menyerap tenaga baru. Itu yang membuat kemiskinan meningkat. Makanya
insentif pemerintah, dana desa, itu penting untuk menciptakan lapangan
kerja baru sementara," pungkasnya.
Selain beberapa faktor diatas,
kemiskinan struktural di Indonesia juga dipengaruhi oleh faktor
kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan rakyat kecil, seperti 3
berita yang dilangsir oleh sindonews.com yaitu:
1. pemerintahan
Joko Widodo (Jokowi) lebih memfokuskan persoalan infrastruktur
ketimbang mengentas angka kemiskinan yang kini jumlahnya semakin besar
(sindonews.com 27 september 2015), Berita Selengkapnya sebagai berikut:
Staf
Khusus Presiden bidang Ekonomi pemerintahan SBY, Firmanzah menilai
pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) lebih memfokuskan persoalan
infrastruktur ketimbang mengentas angka kemiskinan yang kini jumlahnya
semakin besar.
Dia mengatakan, persoalan kemiskinan tidak bisa
diselesaikan sendiri dan membutuhkan fokus serta kepemimpinan yang kuat.
Sayangnya, saat ini pemerintah masih fokus kepada persoalan
infrastruktur dan mengenyampingkan kemiskinan. (Baca: Jumlah Penduduk
Miskin RI Naik Jadi 28,59 Juta Orang )
"Bukan berarti
infrastruktur tidak penting, tapi yang sifatnya jangka pendek itu harus
diperhatikan. Jadi tidak bisa diselesaikan pemerintah pusat saja, tapi
juga harus pemerintah daerah," katanya dalam sebuah diskusi di Cikini,
Jakarta, Minggu (27/9/2015).
Menurutnya, Presiden Jokowi sedianya
perlu menambah variasi wacana dan urgensi mengenai pengentasan
kemiskinan dalam setiap pidatonya. Sebab, jika mantan Gubernur DKI
Jakarta tersebut sudah menyatakan bahwa kemiskinan adalah isu yang
penting, maka para menteri di bawah kendalinya akan menganggap hal
tersebut penting untuk diselesaikan.
"Jadi Presiden perlu
memperbanyak dalam setiap pidatonya, pentingnya soal pengentasan
kemiskinan. Sehingga menteri koordinator dan menterinya akan lebih fokus
merumuskan solusi," tutur dia.
Rektor Universitas Paramadina ini
menambahkan, sejauh ini dirinya belum melihat komitmen Jokowi secara
tegas untuk pengentasan kemiskinan. "Saya belum lihat Presiden
mengatakan secara intens bahwa pengentasan kemiskinan itu penting.
Meskipun infrastruktur ujung-ujungnya untuk kemiskinan juga, tapi untuk
sampai ke angka kemiskinan itu bisa empat hingga lima tahun," tandas
Firmanzah.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik
(BPS) menyatakan, penduduk miskin di Indonesia per Maret 2015 mencapai
28,59 juta orang atau meningkat 0,26% dari September 2014.
Kepala BPS Suryamin menjelaskan, data tersebut diambil berdasarkan 300.000 sampel yang disebar pihaknya ke berbagai provinsi.
"Penduduk
miskin per Maret 2015 dengan porsi 11,22% atau 28,59 juta penduduk.
Sampel 300 ribu. Dibandingkan September 2014 naik 0,26%," ujarnya.
2.
Naik turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) berpengaruh pada
kemiskinan dan upah buruh (sindonews.com 1 Oktober 2015), Berita
Selengkapnya sebagai berikut:
Deputi Bidang Statistik
Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo
menyatakan, naik turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) akan
berpengaruh pada kemiskinan dan upah buruh.
Hampir semua sektor
membutuhkan energi, sehingga jika terjadi fluktuasi harga BBM atau
harganya naik sedikit, akan berpengaruh juga pada harga kebutuhan lain
bahkan berdampak pada daya beli masyarakat.
"Bahan makanan butuh
angkutan, jadi enggak kena kenaikan. Hampir semua sektor membutuhkan
energi pasti akan terjaga. Makanya setelah kenaikan BBM setahun
dampaknya kerasa. Masalahnya kalau BBM naik yang lain ikut naik. Kalau
turun itu menjaga yang lain enggak naik. Tapi enggak menurunkan harga
juga," katanya di Gedung BPS, Kamis (1/10/2015).
Jadi, jika
pemerintah tidak menaikkan harga BBM, atau malah menurunkan harga BBM
sesuai harga minyak dunia, itu akan bagus untuk harga kebutuhan pokok
dan komoditi lain. "Enggak naikkan harga BBM saja sudah bagus apalagi
nurunin kan, lebih bagus lagi," kata Sasmito.
Menurutnya, jika
harga BBM tetap atau turun, ini akan mengurangi angka kemiskinan, karena
biaya hidup relatif rendah sehingga kemiskinan akan turun.
"Indikasi
sekarang kemungkinan biaya hidup relatif rendah sehingga kemiskinan
akan turun. Kalau mau melihat pada pertengaha September kan mengeluarkan
upah buruh. Riilnya naik itu tanda penduduk miskin turun," pungkasnya.
3.
Indef: Kesenjangan Sosial era Jokowi-JK makin runyam (Sindonews.com
tanggal 16 Oktober 2015), berita selengkapnya sebagai berikut:
Institute
for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, pemerintahan
Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) saat ini menambah runyam masalah
kesenjangan sosial. Ini dibuktikan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia
tahun ini paling rendah sejak 2009. Selain itu, gagalnya pemerintah
untuk mengendalikan harga barang, menjadi masalah utama di tengah
pelemahan ekonomi Indonesia. Padahal, saat beberapa komoditas terjadi
lonjakan harga, masa panen sedang berlangsung.
"Pertumbuhan
ekonomi kita saat ini paling rendah dari tahun 2009 waktu zaman
Presiden SBY. Padahal, kala itu Presiden SBY juga mengalami krisis.
Kemudian gagalnya pemerintah mengendalikan harga barang dan komoditas di
awal hingga pertengahan bulan. Padahal saat itu terjadi panen, tapi
harganya malah naik," kata pengamat ekonomi dari Indef Dzulfian
Syafrian di Jakarta, Jumat (16/10/2015).
Kondisi
ini memperburuk kondisi masyarakat berpenghasilan minim, karena 65%
penghasilan mereka digunakan untuk membeli komoditas untuk memenuhi
kebutuhan pangan mereka sehari-hari.
"Bayangkan, 65% penghasilan
mereka hanya untuk makan. Penghasilan masyarakat ekonomi bawah taruh.
Misalnya Rp1 juta per bulan, Rp650 ribunya untuk makan. Sisanya untuk
bertahan hidup dikala makanan mereka habis," ujarnya.
Artinya,
kata Dzul, pemerintah terkesan gagal menjaga harga pangan dan
memproteksi masyarakat Indonesia dari jurang kemiskinan, meskipun
sebetulnya ketimpangan sosial ini sudah ada sejak zaman pemerintahan
SBY. "Sekarang kemiskinan kita bertambah 0,86 juta orang. September 2014
sebesar 27,73 juta, hingga Maret 2015 mencapai 28,59 juta. Ini
merupakan bukti bahwa pemerintah saat ini gagal memberikan proteksi ke
masyarakat miskin kita," pungkas dia.
Kemiskinan Kultural: Ketiadaan motivasi untuk maju atau berprestasi.
Selain
kemiskinan disebabkan oleh faktor luar, ada pula kemiskinan yang
disebabkan faktor penuduk itu sendiri. Hal ini dilatarbelakangi
mentalitas penduduk yang malas bekerja, yang selalu mengharapkan bantuan
dari orang lain. Mereka tidak mau berusaha sendiri untuk mencari
sumber-sumber pendapatan.
Menurut
McClelland dalam Martono (2014:167) salah satu penyebab terpuruknya
negara dunia ketiga adalah ketiadaan motivasi berprestasi. Sikap mudah
pasrah juga dapat menjadi penyebab kemiskinan. Inilah yang kemudian
disebut kemiskinan budaya, kemiskinan yang disebabkan mentalitas
individu yang dapat disebabkan oleh budaya atau nilai-nilai fatalistik
yang dianut masyarakat.
Banyak
penduduk di pedesaan yang mampu mengkonsumsi beras 30kg/bulan, namun
mereka mendapatkan beras tersebut dengan cara “bon” atau hutang diwarung
tetangga. Sebenarnya pendapatan mereka setiap bulan tidak cukup untuk
membeli beras tersebut.
Selain
itu ada peribahasa-peribahasa yang berdampak kemiskinan secara
kultural. Pertama, banyak anak banyak rezeki, padahal untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Tidak sedikit pula akhirnya anak-anaknya tidak bisa bersekolah
karena kemiskinan. Kedua, Budaya “pasrah” hidup yang penting bisa makan.
Ketiga, kebiasaan berhutang dan tradisi sumbangan ketika ada teman,
saudara, atau kerabat yang mengadakan pesta sunatan atau perkawinan.
Faktor Kemiskinan Menurut Para Pakar
Setiap
permasalahan timbul pasti karna ada faktor yang mengiringinya yang
menyebabkan timbulnya sebuah permasalahan, begitu juga dengan masalah
kemiskinan yang dihadapi oleh negara indonesia. Beberapa faktor yang
menyebabkan timbulnya kemiskinan menurut Hartomo dan Aziz dalam Hudayana
(2009:28-29) yaitu :
1). Pendidikan yang Terlampau Rendah
Tingkat
pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai
keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupannya. Keterbatasan
pendidikan atau keterampilan yang dimiliki seseorang menyebabkan
keterbatasan kemampuan seseorang untuk masuk dalam dunia kerja.
2). Malas Bekerja
Adanya
sikap malas (bersikap pasif atau bersandar pada nasib) menyebabkan
seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja.
3). Keterbatasan Sumber Alam
Suatu
masyarakat akan dilanda kemiskinan apabila sumber alamnya tidak lagi
memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Hal ini sering dikatakan
masyarakat itu miskin karena sumberdaya alamnya miskin.
4). Terbatasnya Lapangan Kerja
Keterbatasan
lapangan kerja akan membawa konsekuensi kemiskinan bagi masyarakat.
Secara ideal seseorang harus mampu menciptakan lapangan kerja baru
sedangkan secara faktual hal tersebut sangat kecil kemungkinanya bagi
masyarakat miskin karena keterbatasan modal dan keterampilan.
5). Keterbatasan Modal
Seseorang
miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi alat maupun
bahan dalam rangka menerapkan keterampilan yang mereka miliki dengan
suatu tujuan untuk memperoleh penghasilan.
6). Beban Keluarga
Seseorang
yang mempunyai anggota keluarga banyak apabila tidak diimbangi dengan
usaha peningakatan pendapatan akan menimbulkan kemiskinan karena semakin
banyak anggota keluarga akan semakin meningkat tuntutan atau beban
untuk hidup yang harus dipenuhi.
Suryadiningrat dalam Hudayana
(2009:30), juga mengemukakan bahwa kemiskinan pada hakikatnya disebabkan
oleh kurangnya komitmen manusia terhadap norma dan nilai-nilai
kebenaran ajaran agama, kejujuran dan keadilan. Hal ini mengakibatkan
terjadinya penganiayaan manusia terhadap diri sendiri dan terhadap orang
lain. Penganiayaan manusia terhadap diri sendiri tercermin dari adanya :
1) keengganan bekerja dan berusaha,
2) kebodohan,
3) motivasi rendah,
4) tidak memiliki rencana jangka panjang,
5) budaya kemiskinan, dan
6) pemahaman keliru terhadap kemiskinan.
Sedangkan penganiayaan terhadap orang lain terlihat dari ketidakmampuan seseorang bekerja dan berusaha akibat :
1) ketidakpedulian orang mampu kepada orang yang memerlukan atau orang tidak mampu dan
2) kebijakan yang tidak memihak kepada orang miskin.
Kartasasmita
dalam Rahmawati (2006:4) mengemukakan bahwa, kondisi kemiskinan dapat
disebabkan oleh sekurang-kurangnya empat penyebab, diantaranya yaitu :
1. Rendahnya Taraf Pendidikan
Taraf
pendidikan yang rendah mengakibatkan kemampuan pengembangan diri
terbatas dan meyebabkan sempitnya lapangan kerja yang dapat dimasuki.
Taraf pendidikan yang rendah juga membatasi kemampuan seseorang untuk
mencari dan memanfaatkan peluang.
2. Rendahnya Derajat Kesehatan
Taraf kesehatan dan gizi yang rendah menyebabkan rendahnya daya tahan fisik, daya pikir dan prakarsa.
3. Terbatasnya Lapangan Kerja
Selain
kondisi kemiskinan dan kesehatan yang rendah, kemiskinan juga
diperberat oleh terbatasnya lapangan pekerjaan. Selama ada lapangan
kerja atau kegiatan usaha, selama itu pula ada harapan untuk memutuskan
lingkaran kemiskinan.
4. Kondisi Keterisolasian
Banyak
penduduk miskin secara ekonomi tidak berdaya karena terpencil dan
terisolasi. Mereka hidup terpencil sehingga sulit atau tidak dapat
terjangkau oleh pelayanan pendidikan, kesehatan dan gerak kemajuan yang
dinikmati masyarakat lainnya.
Nasikun dalam Suryawati (2005:5) menyoroti beberapa sumber dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu :
- Pelestarian Proses Kemiskinan; Proses pemiskinan yang dilestarikan,
direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan diantaranya adalah
kebijakan anti kemiskinan, tetapi realitanya justru melestarikan.
- Pola Produksi Kolonial; Negara ekskoloni mengalami kemiskinan karena
pola produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang
paling subur dikuasai petani skala besar dan berorientasi ekspor.
- Manajemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan; Adanya unsur manajemen
sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal
tebang akan menurunkan produktivitas.
- Kemiskinan Terjadi Karena Siklus Alam; Misalnya tinggal di lahan
kritis, dimana lahan ini jika turun hujan akan terjadi banjir tetapi
jika musim kemarau akan kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan
produktivitas yang maksimal dan terus-menerus.
- Peminggiran Kaum Perempuan; Dalam hal ini perempuan masih dianggap
sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja
yang diberikan lebih rendah dari laki-laki.
- Faktor Budaya dan Etnik; Bekerjanya faktor budaya dan etnik yang
memelihara kemiskinan seperti, pola hidup konsumtif pada petani dan
nelayan ketika panen raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat
upacara adat atau keagamaan.
Strategi penanggulangan kemiskinan di Indonesia
Penanggulangan
kemiskinan harus menjadi fokus utama negara Indonesia jika ingin
mewujudkan sila kelima pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia, oleh karena itu penulis menganggap perlu adanya solusi
kongrit dan gabungan dari berbagai pemikiran baik dari akademisi maupun
kebijakan pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan yang akan
dituangkan dalam pembahasan mengenai strategi penanggulangan kemiskinan
di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar kita semua faham dan bersama-sama
memerangi kemiskinan.
Strategi penanggulangan kemiskinan oleh Pemerintah
Strategi
penanggulangan kemiskinan oleh pemerintah menurut buku analiis data
kemiskinan Kementrian sosial RI dan BPS (2012 : 62-69) Penduduk miskin
memiliki karakteristik sosial dan fisik tertentu yang membuat mereka
perlu mendapat perhatian agar mereka dapat keluar dari kemiskinan.
Perhatian tersebut dituangkan ke dalam kebijakan untuk penanggulangan
kemiskinan yang dijabarkan dalam berbagai program penanggulangan
kemiskinan. Pembangunan nasional dan daerah pun diarahkan untuk
mengeluarkan mereka yang miskin keluar dari kemiskinan atau dengan kata
lain kemiskinan mempengaruhi arah perencanaan pembangunan, baik nasional
maupun regional. Program-program penanggulangan kemiskinan di Indonesia
dibagi ke dalam 4 klaster, yaitu:
- Klaster-1 merupakan program perlindungan sosial berbasis keluarga
berupa bantuan siswa miskin, JAMKESMAS, raskin, PKH, BLT, dan lain-lain.
- Klaster-2 merupakan program-program pemberdayaan masyarakat, seperti
PNPM mandiri yang bertujuan memberikan perlindungan dan pemenuhan hak
atas berpartisipasi, kesempatan kerja dan berusaha, tanah, sumber daya
alam, dll.
- Klaster-3 merupakan program pemberdayaan UMKM, seperti KUR dan UMKM.
- Klaster-4 termasuk program rumah sangat murah, program kendaraan
angkutan umum murah, program air bersih untuk rakyat, program listrik
murah dan hemat, serta programpeningkatan kehidupan nelayan, dan program
peningkatan kehidupan masyarakat miskin perkotaan.
Beras Miskin (Raskin)
Penyaluran
RASKIN (Beras untuk Rumah Tangga Miskin) sudah dimulai sejak1998.
Krisis moneter tahun 1998 merupakan awal pelaksanaan RASKIN yang
bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga terutama rumah
tangga miskin. Pada awalnya disebut program Operasi Pasar Khusus (OPK),
kemudian diubah menjadi RASKIN mulai tahun 2002, RASKIN diperluas
fungsinya tidak lagi menjadi program darurat (social safety net)
melainkan sebagai bagian dari program perlindungan sosial masyarakat.
Melalui sebuah kajian ilmiah, penamaan RASKIN menjadi nama program
diharapkan akan menjadi lebih tepat sasaran dan mencapai tujuan RASKIN
Raskin
merupakan subsidi pangan yang diperuntukkan bagi keluarga
miskin.Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah
Tangga Sasaran (RTS) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok
dalam bentuk beras dan mencegah penurunan konsumsi energy dan protein.
Selain itu raskin bertujuan untuk meningkatkan/membuka akses pangan
keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima manfaat dengan
jumlah yang telah ditentukan. Efektivitas raskin sangat tergantung pada
ketepatan jumlah sasaran penerima manfaat dan ketepatan jumlah beras
yang diterima.
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas)
Jamkesmas
merupakan sebuah program jaminan kesehatan untuk pendudukIndonesia
dibidang kesehatan. Program ini diselenggarakan secara nasional dengan
tujuan untuk meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap
seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat
kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif .Program ini dijalankan
oleh Kementerian Kesehatan sejak 2008. Jamkesmas diselenggarakan
berdasarkan konsep asuransi sosial dan iurannya dibayar oleh pemerintah.
Menurut
data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2010 ada sekitar 43,98
persenpenduduk Indonesia belum memiliki jaminan kesehatan, atau ada
sekitar 56,02 persen penduduk Indonesia sudah memiliki jaminan
kesehatan. Jaminan kesehatan yang banyak dimiliki oleh penduduk adalah
jaminan kesehatan yang berasal dari program pemerintah baik dari pusat
(Jamkesmas) maupun dari daerah (Jamkesda).
Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)
Meski
dana BOS diharapkan dapat meningkatkan keikutsertaan peserta
didik,namun masih tetap saja ada siswa yang putus sekolah dan tidak
melanjutkan. Salah satu penyebabnya adalah orang tua tidak mampu
memenuhi kebutuhan pendidikan seperti baju seragam, buku tulis dan buku
cetak, sepatu, biaya transportasi dan biaya lainnya yang tidak
ditanggung oleh dana BOS. Bantuan dana diberikan untuk dipergunakan
memenuhi keperluan sekolah seperti, membeli buku pelajaran, seragam
sekolah, alat-alat olah raga dan ketrampilan, pembayaranan transportasi
kesekolahserta keperluan lain yang berkaitan dengan proses pembelajaran
di sekolah.
BSM adalah bantuan yang diberikan kepada
siswa kurang mampu untuk dapatmelakukan kegiatan belajar di sekolah.
Bantuan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah siswa putus sekolah akibat
permasalahan biaya pendidikan, serta memberi peluang bagi siswa untuk
mengikuti pendidikan dilevel yang lebih tinggi. Program ini bersifat
bantuan diberikan kepada siswa miskin dan tidak berdasarkan prestasi.
BSM
disiapkan pemerintah mulai dari tingkat SD sampai SMA. Di jenjang
pendidikan tinggi, pemerintah juga menggulirkan program beasiswa bagi
anak kurang mampu dengan nama bantuan belajar mahasiswa miskin ber-IPK
2.5 dan beasiswa bidik misi. Program bidik misi bertujuan untuk
meningkatkan akses dan kesempatan bagi peserta didik yang memiliki
potensi akademik namun kurang mampu secara ekonomi.
Adapun
persyaratan penerima BSM adalah siswa SD, SDLB, SMP, SMPLB, SMA, SMALB
dan SMK baik negeri maupun swasta dari keluarga miskin yang:
a) dari keluarga peserta PKH,
b) memperoleh Kartu Siswa Miskin dari TNP2K atau
c) tidak sedang menerima beasiswa dari sumber lain.
Adapun persyaratan sekolah peserta program BSMadalah
a) sekolah yang mempunyai siswa yang berasal dari keluarga miskin
b)
sekolah yang memiliki surat ijin operasional/kelembagaan yang
dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota setempat untuk sekolah
umum.
Program Keluarga Harapan (PKH)
PKH
adalah program perlindungan sosial yang memberikan bantuan tunai
kepadarumah tangga sangat miskin (RTSM) dengan persyaratan tertentu.
Rumah tangga yangmendapat program ini adalah RTSM yang memiliki ibu
hamil atau anak balita atau anak sekolah usia 5 – 17 tahun yang masih
bersekolah pada tingkat SD atau SMP. Bantuan diberikan selama 6 tahun
berturut-turut.Anggota keluarga RTS tersebutdiwajibkan melaksanakan
ketentuan yang telah ditetapkan, seperti tingkat kehadiran di sekolah,
pemeriksaan kesehatan, dsb.
Tujuan jangka pendek dari
program ini adalah mengurangi beban RTSM,sedangkan untuk jangka panjang
diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan antar generasi. Dengan
mengikuti program ini, generasi berikutnya dari RTSM diharapkan dapat
keluar dari perangkap kemiskinan. Program PKH juga membantu pencapaian
lima tujuan MDGs, yaitu: Pengurangan penduduk miskin dan kelaparan;
Pendidikan Dasar; Kesetaraan Gender;Penguranganangka kematian bayidan
balita; Pengurangan kematian ibu melahirkan.
Strategi dengan mengkaji karakteristik kemiskinan dan kesejahteraan keluarga di berbagai daerah di Indonesia
Menurut
Cahyat (2007:11) ada Tiga tingkat kondisi yang perlu dipantau dalam
mengkaji kemiskinan dan kesejahteraan keluarga: (1) Kesejahteraan
subjektif (subjectivewellbeing atau disingkat SWB), (2) Kesejahteraan
inti (kebutuhan dasar, seperti kekayaan materi, pengetahuan dan
kesehatan), dan (3) Lingkungan pendukung (konteks).
Lingkungan
pendukung masih dibagi lagi menjadi dua, yaitu lingkungan sektoral
(alam, ekonomi, politik dan sosial) dan lingkungan lintas sektoral
(infrastruktur dan pelayanan) Perasaan kesejahteraan subjektif adalah
kumpulan perasaan seseorang; bisa berupa perasaan sejahtera, rasa
bahagia, rasa dihormati, rasa diakui, rasa miskin, rasa serba
kekurangan, dan perasaan-perasaan sejenisnya. Perasaan ini bersifat
sangat umum dan dipengaruhi oleh seluruh aspek kehidupan.
Perasaan
ini bisa saja bersifat sementara dan mungkin dipengaruhi oleh
kejadian-kejadian sesaat. Rumah tangga yang baru bercerai, misalnya,
pasti langsung merasa tidak bahagia, walaupun mungkin keadaan materi,
pengetahuan, kesehatan dan lingkungan kehidupannya dalam kondisi baik.
Oleh karena itu, di samping mengukur kesejahteraan subjektif, kita juga
perlu mempertimbangkan aspek-aspek kehidupan lain yang lebih objektif.
Walaupun aspek ini sangat subjektif, tetapi sangat penting untuk diukur
karena merupakan hal yang paling inti dalam kesejahteraan. Ada banyak
contoh yang menunjukkan orang kaya terkena penyakit karena perasaannya
terganggu.
Kesejahteraan inti terdiri dari kebutuhan
dasar yangbersifat material (kebendaan) maupun bukan material, yang
mencakup aspek gizi dan kesehatan, pengetahuan, dan kekayaan materi.
Dalam memantau kebutuhan dasar, informasi tentang bagaimana kebutuhan
dasar tersebut didapatkan (atau tidak didapatkan), seberapa sulit atau
mudah mendapatkannya, atau dari mana kebutuhan itu bisa didapat, bukan
merupakan hal yang penting untuk diketahui. Informasi yang penting di
sini adalah apakah responden mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar
tersebut setidaknya dalam 12 bulan terakhir. Dengan demikian, pada saat
rumah tangga dalam keadaan miskin, pemantauan kebutuhan dasar tidak
memberikan informasi tentang potensi bagi rumah tangga tersebut untuk
keluar dari kemiskinan di masa depan.
Lingkungan
pendukung (konteks) adalah lingkungan kehidupan yang mempengaruhi
kesejahteraan inti. Misalnya, ada dua anak dengan usia dan tingkat
kecerdasan yang sama tetapi tinggal terpisah pada lingkungan yang
berbeda (misalnya di dua daerah yang berbeda). Salah satu anak tersebut
tinggal di daerah dengan lingkungan alam yang sehat, sumber daya alam
yang terjangkau serta dikelola secara lestari, dan pemerintah memberikan
dukungan bagi perkembangan anak ini sampai dewasa yaitu dengan
menyediakan pendidikan berkualitas tinggi yang terjangkau oleh seluruh
warga.
Di lain pihak, anak yang lain tinggal di daerah
dengan kondisi bertolak belakang: lingkungan alam yang rusak parah,
sungai dan sumber air yang tercemar, sumber daya alam yang tinggal
sedikit, serta pelayanan pendidikan yang sangat rendah. Dengan kondisi
demikian, dalam 25 tahun ke depan dapat dipastikan kedua anak tersebut
akan mengalami perkembangan yang jauh berbeda: anak yang tinggal di
lingkungan yang mendukung akan jauh lebih maju dan berkembang karena
kebutuhan kesehatan, pengetahuan dan materinya dapat dipenuhi tanpa
kesulitan, yang pada akhirnya dapat memberikan perasaan sejahtera.
Dalam
kaitannya dengan upaya penanggulangan kemiskinan, informasi lingkungan
pendukung dapat memberikan gambaran tentang potensi suatu rumah tangga
untuk keluar dari kemiskinan. Sebetulnya, lingkungan pendukung dalam
kenyataannya tidak terpisah dan terkotak-kotak, tetapi pengelompokan
perlu dilakukan untuk mempermudah analisis. Pengelompokan juga penting
dilakukan agar pengambil keputusan di tingkat daerah dapat
menghubungkannya dengan pembagian urusan atau tugas pokok dan fungsi
(TUPOKSI). Lingkungan pendukung dibagi menjadi empat kelompok yaitu
Politik, Ekonomi, Sosial, dan Alam (POLEKSAL). Lingkungan POLEKSAL dapat
memastikan bahwa setiap rumah tangga mendapatkan kesempatan untuk
memperbaiki kualitas kehidupannya dan sekaligus dapat mengurangi
kerentanan terhadap kekurangan kebutuhan dasar secara berkesinambungan.
Lingkungan lintas sektoral kelima, infrastruktur dan pelayanan,
mempengaruhi seluruh lingkungan lainnya.
Strategi Penanggulangan Kemiskinan Menurut Akademisi
Menururut
Slamet Dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret dalam artikel
ilmiahnya yang berjudul Kemiskinan Petani Pedesaan, Analisis Mengenai
Sebab-Sebab dan Alternatif Pemecahannya, Mencermati berbagai sebab-sebab
kemiskinan petani pedesaan, sebenarnya banyak hal yang perlu diusulkan
yaitu dengan cara menghapuskan penyebab kemiskinan. Namun demikian
dengan kuatnya sistem politik, sistem sosial, dan sistem ekonomi yang
mengglobal, menghapuskan penyebab-penyebab kemiskinan adalah suatu
pekerjaan yang luar biasa beratnya atau bahkan mustahil.
Menurut
Slamet Alternatif pemecahan masalah kemiskinan adalah dengan
mengetengahkan suatu pendekatan kemiskinan yang sekarang ini juga
disarankan oleh para penasehat Bank Dunia. Pendekatan yang dimaksud
adalah pendekatan modal sosial. Pendekatan ini telah ditunjukkan oleh
banyak peneliti yang menyatakan bahwa pengentasan kemiskinan berkaitan
erat dengan peranan modal sosial. Modal sosial berkaitan dengan social
networking, norm of trust, mutual reciprocity dan mutual benefit. Hasil
penelitian Grootaert (1999), Putnam (2000; 2002), Coleman (2000),
Woolcock (2002), Slamet (2010) menunjukkan bahwa modal sosial dapat
membantu dalam pengentasan kemiskinan. Menurut hasil penelitian Slamet
(2010) modal sosial dapat diciptakan melalui pembangunan
institusi-institusi sosial. Institusi sosial memungkinkan terbentuknya
modal sosial yang pada gilirannya dapat mengentaskan kemiskinan.
Slamet
(2012: 177) meninjau ulang atas upaya yang telah dilakukan oleh
pemerintah Indonesia semenjak pemerintahan Orde lama sampai sekarang
untuk menurunkan angka kemiskinan, baik secara langsung maupun secara
tidak langsung. Beberapa implikasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan
yaitu:
- Pengentasan dari kemiskinan harus dirancang berdasarkan atas strategi perencanaan bottom-up, bukannya top-down.
- Program pengentasan dari kemiskinan harus diterapkan pada wilayah
yang berskala kecil lebih dahulu sebagai uji coba, konseptualisasi,
rancangan program, pelaksanaan program, dan dampak program harus
dievaluasi. Keputusan harus dibuat apakah program harus direvisi,
dihentikan atau dilanjutkan. Menerapkan program secara nasional harus
secara hati-hati dan tidak pukul rata.
- Banyak program-program pengentasan dari kemiskinan tidak dievaluasi
oleh pakar sehingga pemegang otoritas tidak mengerti kelemahan dan
kekuatan program. Karenanya program-program pengentasan dari kemiskinan
harus disertai secara melekat anggaran untuk monitoring dan evaluasi.
Dengan cara yang demikian pemerintah, lembaga swadaya masyarakat atau
para penyandang dana tidak mengulang kesalahan.
- Program pengentasan dari kemiskinan seharusnya tidak dilakukan
dengan cara yang tumpang tindih. Kenyataan ada wilayah yang menerima
banyak program-program pengentasan dari kemiskinan, sebaliknya ada
daerah yang sama sekali tidak menerimanya.
- Banyak program yang dilancarkan atas dasar pendekatan karitatif.
Model pengentasan dari kemiskinan semacam itu pada
kenyataannyamenciptakan mental pengemis di kalangan penduduk miskin.
Pendekatan karitatif bagi pembentukan karakter bangsa harus dihindari.
- Program pembangunan nasional harus menempatkan orang miskin pada
kedudukan yang sama. bila mereka diabaikan mereka cenderung terlibat
pada gerakan-gerakan sosial, agama atau politik yang ekstrim. fakta
sejarah membuktikan bahwa petani gurem, nelayan, dan buruh cenderung
lebih mudah teragitasi dan terprovokasi untuk melawan otoritas.
- Temuan dilapangan menunjukan bahwa lembaga-lembaga lokal yang ada di
dalam masyarakat dapat berfungsi untuk menjembatani dan menghubungkan
dengan orang atau pihak luar. Lembaga lokal itu secara nyata terbukti
memainkan peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Adalah kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi lemaba-lembaga lokal itu
sehingga dapat digunakan sebagai saluran bertindak untuk meningkatkan
kemakmuran masyarakat.
- Lembaga sosial baru dapat didirikan dibawah bimbingan dan fasilitas
departemen tertentu. Misalnya, departemen pertanian, departemen
kesehatan, dan departemen lainnya. Lembaga-lembaga sosial itu dapat
dipergunakan sebagai agen perubahan dalam pembangunan.
- Banyak masalah harus dipecahkan. Masalah pertama adalah bagaimana
caranya meningkatkan derajat partisipasi masyarakat miskin di dalam
lembaga-lembaga sosial. Kedua, bagaimana cara mengubah sikap mentalwarga
khususnya penduduk miskin. Ketiga, bagaimana caranya agar tumbuh
dikalangan penduduk miskin etos kerja yang tinggi dan virus N Ach (need
for achievement). Keempat, bagaimana agar lemabaga sosial yang ada bukan
menguntungkan the haves saja tetapi dapat berfungsi untuk meningkatkan
distribusi pendapatan, meningkatkan ras keadilan dan dapat meningkgatkan
kepedulian bersama atas masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
Pendapat
lainnya menurut Sholeh Dosen Ekonomi Universitas Yogyakarta dalam
artikel ilmiahnya yang berjudul “Kemiskinan:Telaah dan beberapa Strategi
penaggulangannya”, Untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia
perlu diketahui faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan atau
mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat kemiskinan (jumlah penduduk
miskin) di Indonesia sehingga kedepannya dapat diformulasikan sebuah
kebijakan publik yang efektif untuk mengurangi tingkat kemiskinan di
negara ini dan tidak hanya sekedar penurunan angka-angka saja melainkan
secara kualitatif juga.
Strategi
dan kebijakan alternatif yang berpihak kepada rakyat miskin, option for
the poor menjadi kebutuhan mutlak menanggulangi kemiskinan. strategi
dan kebijakan alternatif menanggulangi kemiskinan desa dapat dilakukan
dengan cara memberikan kesempatan yang luas kepada masyarakat untuk
memperoleh layanan pendidikan yang memadai, redistribusi lahan dan modal
pertanian yang seimbang, mendorong perkembangan investasi pertanian dan
membuka kesempatan yang luas kepada masyarakat untuk memperoleh kredit
usaha yang mudah, memperkenalkan sistem pertanian modern dengan
teknologi baru yang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menggali
sumber-sumber pendapatan yang memadai,memperkuat komitmen eksekutif dan
legislatif untuk memperbaiki tatanan pemerintahan dan mendorong agenda
pembangunan daerah memprioritaskan pemberantasan kemiskinan sebagai
skala prioritas yang utama. Kebijakan dan program yang memihak orang
miskin perlu difokuskan kepada sektor ekonomi riil dan harus menggunakan
paradigma keberpihakan kepada orang miskin.
Kesimpulan
- Kemiskinan adalah suatu situasi dimana seseorang atau rumah tangga
mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar, sementara lingkungan
pendukungnya kurang memberikan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan
secara berkesinambungan atau untuk keluar dari kerentanan.
- Konsep kemiskinan dan kesejahteraan yang baru diperlukan untuk
menghubungkan aktivitas pemantauan dan perencanaan secara lebih baik.
Ciri khas lokal, kepentingan pemerintah daerah, dan persepsi masyarakat
tentang kemiskinan dan kesejahteraan dipelajari melalui studi kehidupan
masyarakat secara mendalam, lokakarya pemerintah, dan analisis
kebijakan.
- Faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan menurut Hartomo dan
Aziz dalam Hudayana (2009:28-29) yaitu; Pendidikan yang Terlampau
Rendah, Malas Bekerja, Keterbatasan Sumber Alam, Terbatasnya Lapangan
Kerja, Keterbatasan Modal, dan Beban Keluarga.
- Kartasasmita dalam Rahmawati (2006:4) mengemukakan bahwa, kondisi
kemiskinan dapat disebabkan oleh sekurang-kurangnya empat penyebab,
diantaranya yaitu; Rendahnya Taraf Pendidikan, Rendahnya Derajat
Kesehatan, Terbatasnya Lapangan Kerja, dan Kondisi Keterisolasian.
- Strategi penanggulangan kemiskinan oleh pemerintah menurut buku
analiis data kemiskinan Kementrian sosial RI dan BPS (2012 : 62-69)
Program-program penanggulangan kemiskinan di Indonesia dibagi ke dalam 4
klaster, yaitu: 1) Klaster-1 merupakan program perlindungan sosial
berbasis keluarga berupa bantuan siswa miskin, JAMKESMAS, raskin, PKH,
BLT, dan lain-lain. 2) Klaster-2 merupakan program-program pemberdayaan
masyarakat, seperti PNPM mandiri yang bertujuan memberikan perlindungan
dan pemenuhan hak atas berpartisipasi, kesempatan kerja dan berusaha,
tanah, sumber daya alam, dll. 3) Klaster-3 merupakan program
pemberdayaan UMKM, seperti KUR dan UMKM. 4) Klaster-4 termasuk program
rumah sangat murah, program kendaraan angkutan umum murah, program air
bersih untuk rakyat, program listrik murah dan hemat, serta program
peningkatan kehidupan nelayan, dan program peningkatan kehidupan
masyarakat miskin perkotaan.
- Strategi dengan mengkaji karakteristik kemiskinan dan kesejahteraan
keluarga di berbagai daerah di Indonesia Menurut Cahyat (2007:11) ada
Tiga tingkat kondisi yang perlu dipantau dalam mengkaji kemiskinan dan
kesejahteraan keluarga: (1) Kesejahteraan subjektif (subjectivewellbeing
atau disingkat SWB), (2) Kesejahteraan inti (kebutuhan dasar, seperti
kekayaan materi, pengetahuan dan kesehatan), dan (3) Lingkungan
pendukung (konteks).
- Strategi Penanggulangan Kemiskinan Menurut Akademisi; Menururut
Slamet Dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret alternatif pemecahan
masalah kemiskinan adalah dengan pendenkatan modal sosial. modal sosial
dapat diciptakan melalui pembangunan institusi-institusi sosial.
Institusi sosial memungkinkan terbentuknya modal sosial yang pada
gilirannya dapat mengentaskan kemiskinan. Selain itu, Menurut Sholeh
Dosen Ekonomi Universitas Yogyakarta Kebijakan dan program yang memihak
orang miskin perlu difokuskan kepada sektor ekonomi riil dan harus
menggunakan paradigma keberpihakan kepada orang miskin.
Saran
- Sebagai generasi muda harus memiliki jiwa wirausaha sehingga bisa
membuka lapangan pekerjaan dan membantu pengentasan kesmiskinan
- Perlu adanya kajian mendalam mengenai karakteristik kemiskinan di
setiap daerah sehingga penanggulangan kemiskinan dapat berjalan dengan
baik dan tepat sasaran.
- Pemerintah harus fokus dalam mengatasi masalah penanggulangan
kemiskinan dan membuat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin.
Daftar Pustaka
- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2004.
- Barrientos, A.2010. Social Protection and Poverty. Social Policy and
Development Programme Paper Number No. 42. E-paper. United Nations
Research Institute for SocialDevelopment.
- Cahyat, A., Gönner, C. dan Haug, M. 2007. Mengkaji Kemiskinan dan
Kesejahteraan Rumah Tangga: Sebuah Panduan dengan Contoh dari Kutai
Barat, Indonesia. CIFOR, Bogor, Indonesia.
- Kementrian Sosial Republik Indonesia dan Badan Pusat Statistik.
2012. Analisis Data Kemiskinan Berdasarkan Data Pendataan Program
Perlindungan Sosial (PPLS) 2011.
- Martono, N. 2014. Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik,
Modern, Posmodern, dan Poskolonial-Ed.Revisi-Cet.3. Jakarta: Rajawali
Pers.
- Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 96 Tahun 2015 Tentang percepatan penanggulangan kemiskinan.
- Slamet, Y.2012. Modal Sosial dan Kemiskinan Tinjauan Teoritik dan
Kajian dikalangan Penduduk Miskin di Perkotaan.Surakarta: UNS Press.
- Sumodiningrat, Gunawan, 1998, Membangun Perekonomian Rakyat, Pustaka
- Pelajar, Yogyakarta
- World Bank Institute. 2005. Introduction to Poverty Analysis: Poverty Manual. World Bank Institute.
Karya Ilmiah:
- Hudaya, Dadan. 2009. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Indonesia. Skripsi: Institut Pertanian Bogor.
- Rahmawati, Y.I.2006. Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi
Kemiskinan Rumah Tangga di Kabupaten Pcitan Provinsi Jawa Timur.
Skripsi: Program Studi Pertanian dan Sumberdaya, Faultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
- Slamet, Y. Kemiskinan Petani Pedesaan, Analisis Mengenai Sebab-Sebab
dan Alternatif Pemecahannya. Seminar Nasional Laboratorium Sosiologi:
Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sebelas Maret.
- Sholeh, M. Kemiskinan :Telaah dan beberapa Strategi
penaggulangannya.Pendidikan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi:
Universitas Negeri Yogyakarta.
- Suryawati, C. 2005. Memahami Kemiskinan Secara multidimensional. JMPK Vol.8/No.03/September/2005.
Internet:
www.sindonews.com
 |
| Karya: Syamsul Bakhri, Pengurus Braindilog Sociology |