Buku Karya Braindilog

Berisi mengenai kajian analisis sosial dengan pendekatan konsep teori tokoh Sosiologi Indonesia.

Braindilog

Merupakan sebuah konsep dan metode diskusi yang di lakukan dengan tahapan Brainstorming, Dialectic, dan Logic dari teori atau permasalahan sosial yang didiskusikan.

Braindilog Sosisologi Indonesia

Mengawal Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia menuju otonomi teori Sosiologi Indonesia yang berlandaskan nilai, norma, dan kebermanfaatan masyarakat Indonesia.

Gerakan Otonomi Teori Sosiologi Indonesia

Sayembara menulis artikel sosiologi Indonesia adalah upaya Braindilog Sociology dalam menyebarluaskan gagasan otonomi teori sosiologi Indonesia.

Braindilog Goes To Yogyakarta

Diskusi Lintas Komunitas bersama Joglosonosewu dan Colombo Studies di Universitas PGRI Yogyakarta dengan tema "Konflik Horisontal Transportasi Online". Selain dihadiri komunitas, acara ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan mahasiswa dari masing-masing kampus di Yogyakarta.

Minggu, 03 Januari 2021

Hipperreality: Masyarakat Siber, Gadget dan Alienasi

Dewasa ini, konsumsi bukan hanya dikaitkan dengan kebutuhan nutrisi secara biologis tetapi lebih dari itu, yakni sebuah pendekatan ideologi, cara pandang, dan sistem nilai yang secara keseluruhan didorong oleh ideologi konsumerisme. Meminjam istilah dari Sosiolog Amerika Robert G. Dunn, konsumerisme sebagai sebuah ideologi yang merayu orang-orang masuk pada sistem produksi massal. Melihat perilaku individu mengonsumsi bukan hanya sebagai praktik tetapi tujuan yang menjadi dasar identitas dan pemaknaan tentang diri.

            Fenomena yang cukup dekat dengan kita dengan hadirnya aneka peralatan elektronik yang mengakibatkan gaya hidup digital. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, Jean Baudrillard menyebutkan bahwa masyarakat kontemporer saat ini berada pada era postmodern, suatu kondisi dimana masyarakat tidak lagi memandang apa yang sebenarnya dibutuhkan, tetapi lebih mengedepankan prestise dan gaya hidup sebagai citra diri dari apa yang dibutuhkan. Kehadiran seperti gadget yang merupakan sebuah benda yang digerakkan oleh seperangkat mesin yang menjadi lambang dari masyarakat industri bahkan menjadi post-industri.

            Dalam kenyataannya gadget menjadi sebuah alat konsumsi melalui hilangnya secara relatif fungsi objek (sebagai alat rumah tangga) demi sebuah fungsi tandanya (menjadi hal yang berguna). Tetapi penggunaan gadget sebagai fungsi tanda menimbulkan dehumanisasi pada tubuh masyarakat. Mengingat saat ini juga dunia memasuki era revolusi industri 4.0, yang menandakan bahwa tidak ada satu pun sudu di dunia yang tidak luput dari dampak dan perubahan yang diakibatkan dari disrupsi teknologi ini.

Perubahan Komunikasi dan Budaya

Kehilangan identitas diri di dalam kehidupan yang nyata kemudian akan membawa seseorang ke dalam situasi terjebak dengan kondisi apa yang disebut dengan cybercommunity atau masyarakat siber. Teknologi media baru yang sangat giat digunakan menjadi sebuah arena untuk mencari identitas dan membentuk sebuah citra diri. Arus perkembangan teknologi inilah yang menjadikan manusia lupa terhadap realitas sosial yang sesungguhnya dan membawa efek negatif bagi kehidupan manusia di dunia nyatanya. Hal ini dikarenakan mereka terkungkung ke dalam realitas semu yang disebut dengan hiperalitas (hypereality).

Dunia hiperalitas merupakan dunia dimana sebagai simulakrum, yang dimana semua penampakan yang didapatkan merupakan sebuah objek yang tercabut dari realitas sosialnya, atau sama sekali tidak mempunyai realitas sosial. Teknologi yang seharusnya menjadi alternatif mendekatkan yang jauh menjadi sebuah kenyataan yakni menjauhkan yang dekat. Masyarakat terutama generasi yang disebut dengan generasi Z menjadi pengguna yang sangat aktif, generasi yang lahir dimana teknologi sudah berada di lingkungannya (digital native). Berdasarkan pengamatan penulis dalam menggunakan media sosial generasi ini menjadi pelaku utama dalam menerapkan perilaku masyarakat siber.

Masyarakat siber atau masyarakat maya, atau yang sering disebut dengan warganet/Netizen memiliki cara tersendiri dalam berkomunikasi. Komunikasi yang dilakukan merupakan suatu proses interaksi simbolik. Memberikan tanda-tanda dan simbol bukan hanya berupa pesan teks secara langsung. Kajian interaksi simbolik seperti yang diketahui tertarik pada cara manusia menggunakan simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya, juga pengaruh yang ditimbulkan oleh penafsiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi sosial.

Kita bisa melihat perilaku dari masyarakat siber ini dalam penggunaan media-media baru. yang saat ini menjadi primadona. Instagram, Twitter, Tiktok bahkan aplikasi lainnya yang diunduh jutaan kali oleh pengguna gadget. Terutama instagram, instagram agaknya merupakan salah satu media baru yang ikut menyumbangkan sebuah kebiasaan baru dalam menciptakan masyarakat siber. Aplikasi-aplikasi seperti ini mendorong perilaku masif bagi penggunanya untuk melakukan segala aktifitas di dalamnya.

Saya mencoba melakukan serangkaian observasi singkat terhadap beberapa remaja dalam aktivitasnya menggunakan sosial media Instagram. Saya mencoba melihat perilaku remaja yang selama ini aktif berselancar di dunia instagram. Mereka yang menjadi pengguna aktif dengan beberapa alasan tertentu. Alasan-alasan ini biasanya dipengaruhi oleh dorongan atas keinginan dari remaja tersebut dan juga dari pengaruh lingkungannya. Dorongan ini didukung karena menganggap instagram sebagai ruang publik bagi remaja. Remaja dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggunakan aplikasi sosial media instagram. Mereka dengan leluasa menggunakan aplikasi tersebut, entah untuk mengunggah atau berbagi cerita, foto, video, atau hanya sekadar memberikan komentar di akun teman mayanya.

Media baru seperti ini merupakan sebuah hibridasi dari kemampuan media-media konvensional yang selama ini kita kenal. Sehingga hal ini dapat membentuk media dengan dimensi ganda. Seperti yang dikatakan Holmes dalam bukunya “Virtual Politics: Identity & Community Cyberspace” mengungkapkan bahwa ruang maya merupakan dunia dimana terbentuk nilai budaya yang terbentuk melalui interaksi keseharian diantara penggunanya melalui mediasi teknologi. Ruang siber ini memungkinkan terjadinya pertukaran makna dan membentuk sebuah realitas dan identitas baru di dalam penggunanya.

Alhasil, perubahan wujud komunikasi ini merupakan determinasi dari sebuah kemajuan sosial. Tetapi di satu sisi, penemuan teknologi informasi ini juga memberikan dampak pada perubahan sosial hingga perubahan terkecil yakni perilaku  pada diri individu.

Dari Konsumerisme Menuju Alienasi

Hingga pada akhirnya, pencaharian identitas yang melibatkan penggunaan atas teknologi mutakhir menciptakan kelas masyarakat maya. Perilaku-perilaku pengguna sosial media didukung oleh pembaharuan yang dilakukan oleh pengelola media sosial. Kecanggihan ini membuat para pemakai mendapatkan segalanya ketika mereka aktif melakukan interaksi di dalamnya. Aktivitas simpelnya ialah seperti kolom komentar, pesan langsung, jumlah follower dan fitur-fitur lain yang ada di dalamnya. Mereka yang telah terkungkung oleh kenikmatan arus sosial media akan merasakan kesenangan jika mendapatkan komentar yang beragam di sosial media, menampilkan unggahan foto atau video yang dirasakan menarik dan memantik banyak komentar.

Tentu hal ini menciptakan sebuah kebiasaan baru di kalangan masyarakat maya, terutama masyarakat maya dengan rentang usia remaja yang memiliki kemungkinan lebih besar teralienasi di dunia nyatanya. Aktualisasi dan eksistensi diri menjelma di dalam masyarakat jaringan (Network Society), gejala yang asyik sendiri tapi tidak merasakan kesepian. Hal inilah yang disebut dengan alienasi (keterasingan) sosial.

Agaknya dewasa ini, aplikasi media baru bertanggung jawab atas perubahan perilaku masyarakat terutama para remaja. Menciptakan kehidupan baru struktur masyarakat guna pemenuhan kebutuhan pencarian identitas yang berujung pada teralienasinya identitas diri seseorang di dalam realitas sosialnya. Alienasi seperti yang dikemukan oleh sosiolog klasik Karl Marx sebagai suatu keterasingan. Keterasingan ini merujuk pada alienasi diri dari keluarga, lingkungan benda, bahkan diri sendiri. Keterasingan yang diakibatkan dari penggunaan aplikasi media baru ini membuat kita semakin jauh dari realitas-realitas manusia sebagai makhluk individu maupun sosial. Semua yang dilakuan di dalam aktifitas onlinenya merujuk pada kesadaran palsu saja.

Seperti yang diungkapkan oleh Karl Marx terkait konsep kesadaran ini adalah “Bukan kesadaran seseorang yang menentukan keberadaannya, melainkan keberadaan sosial yang menentukan keberadaanya”. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa masyarakat siber keberadaanya sudah direpresentasikan oleh media internet. Hal ini tentu telah membentuk sebuah kultur dan sebuah kehidupan sosial sendiri

Dunia teknologi informasi akan terus berkembang seiring penggunaan internet yang tumbuh secara pesat. Alienasi atau keterasingan ini akan terus melanda bagi mereka yang menciptakan kehidupan sosial di media sosial atau ruang maya. Aktualisasi di media online menjadi penanda sosial bahwa di kehidupan nyata esensi diri seseorang akan tergerus. Para generasi yang terus mengakses dan mengaplikasikan gadget sebagi fungsi tanda membutuhkan usaha yang lebih keras agar kedua dunia yang mereka lakukan seimbang dan tidak terjebak dalam masyarakat siber yang semu.

 

Karya: Alfin Dwi Rahmawan

Sosiologi Universitas Bangka Belitung


Minggu, 20 Desember 2020

Perspektif Paradigma Integratif dalam Sosiologi

Interaksi individu dengan individu lain merupakan kunci dasar membangun relasi sosial bermasyarakat. Persepsi, sudut pandang menjadi organ vital dalam mengetahui setiap sisi individu. Seperti yang dikatakan Abraham Lincoln, Zoon Politicon - makhluk yang saling membutuhkan.

Sudut pandang setiap individu tidak pernah sama. Setiap rangsangan dan pengaruh dari eksternal membentuk sikap dasar setiap individu. Sikap individu, emosi individu, dan kemampuan mengembangkan kapasitas individu selalu dipengaruhi oleh alam sekitar atau rangsangan dari lingkungan.

Eksistensi keberadayaan individu tidak lepas dari pengaruh kebudayaan, setiap budaya muncul dari ragam alam yang mengakar dari masa ke generasi. Kemampuan menjamah dan beradaptasi dari budaya sebagai cerminan bahwa individu selalu tumbuh dan dewasa dari tradisi warisan budaya orang tua. Walaupun tidak secara langsung orang tua mengajarkan tapi secara perspektif dan cara hidup merupakan pengaruh budaya dari masa ke masa berikut.

Memberdayakan individu bukan dibentuk satu malam tapi dibangun dari puing-puing integral yang selalu tumbuh dari rasa kasih menyanyangi, rasa peduli-sesama dan rasa berbagi terhadap derita maupun suka. Maka, dari situ lahir jiwa yang membudaya secara naluriah individu yang terbenam dalam kelompok.

Struktur, politik, ekonomi dan sosial merupakan entitas primer yang melengkapi aspek dari kehidupan setiap individu. System politik, system ekonomi, dan kelompok pada masyarakat sebagai garda tombak dalam melihat kesejahteraan suatu masyarakat. Bukan pada individu, pada kelompok suatu nilai menjadi tersosialisasi ke dalam tatanan norma dan nilai.

Termasuk pengaruh psikologi, para sosiolog bersepakat menjadikan ilmu jiwa sebagai pintu kedua untuk memahami dinamika yang terjadi ditengah masyarakat, terkhusus memahami individu.

Merupakan satu hal yang terpengaruh oleh ilmu alam, diantaranya sosiologi dan psikologi. August Comte selain sebagai sosiolog juga seorang fisikawan yang menguasai rumus-rumus inti.

Keteraturan sosial kata Comte, hanya bisa diraih dengan menyeimbangkan ilmu alam dengan ilmu sosial. Hal penting untuk mempelajari karakter alam adalah dengan memahami hubungan sebab-akibat dari pengetahuan ilmu alam yang berupa angka hasil pasti. Tidak sama dengan ilmu sosial yang caranya boleh berbeda tapi hasil tetap sama. Seperti, dua ditambah dua adalah empat. Bisa juga, satu ditambah tiga adalah empat.

August Comte, mencoba mengkaji memperbaiki sistem politik masyarakat ketika itu dengan memadukan sainstis dengan humaniora. Alhasil, dapat memperbaiki orang-orangnya ketika itu.

Selain berdiskusi banyak, individu harus berpikir sistemik berdasarkan paradigma integrative. Teori sosiologi Modern pada abad ke-19 telah berkontribusi terhadap pengembangan nalar individu-kelompok menjadi basis menangkap fakta sosial dari berbagai paradigma. Konsep, teori dan gagasan merupakan makna tercatat dalam sejarah pemikiran para sosiolog dunia.

Gagasan ideal tentang suatu diskursus selalu menjadi pusat perhatian mayoritas sosiolog. Selain teori yang didefinisikan sebagai penjelas realitas sosial, juga mengandung konsep dua variabel yang saling berkait-mengait

Doyle Paul Johnson, sosiolog klasik meringkas definisi konsep sebagai kata yang memberikan makna. Jadi setiap kata berperan terhadap suatu makna. Konsep adalah kata yang diberikan makna. Konsep adalah variable yang telah diberi variasi nilai. Setiap variable adalah konsep.

Pemberian makna berbeda dengan variable. Variabel menyangkut variabel independent dan variabel dependent. Hal yang dijelaskan berhulu pada hubungan antar variabel. Seperti, Teori sosiologi bukan teologi yang bersifat mutlak tapi sebagai guiden dalam merumuskan suatu masalah.

Pola relasi merupakan  salah satu penjelasan tentang interaksi. Teori sosiologi lahir berdasarkan hasil penelitian.  Penelitian dibangun dari temuan-temuan yang dilapangan yang tidak semestinya terjadi. Seorang ahli sosiolog selalu diminta kritis mempelajari teori.

Grand teori misalnya, sebagai matahari yang menyentuh keadaan sekitar. Misal suatu masalah yang diteliti tentang tingkat kemiskinan. Maka, teori fungsional structural menjadi petunjuk dalam menentukan arah berupa tujuan-tujuan khusus dari sebuah penelitian tentang tingkat kemiskinan. Dari hasil temuan dari beberapa penelitian, terdapat 12 indikator kemiskinan atas pertimbangan berbagai lembaga nasional maupun lembaga internasional.

Contoh lain, teori mikro, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bicara tentang pengelolaan ketahanan keluarga yang praktis. Maka, praktik yang perlukan dalam menyelesaikan masalah adalah komponen pendukung dari karakteristik ketahanan keluarga di suatu kecamatan.

Memberikan kerangka berpikir dalam asumsi yang dibangun tidak mesti didasarkan hipotesa sementara. Bisa juga dengan memprediksi hubungan sebab-akibat yang bisa saja terjadi. Analisis dari berbagai aspek dapat memudahkan memetakan polarisasi yang terjadi.

Pertimbangan sosiologis dalam membentuk naskah akademik menjadi landasan pokok dalam menggunakan teori sosiologi. Terdapat analisis sosiolog Emile Durkheim yang menjelaskan fakta sosial. Pertanyaannya, apa yang dianalisis? Dan bagaimana fenomena yang terkumpul dari masyarakat? begitupun sedikit persamaan dengan gagasan yang dikemukakan Max Weber tentang etika agama.

Semua saling persinggungan yang bersumbu pada realitas sosial, baik individu, kelompok maupun masyarakat secara garis besar.

Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Magister Sosiologi UNAND



Selasa, 27 Oktober 2020

Analisa Sosiologi Kebudayaan dan Masyarakat

Kebudayaan dan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dua unsur tersebut menjadi satu kesatuan dalam menjalankan fungsi dan perannya ditengah kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya kebudayaan, masyarakat menjadi liar karena tidak adanya unsur-unsur atau nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan suatu masyarakat tersebut. Pengaruh kebudayaan di suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh tradisi-tradisi yang berkembang dari nenek moyang. Tradisi tersebut kemudian dijadikan norma,nilai dan keyakinan dalam bertindak pada masyarakat dan dianut oleh generasi penerus mereka sehingga turunlah tradisi tersebut kepada anak-cucu mereka yang selanjutnya diadopsi dari generasi secara turun-temurun. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Selo Soemardjan (1988), bahwa masyarakat adalah sebagai orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

Definisi Kebudayaan

Secara Sosiologis, kebudayaan adalah hasil atau produk dari cipta, rasa dan karsa tersebut. Artinya, setiap nilai, aturan dan norma yang telah disepakati bersama oleh kelompok masyarakat maka hal itu merupakan sebuah produk yang dibuat dalam masyarakat tersebut sehingga menjadi nilai-nilai yang telah menjadi pemahaman bersama ditengah masyarakat tersebut.

Namun, Pengertian Kebudayaan yang dijelaskan oleh Soerjono Soekanto (1974) dari sudut pandangnya ialah sesuatu yang mencangkup semua yang didapat atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, yaitu mencakup segala cara atau pola berpikir, merasakan dan bertindak. Inilah yang dimaksud Soerjono Soekanto definisi kebudayaan yang lebih komprehensif berdasarkan berbagai keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Kebudayaan tercipta karena keberadaan manusia itu sendiri. Manusia-lah yang menciptakan kebudayaan dan manusia pula-lah yang menjadi pemakainya. Kebudayaan dan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena mereka saling membutuhkan dan saling terkait satu sama lain sehingga menjadi entitas nilai.

Perbedaan Masyarakat dan Kebudayaan

Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Sedangkan, yang dimaksud masyarakat oleh Soerjono Soekanto ialah umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Pertama, manusia yang hidup bersama, sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang. Kedua, bercampur atau bergaul dalam jangka waktu yang cukup lama. Berkumpulnya manusia akan menimbulkan manusia baru. Sebagai akibat dari hidup bersama, maka timbul sistem komunikasi dan peraturan yang mengatur hubungan antar manusia. Ketiga, sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan. Keempat atau terakhir, mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena merasa dirinya terkait satu sama lain.

Dan yang dimaksud kebudayaan secara umum ialah, serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dimiliki oleh manusia, yang digunakan secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah laku dan tindakannya. Secara tidak langsung, eksistensi keberadaan masyarakat dipengaruhi oleh nilai-nilai kebudayaan yang melekat pada diri individu tersebut yang kemudian digunakan oleh masyarakat setempat berdasarkan kebiasaan yang terjadi.

Pentingnya Kebudayaan bagi Individu

Ada lima hal penting bagi seseorang atau individu yang hidup ditengah masyarakat yang memiliki latar belakang budaya. Pertama, kebudayaan bagi individu menentukan identitas suatu bangsa. Contoh, di Minangkabau Rumah Gadang identik dengan bentuk melengkung di kedua ujungnya, hal itu menjadi sebuah identitas tersendiri yang mempunyai makna khusus bagi budaya minangkabau. Kedua, kebudayaan merupakan sumber inspirasi, kebanggaan dan sumber daya yang menghasilkan komoditas ekonomi dan sosial. Ketiga, Kebudayaan sebagai pola perilaku individu dalam bertindak dan berbuat. Keempat, kebudayaan sebagai warisan yang diturunkan turun-temurun. Dan kelima, kebudayaan sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.

Itulah lima hal penting yang menjadi pijakan individu betapa pentingnya memiliki sebuah kebudayaan, karena sejatinya individu tanpa kebudayaan bagaikan individu yang tidak memiliki alamat untuk pulang.

Karya: Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas



Rabu, 30 September 2020

Gerakan Solidaritas Kemanusiaan Pemuda Seruyan

Apakah jika ingin berbuat baik kita harus izin kepada pimpinan? Lantas Tuhan siapa?! Apakah hasil dari berbuat baik harus dilaporkan kepada pimpinan? Lantas maliakat pencatat amal kebaikan kerjanya apa?!

Dua pertanyaan diatas menjadi pengantar tulisan ini. Berawal dari niat baik dan inisiatif positif orang-orang baik maka lahirlah gerakan pemersatu rasa solidaritas kemanusiaan yaitu, Gerakan “Relawan Muda Bantu Seruyan”

Apa Itu Relawan Muda Bantu Seruyan?

            Relawan Muda Bantu Seruyan adalah suatu gerakan kemanusiaan yang mana didalamnya terdapat perkumpulan pemuda Seruyan yang memiliki visi yang sama untuk berdampak positif dan berkontribusi terhadap saudara-saudara di sebagian wilayah kabupaten seruyan yang terdampak banjir. Adapun lembaga atau organisasi pemuda yang bergabung didalam Gerakan ‘Relawan Muda Bantu Seruyan’ diantaranya; Rumah Seni Tabela Borneo, Teater Lilin, Sanggar Kambang Mayang, Sangar Talawang Lewu, Seni Bela Diri Antang Batamaet, Tipigapa, Rastapati dan didukung oleh 29 UMKM Muda Seruyan. Ketujuh perkumpulan pemuda penggiat seni dan musik tersebut merupakan bukti bahwa kekuatan perkumpulan pemuda gerakan ’Relawan Muda Bantu Seruyan’ sangat berdampak positif. Melalui gerakan tersebut juga menjadi bukti bahwa kita sebagai Seruyan Muda mampu tumbuh dan menjadi luar biasa. Gerakan kemanusian tersebut dapat kita hubungkan dengan istilah gerakan sosial yang didalam ilmu sosiologi gerakan sosial merupakan suatu bentuk perilaku kolektif yang diberi nama gerakan sosial. Pengertian perilaku kolektif sendiri adalah perilaku yang dilakukan sekelompok orang secara bersama-sama sebagai tanggapan spontan terhadap rangsangan tertentu. Teori interaksionisme simbolik juga mempelajari tentang perilaku kolektif dan gerakan sosial. Pendekatan tentang gerakan sosial yang menekankan pada perilakuk kolektif memiliki tujuan untuk membanguan tatanan kehidupan yang baru. Secara keseluruhan pendekatan ini masih mendapatkan perhatian, sebab pendekatan ini disatu sisi menekankan pada aspek sosial-psikologis, dari aksi kolektif seperti emosi, perasaan solidaritas, perilaku ekspresif dan komunikasi sedangkan disisi lain menempatkan pada kemunculan gerakan sosial didalam proses relasi dan interaksi yang terus berjalan (Outwaite 2008:784).

 Bersatu Karena Rasa Kemanusiaan

           Solidaritas dan kepedulian pemuda luar biasa lahir dan menguat ketika semuanya menyadari bahwa bencana banjir yang melanda seruyan bagian hulu dan seruyan bagian tengah merupakan luka yang dibuat sengaja oleh oknum penguasa. Pada tanggal 13 September 2020 kami sebagai pemuda yang tinggal dibagian hilir seruyan merasakan luka yang sama bahwa saudara-saudara kami yang ada di seruyan hulu dan seruyan tengah sedang tidak baik-baik saja. Gerakan kecil kami mulai dengan cara melakukan penggalangan donasi mengumpulkan beberapa rupiah, sembako dan pakaian bekas layak pakai. Diluar dugaan gerakan kemanusian yang pada mulanya diinisiasi oleh Seruyan Muda membola salju, sejak tanggal 13 September 2020 - tanggal 20 September 2020 ada tuijuh perkumpulan pemuda yang siap berkontribusi nyata untuk saudara-saudara yang sedang dilanda bencana. Beberapa hari setelah penutupan pengumpulan donasi kami mendapat kabar bahwa banjir juga menerjang sebagian wilayah di seruyan hilir. Berbahaya!

Perjalanan Tak Semulus yang Direncanakan

             Tidak pernah terpikirkan oleh kami bahwa gerakan solidaritas kemanusiaan penggalangan donasi harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi dan meminta izin kepada dinas terkait. Entah apa alasanyan saya dan kawan-kawan relawan mencoba berpikir positif. Mungkin saja niatnya agar gerakan kemanusian kami dapat dikontrol dan tepat tujuan, mungkin saja?! 20 September 2020 dapat dikatakan waktu yang terlambat untuk kami mengurus surat perizinan penggalangan donasi. Keterlambatan tersebut memiliki alasan yang kuat sebab kami tidak pernah berpikir bahwa untuk memulai gerakan solidaritas kemanusian harus izin terlebih dahulu kepada pimpinan dan hasil dari pengumpulan donasi juga harus dilaporkan atau dibuat semacam laporan pertanggung jawaban. Mungkin saja niatnya baik?! makanya prosudur ini kami ikuti demi lancarnya perjalanan gerakan kemanusiaan ini. Kami juga berpikir mungkin saja dengan begitu pekerjaan malaikan pencatat amal kebaikan dapat terbantu.

 Kekuatan Yang Lahir Ketika Perkumpulan Pemuda Berkolaburasi

             Lagi-lagi diluar dugaan bahwa potensi pemuda Seruyan sangat luar biasa. Hal tersebut terbukti ketika kami bersatu kedalam sebuah wadah gerakan ‘Relawan Muda Bantu Seruyan’ masing-masing dari perkumpulan pemuda saling unjuk kebolehan, Seni Bela Diri Antang Batamet sangat terlihat mengejutkan ketika menampilkan gerakan-gerakan seni bela diri tradisional khas kalimantan, Teater lilin terlihat memukau ketika mereka bermain teater dan membacakan puisi yang menyayat hati bagi mereka yang merasakanya, Sanggar Kambang Mayang dengan kepiawaian tarinya juga tak kalah mengejutkan, Rumah Seni Tabela Borneo juga terlihat mengagumkan ketika mereka unjuk kebolehan dalam memainkan alat musik tradisional begitu juga dengan Sanggar talawang Lewu dan penggiat musik acustik Tipigapa. Tidak hanya itu, perkumpulan pemuda seruyan semakin terlihat luar biasa ketika mereka berkolaburasi dipenampilan virtual penggalangan donasi pada tanggal 20 September 2020. 

Berawal Dari Seruyan Muda

         Seruyan Muda merupakan gerakan social enterprise yang menjadikan pemuda sebagai tenaga arsitek peradaban Seruyan yang berketuhanan dan berbudi luhur. Seruyan Muda lahir pada tahun 2018. Visi Seruyan Muda adalah sebagai Medium KOLABOREKSPRESI gerakan Social Enterprise Seruyan Muda untuk Seruyan. Misinya 1) Menjadi gerakan pemersatu Seruyan Muda, 2) Menjadi gerakan Social Enterprise Seruyan Muda, 3) Menjadi gerakan kolaburasi ekspresi Seruyan Muda, dan 4) Menjadi gerakan pembangun Seruyan. Adapun tujuan Seruyan Muda sebagai berikut; Jangka Panjang (pada tahun 2045 menjadi gerakan social enterprise pemuda percontohan dunia yang unggul serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa. Jangka Menegah (pada tahun 2019-2025 menjadi medium gerakan kolaborekspresi social enterpriese pemuda seruyan yang solid dan mandiri secara financial). Jangka Pendek (pada tahun 2019-2020 menjadi jembatan komunikasi yang baik bagi pemuda seruyan dari hulu sampai hilir). Didalam lingkaran terdalam seruyan muda juga terdapat struktur yaitu; Koordinmator, Administrasi & Keuangan serta Bidang Media, Business Development dan PUSAKA (pusat gerakan seruyan muda). Ketiga bidang tersebut memiliki tugas dan tenggung jawab. Bidang Media bertanggung jawab mengembangkan seluruh media Seruyan Muda baik dalam hal penyajian konten, editing, marketing dan IT. Bidang Business Development bertanggung jawab untuk mengembangkan social enterprise seruyan muda, baik dalam hal produk dan marketing. Sedangkan Bidang PUSAKA bertanggung jawab untuk menghidupkan dan mengembangkan gerakan seruyan muda.

       Gerakan ‘Relawan Muda Bantu Seruyan’ merupakan salah satu program yang diinisiasi oleh bidang pusaka seruyan muda, program tersebut tentunya tidak lepas dari dukungan dan bantuan teman-teman dari bidang business developmen dan bidang media.

        Kami sebagai seruyan muda berharap didalam lingkaran seruyan muda dapat terlibat seruluh pemuda seruyan dari hulu sampai hilir untuk saling bertumbuh, menumbuhkan dan bergunana untuk tanah kalahiran kabupaten seruyan. Disetiap langkah dan gerakan yang kami mulai kami terus belajar dan memetik pengalaman baru seperti halnya ketika kami membuat gerakan solidaritas kemanusiaan ‘relawan muda bantu seruyan’ mengumpulkan donasi/penggalangan dana. Pengalaman yang dapat kami petik salah satunya adalah kami harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi dan meminta izin kepada pimpinan/dinas terkait dan melaporkan apa yang kami dapat maupun apa yang telah kami salurkan kepada saudara yang membutuhkan. Ini merupakan salah satu bukti bahwa kami harus terus belajar dan mencicipi pengalaman disetiap langkah dan gerakan seperti ini. Harapan besar kami sebagai pemuda seruyan kami harus bisa terus bertumbuh, menumbuhkan dan berdampak positif untuk tanah kelahiran Kabupaten Seruyan.

        Seruyan Muda! Salam Cita Muda Berkarya. Kami Muda Ada dan Berguna.

Karya: Abdul Haris

Univesitas Brawijaya

abdulharissosantro07@gmail.com