Buku Karya Braindilog

Berisi mengenai kajian analisis sosial dengan pendekatan konsep teori tokoh Sosiologi Indonesia.

Braindilog

Merupakan sebuah konsep dan metode diskusi yang di lakukan dengan tahapan Brainstorming, Dialectic, dan Logic dari teori atau permasalahan sosial yang didiskusikan.

Braindilog Sosisologi Indonesia

Mengawal Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia menuju otonomi teori Sosiologi Indonesia yang berlandaskan nilai, norma, dan kebermanfaatan masyarakat Indonesia.

Gerakan Otonomi Teori Sosiologi Indonesia

Sayembara menulis artikel sosiologi Indonesia adalah upaya Braindilog Sociology dalam menyebarluaskan gagasan otonomi teori sosiologi Indonesia.

Braindilog Goes To Yogyakarta

Diskusi Lintas Komunitas bersama Joglosonosewu dan Colombo Studies di Universitas PGRI Yogyakarta dengan tema "Konflik Horisontal Transportasi Online". Selain dihadiri komunitas, acara ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan mahasiswa dari masing-masing kampus di Yogyakarta.

Selasa, 01 Juni 2021

KEKERASAN ALIENATIF DALAM TERORISME DI INDONESIA MENURUT KACAMATA SOSIOLOGI


Terorisme merupakan suatu kegiatan yang dapat berupa intimidasi, kekerasan atau perlakuan brutal yang dilakukan dengan latar belakang, tujuan, serta motif tertentu. Terorisme sendiri bermula dari peristiwa Revolusi Prancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Terorisme biasanya dilakukan dengan cara meneror target agar sang target merasa terancam. Tujuan dari terorisme dibedakan menjadi tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Dalam tujuan jangka panjang,  terorisme dilakukan untuk menimbulkan perubahan dramatis dalam pemerintahan seperti revolusi dan peperangan saudara atau peperangan antar negara. Dalam tujuan jangka pendek, terorisme dilakukan untuk memperoleh pengakuan lokal, memicu reaksi pemerintah, melemahkan militer, membalaskan dendam, dan yang terakhir adalah untuk membebaskan tawanan yang menjadi kelompok mereka.

Di Indonesia, terorisme dapat dilakukan oleh pihak luar, maupun oleh pihak dalam. Sering kali, terorisme dari pihak dalam dilakukan oleh suatu golongan yang ingin memiliki pengakuan lebih tinggi dibandingkan golongan lainnya. Ciri-ciri dalam terorisme ini adalah pelaku merencanakan lalu melakukan tindakan kriminal untuk mencapai tujuan dan tidak mengindahkan norma yang berlaku. Dengan adanya terorisme, tentu akan muncul stigma atau pandangan negatif terhadap suatu golongan. Stigma negatif ini dapat menimbulkan perpecahan berkelanjutan terhadap struktur sosial masyarakat Indonesia.

Contoh peristiwa terorisme yang terjadi di Indonesia adalah Bom Bali 1 dan 2. Bom Bali 1 terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002, hukuman yang diterima oleh para pelaku adalah penjara seumur hidup, sampai pidana hukum mati. Peristiwa pengeboman ini memakan korban meninggal dunia sebanyak 202 jiwa dan 209 orang luka-luka. Tak hanya sampai disitu, pengeboman Bali terjadi lagi pada tahun 2005 yang memakan korban sebanyak 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka. Selain itu, belum lama ini terjadi bom bunuh diri yang bertempat di Gereja Katedral Makassar, 28 Maret 2021 lalu. Pelaku bom ini adalah pasangan suami istri yang salah satunya merupakan anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Meskipun gagal memasuki gerbang gereja, belasan korban termasuk petugas keamanan gereja mengalami luka-luka. Bom bunuh diri bukanlah hal baru, hal ini kerap terjadi dan membuat kita sadar akan adanya ancaman atas kemanusiaan ini.

Bom bunuh diri merupakan perilaku yang termasuk kekerasan alienatif. Kekerasan alienatif sendiri adalah kekerasan yang merujuk pada pencabutan hak-hak individu yang lebih tinggi, seperti hak pertumbuhan kejiwaan, budaya atau intelektual. Philip Zimbardo, dalam tulisannya mengenai teori deindividuasi (Zimbardo, 2004) menyatakan bahwa lingkungan sekitar berpengaruh kuat dalam pembentukan perilaku individu dan pernyataan ini dapat menjadi sebab seseorang melakukan tindak terorisme. Dalam kajian sosiologi, terorisme termasuk penyimpangan sekunder karena kegiatan ini dapat menghilangkan nyawa orang lain yang bahkan tidak dikenal. Terorisme juga termasuk masalah sosial karena menyebabkan keresahan dalam masyarakat dan harus diberantas demi kesejahteraan bersama.

Terorisme sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Selain menimbulkan stigma negatif terhadap golongan tertentu, kekerasan alienatif berupa pengucilan dapat terjadi terhadap orang yang memakai niqāb atau berjanggut. Hal ini dikarenakan masyarakat menganggap cara berpenampilan orang tersebut identik dengan suatu golongan yang diketahui melakukan terorisme di Indonesia. Sangat disayangkan jika stigma ini terus di tanamkan, padahal belum tentu semua orang yang berasal dari golongan tersebut, bersifat sama atau memiliki niat yang jahat. Masyarakat di Indonesia sendiri harus pintar menilai satu sama lain, dengan tetap berjaga-jaga.

Terorisme merupakan sesuatu yang harus dicegah dan dihadapi bersama-sama. Kesadaran masyarakat turut diperlukan dalam menanggulangi terorisme di Indonesia. Berbagai cara termasuk membuat undang-undang tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, serta melatih TNI dan Polri sudah dilakukan. Bom bunuh diri yang sudah terjadi, harus dijadikan pelajaran bagi kita semua. Jangan sampai kita terpecah belah hanya karena sikap egoistik para teroris yang hanya ingin mengambil keuntungan dari apa yang mereka lakukan. Bhinneka Tunggal Ika! Damai selalu, Indonesiaku. 

DAFTAR PUSTAKA

TEROR, TERORISME, DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA. (2014). http://eprints.undip.ac.id/. Diakses pada tanggal 14 April 2021, dari http://eprints.undip.ac.id/38355/3/BAB_2.pdf.

Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Pendekatan Kebijakan Kriminal). (2017). https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/snh. Diakses pada tanggal 14 April 2021.

TERORISME. (2001). http://ditpolkom.bappenas.go.id/. Diakses pada tanggal 14 April 2021, dari http://ditpolkom.bappenas.go.id/basedir/Politik%20Luar%20Negeri/1)%20Indonesia%20dan%20isu%20global/3)%20Terorisme/Terorisme.pdf.

Bom Bali 2002. (2021). https://id.wikipedia.org/. Diakses pada tanggal 14 April 2021, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2002.

Bom Bali 2005. (2017). https://id.wikipedia.org/. Diakses pada tanggal 14 April 2021, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2005.

Bom Bunuh Diri di Gerbang Katedral Makassar dan Ancaman Teror Serentak. (2021). https://www.kompas.com/. Diakses pada tanggal 14 April 2021, dari https://www.kompas.com/tren/read/2021/03/30/090623665/bom-bunuh-diri-di-gerbang-katedral-makassar-dan-ancaman-teror-serentak?page=all

Karya: Andriani Aristiara Mahardhika Sari

SMAN 66 Jakarta

Juara Harapan 3 Olimpiade Sosiologi (OSUM) 2021



Selasa, 13 April 2021

Tesis-Antitesis Sosiologi Kritis Dan Post-Kolonial

Jurang pemisah antara akademisi dengan tatanan kehidupan masyarakat seolah menjadi anti-tesis yang belum terungkap hingga sekarang. Literatur kajian akademisi di Indonesia mayoritas berkiblat pada teori dan metodologi barat. Sedangkan dosen dan para mahasiswa dipaksa untuk melihat gejala yang terjadi di Indonesia yang tentu sangat bertentangan dengan pelajaran yang diajari dibangku-bangku kuliah. Sementara orang Indonesia atau orang timur banyak nilai-nilai yang bertolak dengan nilai-nilai barat.

Apalagi jauh dari kultur barat yang cenderung bebas (liberal). Oleh karenanya, muncul tesis-antitesis dalam membangun rancangan berpikir ilmiah yang kadang guncang oleh infrastruktur-infrastruktur pemikiran barat dalam penerapannya di Indonesia. Hampir semua buku, tokoh, rujukan dan sebagainya menganut kepada pemikiran barat.

Aliran Frankfurt didalam memaknai sosiologi kritis, bukan hanya ditentukan oleh struktur tapi juga ditentukan oleh individu. Individu juga punya peluang dan kebebasan dalam menentukan kehidupan ditengah masyarakat.

Realitas sosial tidak hanya hitam dan putih tapi juga penggabungan hitam dan putih. Emansipatoris misalnya, menjadikan perempuan sebagai objek dalam mengerjakan tugas berat-berat yang hanya bisa dikerjakan oleh laki-laki, Seperti: kuli bangunan, las besi konstruksi bangunan dan semisalnya. Walaupun tidak menampik terkadang perempuan tangguh mampu melakukannya.

Kontribusi atau sumbangan dari struktur terhadap perubahan sosial atau perubahan masyarakat terjadi karena ada unsur-unsur yang saling melengkapi. Menurut Bourdieu (2004) kaum post-kolonial terbagi dua: eksternalisasi interior dan internalisasi interior.

Sosiologi Kritis

Sosiologi kritis adalah teori kritik terhadap praktek ditengah masyarakat. Membebaskan manusia dari penipuan dan kepalsuan dari para teknokrat modern yang mendominasi. Membongkar analogi-analogi tersembunyi teori kontemplatif yang seolah-olah objektif pada hal yang sebenarnya tidak objektif. Objektivitas dibentuk dalam rangka melegitimasi dan melindungi kepentingan kekuasaan.

Sosiologi kritis atau disebut juga sosiologi skeptis. Mereka menentang value free (bebas nilai). Sulit dalam penelitian sosial yang objek penelitiannya masyarakat peneliti bebas dari nilai. Nilai bentuk pertanggungjawaban ilmiah para sosiolog dari nilai-nilai universal kehidupan manusia. Peneliti terikat dengan nilai dalam masyarakatnya. Sulit menjadi bebas nilai melainkan sarat dengan nilai-nilai.

Teori sosiologi kritis melahirkan praksis emansipasi bebas dari penderitaan fisik dan pembelengguan ideologi, seperti tokoh-tokoh sosiologi kritis modern: C. Wright Mills, Daniel Beli, Peter L. Berger, Raymon Aron, Ralf Dahrendorf, Barrington More, dan Pierre Bourdieu.

Inti pemikirannya tentang praksis sosial. Praksis adalah implementasi dari teori. Kadang-kadang praktik sosial tidak ada teorinya. Praksis sosial adalah dialektika antara internalisasi eksterior dan ekternalisasi interior.

Internalisasi eksterior adalah ketika seseorang menyerap menginternalisasi dunia di sekelilingnya. sedangkan Eksternalisasi interior ialah ketika seseorang mengungkapkan hasil pemahaman atau persepsinya dari interaksi dengan orang lain.

Dari luar kita serap ke dalam dan dari dalam dan  di ekspresikan keluar. Hidup kita sehari-hari isinya hanya dua: kita serap kedalam dan kita ekspansi ekspresi keluar.

Sedangkan istilah Distinction merupakan tindakan membedakan diri seseorang untuk menunjukkan kelasnya dalam masyarakat. beda halnya dengan Resistance yang mengartikan dirinya kelompok bawah yang ingin menunjukkan perbedaan dengan kelas atas, contoh kelas bawah lebih suka menggunakan motor lama dengan membuat lebih unik atau masih mempertahankan vespa lama dengan melakukan modifikasi menambah pipa dan barang-barang bekas bergelantungan.

Contoh lain, di Pesantren-pesantren Jawa, tidak sedikit Kiai yang memakai sarung dan setelah jas ketika berceramah. Padahal jas bukanlah mencirikan pakaian islam. Atau kelas atas yang memakai pakaian bermerk seperti levis.

Orang yang tidak mampu terkadang sering melakukan resistance, sedangkan orang yang merasa hebat melakukan distinction. Contoh ia tidak bisa mengoperasional laptop mengatakan tidak menarik menggunakan laptop sementara bagi yang pintar mengoperasionalkan laptop memperlihat ia lebih hebat dalam penggunaan laptop. Jadi yang pertama melakukan tindakan resistance dan yang kedua memperlihatkan distinction.

Namun, kedua istilah tersebut belum lengkap jika tidak ada Hibrinitas. Hibrinitas seperti pakaian campuran, orang islam secara umum ketika menikah mengadopsi pakaian Kristen (perempuan yang gaun putih panjang sampai kelantai).

Merujuk ke Homi Bhaba, ada tiga konsep yang dipergunakan dalam menjelaskan post-kolonial yaitu: Hibrinitas, Ambivalensi, Mimikri. Hibriditas merupakan budaya campuran yang biasanya diadopsi dari Negara jajahan. Budaya penjajah dan dijajah.

Bukan dua atau beberapa budaya, kemudian terjadi pertemuan atau terjadi percampuran budaya. Tetapi beberapa budaya terpisah secara jelas dan tegas yang diciptakan lewat wacana kolonial. Ada sisi yang begitu keren berlaku yang dipraktekkan dalam masyarakat. seperti Negara jajahan yang hingga kini masih diadopsi warga Indonesia, seperti: pemakaian gelar haji, salam cium tangan dengan menundukkan badan. Ini merupakan bekas peninggalan Belanda yang masih lestari hingga kini. Padahal dalam islam seseorang yang sudah haji tidak ada syariat yang menunjukkan harus diberi gelar nama didepan nama seseorang, seolah gelar haji menjadi tanda kesholehan seseorang atau suatu nilai yang lebih tinggi didalam masyarakat. begitu juga dengan salam cium tangan orang tua yang ada boleh cium tangan (orang tua) tanpa menundukkan badan (ketika cium tangan diangkat tangan orang tua tanpa harus menundukkan badan).

Sedangkan mimikri, bagaimana negara jajahan meniru apa yang dilakukan oleh negara jajahan. Tetapi pikirannya tidak benar-benar sama. Mimikri (imitasi) ialah peniruan tetapi tidak benar-benar sama. Penipuan yang berlebihan sehingga mengesankan mengejek. Jadi, mimikri sesuatu yang mengancam dari negara jajahan, meniru gaya hidup orang Eropa dan Amerika dalam hal pergaulan dan prinsip hidup serta memilih pasangan hidup. Hal ini akan menjadi ancaman, oleh karena itu mereka belum bisa menerima tiruan dari rakyat negara jajahan.

sedangkan ambivalensi lebih pada konteks wacana kolonial. Ambivalensi yaitu kepura-puraan atau keraguan yang diwacanakan. Negara kolonial menginginkan negara yang dijajah sama dengan negara mereka tetapi mereka tidak menginginkan benar-benar sama. Seperti Negara kolonial menginnginkan Negara yang dijajah rakyatnya menjadi sama peradaban dengan mereka, tetapi kolonial menjadi cemas dan takut kalau Negara jajahan beradab maka mereka tidak bisa menjajah lagi.

lalu timbul pandangan dari Benedict Anderson yang mencoba memahami perkembangan budaya Jawa tanpa harus menelusuri bagaimana situasi yang terjadi pada masa kolonial Belanda. Tatanan bahasa jawa sebelumnya tidak ada, itu diperkuat pada masa kolonial, kenapa? Karena zaman kolonial, kraton kehilangan kekuasaan yang nyata, sehingga kraton membutuhkan kekuasaan yang simbolis, caranya dengan membangun tembok dengan memperkuat hierarki bahasa. Jadi menurut Anderson, budaya kraton sekarang ini seperti bahasa kromo bis saja yang pengaruhnya masih dari kolonialisme.

Relasi kekuasaan global menjadi suatu yang bermasalah dan tidak sederhana. Seringkali ada kesadaran ketidak-adilan yang sering terjadi dan hal demikian menjadi perlawanan. Seperti di Pesantren satu sisi harus melawan kolonialisasi, tetapi sisi lain memakai cara berbahasa kaum kolonial atau bahasa inggris yang mana hal ini gambaran dari ambivalensi. Intinya, tinggal bagaimana media masssa mengubah pola lama menjadi pola baru dalam membentuk kondisi yang lebih sesuai dengan kearifan lokal Indonesia tanpa unsur ada lagi unsur jajahan Belanda.

Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Magister Sosiologi UNAND



Minggu, 03 Januari 2021

Hipperreality: Masyarakat Siber, Gadget dan Alienasi

Dewasa ini, konsumsi bukan hanya dikaitkan dengan kebutuhan nutrisi secara biologis tetapi lebih dari itu, yakni sebuah pendekatan ideologi, cara pandang, dan sistem nilai yang secara keseluruhan didorong oleh ideologi konsumerisme. Meminjam istilah dari Sosiolog Amerika Robert G. Dunn, konsumerisme sebagai sebuah ideologi yang merayu orang-orang masuk pada sistem produksi massal. Melihat perilaku individu mengonsumsi bukan hanya sebagai praktik tetapi tujuan yang menjadi dasar identitas dan pemaknaan tentang diri.

            Fenomena yang cukup dekat dengan kita dengan hadirnya aneka peralatan elektronik yang mengakibatkan gaya hidup digital. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, Jean Baudrillard menyebutkan bahwa masyarakat kontemporer saat ini berada pada era postmodern, suatu kondisi dimana masyarakat tidak lagi memandang apa yang sebenarnya dibutuhkan, tetapi lebih mengedepankan prestise dan gaya hidup sebagai citra diri dari apa yang dibutuhkan. Kehadiran seperti gadget yang merupakan sebuah benda yang digerakkan oleh seperangkat mesin yang menjadi lambang dari masyarakat industri bahkan menjadi post-industri.

            Dalam kenyataannya gadget menjadi sebuah alat konsumsi melalui hilangnya secara relatif fungsi objek (sebagai alat rumah tangga) demi sebuah fungsi tandanya (menjadi hal yang berguna). Tetapi penggunaan gadget sebagai fungsi tanda menimbulkan dehumanisasi pada tubuh masyarakat. Mengingat saat ini juga dunia memasuki era revolusi industri 4.0, yang menandakan bahwa tidak ada satu pun sudu di dunia yang tidak luput dari dampak dan perubahan yang diakibatkan dari disrupsi teknologi ini.

Perubahan Komunikasi dan Budaya

Kehilangan identitas diri di dalam kehidupan yang nyata kemudian akan membawa seseorang ke dalam situasi terjebak dengan kondisi apa yang disebut dengan cybercommunity atau masyarakat siber. Teknologi media baru yang sangat giat digunakan menjadi sebuah arena untuk mencari identitas dan membentuk sebuah citra diri. Arus perkembangan teknologi inilah yang menjadikan manusia lupa terhadap realitas sosial yang sesungguhnya dan membawa efek negatif bagi kehidupan manusia di dunia nyatanya. Hal ini dikarenakan mereka terkungkung ke dalam realitas semu yang disebut dengan hiperalitas (hypereality).

Dunia hiperalitas merupakan dunia dimana sebagai simulakrum, yang dimana semua penampakan yang didapatkan merupakan sebuah objek yang tercabut dari realitas sosialnya, atau sama sekali tidak mempunyai realitas sosial. Teknologi yang seharusnya menjadi alternatif mendekatkan yang jauh menjadi sebuah kenyataan yakni menjauhkan yang dekat. Masyarakat terutama generasi yang disebut dengan generasi Z menjadi pengguna yang sangat aktif, generasi yang lahir dimana teknologi sudah berada di lingkungannya (digital native). Berdasarkan pengamatan penulis dalam menggunakan media sosial generasi ini menjadi pelaku utama dalam menerapkan perilaku masyarakat siber.

Masyarakat siber atau masyarakat maya, atau yang sering disebut dengan warganet/Netizen memiliki cara tersendiri dalam berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan merupakan suatu proses interaksi simbolik. Memberikan tanda-tanda dan simbol bukan hanya berupa pesan teks secara langsung. Kajian interaksi simbolik seperti yang diketahui tertarik pada cara manusia menggunakan simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, juga pengaruh yang ditimbulkan oleh penafsiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi sosial.

Kita bisa melihat perilaku dari masyarakat siber ini dalam penggunaan media-media baru. yang saat ini menjadi primadona. Instagram, Twitter, Tiktok bahkan aplikasi lainnya yang diunduh jutaan kali oleh pengguna gadget. Terutama instagram, instagram agaknya merupakan salah satu media baru yang ikut menyumbangkan sebuah kebiasaan baru dalam menciptakan masyarakat siber. Aplikasi-aplikasi seperti ini mendorong perilaku masif bagi penggunanya untuk melakukan segala aktifitas di dalamnya.

Saya mencoba melakukan serangkaian observasi singkat terhadap beberapa remaja dalam aktivitasnya menggunakan sosial media Instagram. Saya mencoba melihat perilaku remaja yang selama ini aktif berselancar di dunia instagram. Mereka yang menjadi pengguna aktif dengan beberapa alasan tertentu. Alasan-alasan ini biasanya dipengaruhi oleh dorongan atas keinginan dari remaja tersebut dan juga dari pengaruh lingkungannya. Dorongan ini didukung karena menganggap instagram sebagai ruang publik bagi remaja. Remaja dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggunakan aplikasi sosial media instagram. Mereka dengan leluasa menggunakan aplikasi tersebut, entah untuk mengunggah atau berbagi cerita, foto, video, atau hanya sekadar memberikan komentar di akun teman mayanya.

Media baru seperti ini merupakan sebuah hibridasi dari kemampuan media-media konvensional yang selama ini kita kenal. Sehingga hal ini dapat membentuk media dengan dimensi ganda. Seperti yang dikatakan Holmes dalam bukunya “Virtual Politics: Identity & Community Cyberspace” mengungkapkan bahwa ruang maya merupakan dunia dimana terbentuk nilai budaya yang terbentuk melalui interaksi keseharian diantara penggunanya melalui mediasi teknologi. Ruang siber ini memungkinkan terjadinya pertukaran makna dan membentuk sebuah realitas dan identitas baru di dalam penggunanya.

Alhasil, perubahan wujud komunikasi ini merupakan determinasi dari sebuah kemajuan sosial. Tetapi di satu sisi, penemuan teknologi informasi ini juga memberikan dampak pada perubahan sosial hingga perubahan terkecil yakni perilaku  pada diri individu.

Dari Konsumerisme Menuju Alienasi

Hingga pada akhirnya, pencaharian identitas yang melibatkan penggunaan atas teknologi mutakhir menciptakan kelas masyarakat maya. Perilaku-perilaku pengguna sosial media didukung oleh pembaharuan yang dilakukan oleh pengelola media sosial. Kecanggihan ini membuat para pemakai mendapatkan segalanya ketika mereka aktif melakukan interaksi di dalamnya. Aktivitas simpelnya ialah seperti kolom komentar, pesan langsung, jumlah follower dan fitur-fitur lain yang ada di dalamnya. Mereka yang telah terkungkung oleh kenikmatan arus sosial media akan merasakan kesenangan jika mendapatkan komentar yang beragam di sosial media, menampilkan unggahan foto atau video yang dirasakan menarik dan memantik banyak komentar.

Tentu hal ini menciptakan sebuah kebiasaan baru di kalangan masyarakat maya, terutama masyarakat maya dengan rentang usia remaja yang memiliki kemungkinan lebih besar teralienasi di dunia nyatanya. Aktualisasi dan eksistensi diri menjelma di dalam masyarakat jaringan (Network Society), gejala yang asyik sendiri tapi tidak merasakan kesepian. Hal inilah yang disebut dengan alienasi (keterasingan) sosial.

Agaknya dewasa ini, aplikasi media baru bertanggung jawab atas perubahan perilaku masyarakat terutama para remaja. Menciptakan kehidupan baru struktur masyarakat guna pemenuhan kebutuhan pencarian identitas yang berujung pada teralienasinya identitas diri seseorang di dalam realitas sosialnya. Alienasi seperti yang dikemukan oleh sosiolog klasik Karl Marx sebagai suatu keterasingan. Keterasingan ini merujuk pada alienasi diri dari keluarga, lingkungan benda, bahkan diri sendiri. Keterasingan yang diakibatkan dari penggunaan aplikasi media baru ini membuat kita semakin jauh dari realitas-realitas manusia sebagai makhluk individu maupun sosial. Semua yang dilakuan di dalam aktifitas onlinenya merujuk pada kesadaran palsu saja.

Seperti yang diungkapkan oleh Karl Marx terkait konsep kesadaran ini adalah “Bukan kesadaran seseorang yang menentukan keberadaannya, melainkan keberadaan sosial yang menentukan keberadaanya”. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa masyarakat siber keberadaanya sudah direpresentasikan oleh media internet. Hal ini tentu telah membentuk sebuah kultur dan sebuah kehidupan sosial sendiri

Dunia teknologi informasi akan terus berkembang seiring penggunaan internet yang tumbuh secara pesat. Alienasi atau keterasingan ini akan terus melanda bagi mereka yang menciptakan kehidupan sosial di media sosial atau ruang maya. Aktualisasi di media online menjadi penanda sosial bahwa di kehidupan nyata esensi diri seseorang akan tergerus. Para generasi yang terus mengakses dan mengaplikasikan gadget sebagi fungsi tanda membutuhkan usaha yang lebih keras agar kedua dunia yang mereka lakukan seimbang dan tidak terjebak dalam masyarakat siber yang semu.

 

Karya: Alfin Dwi Rahmawan

Sosiologi Universitas Bangka Belitung


Minggu, 20 Desember 2020

Perspektif Paradigma Integratif dalam Sosiologi

Interaksi individu dengan individu lain merupakan kunci dasar membangun relasi sosial bermasyarakat. Persepsi, sudut pandang menjadi organ vital dalam mengetahui setiap sisi individu. Seperti yang dikatakan Abraham Lincoln, Zoon Politicon - makhluk yang saling membutuhkan.

Sudut pandang setiap individu tidak pernah sama. Setiap rangsangan dan pengaruh dari eksternal membentuk sikap dasar setiap individu. Sikap individu, emosi individu, dan kemampuan mengembangkan kapasitas individu selalu dipengaruhi oleh alam sekitar atau rangsangan dari lingkungan.

Eksistensi keberadayaan individu tidak lepas dari pengaruh kebudayaan, setiap budaya muncul dari ragam alam yang mengakar dari masa ke generasi. Kemampuan menjamah dan beradaptasi dari budaya sebagai cerminan bahwa individu selalu tumbuh dan dewasa dari tradisi warisan budaya orang tua. Walaupun tidak secara langsung orang tua mengajarkan tapi secara perspektif dan cara hidup merupakan pengaruh budaya dari masa ke masa berikut.

Memberdayakan individu bukan dibentuk satu malam tapi dibangun dari puing-puing integral yang selalu tumbuh dari rasa kasih menyanyangi, rasa peduli-sesama dan rasa berbagi terhadap derita maupun suka. Maka, dari situ lahir jiwa yang membudaya secara naluriah individu yang terbenam dalam kelompok.

Struktur, politik, ekonomi dan sosial merupakan entitas primer yang melengkapi aspek dari kehidupan setiap individu. System politik, system ekonomi, dan kelompok pada masyarakat sebagai garda tombak dalam melihat kesejahteraan suatu masyarakat. Bukan pada individu, pada kelompok suatu nilai menjadi tersosialisasi ke dalam tatanan norma dan nilai.

Termasuk pengaruh psikologi, para sosiolog bersepakat menjadikan ilmu jiwa sebagai pintu kedua untuk memahami dinamika yang terjadi ditengah masyarakat, terkhusus memahami individu.

Merupakan satu hal yang terpengaruh oleh ilmu alam, diantaranya sosiologi dan psikologi. August Comte selain sebagai sosiolog juga seorang fisikawan yang menguasai rumus-rumus inti.

Keteraturan sosial kata Comte, hanya bisa diraih dengan menyeimbangkan ilmu alam dengan ilmu sosial. Hal penting untuk mempelajari karakter alam adalah dengan memahami hubungan sebab-akibat dari pengetahuan ilmu alam yang berupa angka hasil pasti. Tidak sama dengan ilmu sosial yang caranya boleh berbeda tapi hasil tetap sama. Seperti, dua ditambah dua adalah empat. Bisa juga, satu ditambah tiga adalah empat.

August Comte, mencoba mengkaji memperbaiki sistem politik masyarakat ketika itu dengan memadukan sainstis dengan humaniora. Alhasil, dapat memperbaiki orang-orangnya ketika itu.

Selain berdiskusi banyak, individu harus berpikir sistemik berdasarkan paradigma integrative. Teori sosiologi Modern pada abad ke-19 telah berkontribusi terhadap pengembangan nalar individu-kelompok menjadi basis menangkap fakta sosial dari berbagai paradigma. Konsep, teori dan gagasan merupakan makna tercatat dalam sejarah pemikiran para sosiolog dunia.

Gagasan ideal tentang suatu diskursus selalu menjadi pusat perhatian mayoritas sosiolog. Selain teori yang didefinisikan sebagai penjelas realitas sosial, juga mengandung konsep dua variabel yang saling berkait-mengait

Doyle Paul Johnson, sosiolog klasik meringkas definisi konsep sebagai kata yang memberikan makna. Jadi setiap kata berperan terhadap suatu makna. Konsep adalah kata yang diberikan makna. Konsep adalah variable yang telah diberi variasi nilai. Setiap variable adalah konsep.

Pemberian makna berbeda dengan variable. Variabel menyangkut variabel independent dan variabel dependent. Hal yang dijelaskan berhulu pada hubungan antar variabel. Seperti, Teori sosiologi bukan teologi yang bersifat mutlak tapi sebagai guiden dalam merumuskan suatu masalah.

Pola relasi merupakan  salah satu penjelasan tentang interaksi. Teori sosiologi lahir berdasarkan hasil penelitian.  Penelitian dibangun dari temuan-temuan yang dilapangan yang tidak semestinya terjadi. Seorang ahli sosiolog selalu diminta kritis mempelajari teori.

Grand teori misalnya, sebagai matahari yang menyentuh keadaan sekitar. Misal suatu masalah yang diteliti tentang tingkat kemiskinan. Maka, teori fungsional structural menjadi petunjuk dalam menentukan arah berupa tujuan-tujuan khusus dari sebuah penelitian tentang tingkat kemiskinan. Dari hasil temuan dari beberapa penelitian, terdapat 12 indikator kemiskinan atas pertimbangan berbagai lembaga nasional maupun lembaga internasional.

Contoh lain, teori mikro, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bicara tentang pengelolaan ketahanan keluarga yang praktis. Maka, praktik yang perlukan dalam menyelesaikan masalah adalah komponen pendukung dari karakteristik ketahanan keluarga di suatu kecamatan.

Memberikan kerangka berpikir dalam asumsi yang dibangun tidak mesti didasarkan hipotesa sementara. Bisa juga dengan memprediksi hubungan sebab-akibat yang bisa saja terjadi. Analisis dari berbagai aspek dapat memudahkan memetakan polarisasi yang terjadi.

Pertimbangan sosiologis dalam membentuk naskah akademik menjadi landasan pokok dalam menggunakan teori sosiologi. Terdapat analisis sosiolog Emile Durkheim yang menjelaskan fakta sosial. Pertanyaannya, apa yang dianalisis? Dan bagaimana fenomena yang terkumpul dari masyarakat? begitupun sedikit persamaan dengan gagasan yang dikemukakan Max Weber tentang etika agama.

Semua saling persinggungan yang bersumbu pada realitas sosial, baik individu, kelompok maupun masyarakat secara garis besar.

Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Magister Sosiologi UNAND