Buku Karya Braindilog

Berisi mengenai kajian analisis sosial dengan pendekatan konsep teori tokoh Sosiologi Indonesia.

Braindilog

Merupakan sebuah konsep dan metode diskusi yang di lakukan dengan tahapan Brainstorming, Dialectic, dan Logic dari teori atau permasalahan sosial yang didiskusikan.

Braindilog Sosisologi Indonesia

Mengawal Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia menuju otonomi teori Sosiologi Indonesia yang berlandaskan nilai, norma, dan kebermanfaatan masyarakat Indonesia.

Gerakan Otonomi Teori Sosiologi Indonesia

Sayembara menulis artikel sosiologi Indonesia adalah upaya Braindilog Sociology dalam menyebarluaskan gagasan otonomi teori sosiologi Indonesia.

Braindilog Goes To Yogyakarta

Diskusi Lintas Komunitas bersama Joglosonosewu dan Colombo Studies di Universitas PGRI Yogyakarta dengan tema "Konflik Horisontal Transportasi Online". Selain dihadiri komunitas, acara ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan mahasiswa dari masing-masing kampus di Yogyakarta.

Rabu, 12 Agustus 2020

Solidaritas Sosial Pada Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang homogen. Dalam kehidupan sehari-hari interaksi sosial yang dilakukan sudah saling mengenal antara orang yang satu dengan yang lainnya. Keakraban antar manusia menumbuhkan kegiatan yang ada dilakukan secara bersama-sama. Masyarakat desa yang identik dengan kesederhanaan masih menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Solidaritas sosial masyarakat pedesaan masih kuat yaitu saling tolong-menolong dalam berbagai hal. Aktivitas sosial yang dilakukan mencerminkan kerjasama, kekompakan, dan gotong royong sebagai modal tindakan keseharian dalam kegiatan yang dilakukan. Masyarakat desa masih memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam wujud aktivitas sosial. Aktivitas yang dilakukan dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu budaya, sosial, politik, hukum, agama, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Kiranya serangkaian aktivitas manusia masyarakat pedesaan menjadi menarik untuk diperbincangkan karena memuat unsur keseragaman dalam pola kehidupan. Masyarakat desa adalah masyarakat yang unik yang masih tradisional jauh dari bingar-bingar perkotaan. Antara manusia yang satu dengan yang lainnya terjalin hubungan sosial yang sangat erat sehingga kalau terjadi apa-apa pada saudara, tetangga, kerabat pasti mengetahuinya dengan cepat. Manusia yang satu dengan manusia yang lain saling membutuhkan sehingga ketika ada pekerjaan bisa dilakukan secara bersamaan. Solidaritas sosial yang ada pada masyarakat pedesaan masih kental, ikatan sosial juga tinggi. Hal demikian menandakan bahwa keintiman pada masyarakat dapat menjaga nilai dan norma yang ada di masyarakat dengan baik. Masyarakat desa dalam menjalankan aktivitas sosial berkaitan dengan solidaritas sosial, yang mana tipe solidaritas sosial pada masyarakat pedesaan cenderung bersifat primitif-pedesaan.  

Masyarakat Desa 

Menurut Damsar dan Indrayani :2016, perdesaan berasal dari kata desa. Kata yang berasal dari bahasa Jawa. Desa dalam bahasa etnik yang terdapat di Indonesia dikenal dalam berbagai istilah seperti Batak disebut dengan huta atau kuta, Minangkabau dikenal sebagai nagari, Aceh disebut sebagai gampong, Bugis dikenal dengan matowa, Makassar disebut dengan gukang, atau Minahasa disebut dengan wanua. Dengan demikian penamaan desa yang ada di seluruh Indonesia sangat beragam. Desa yang ada memiliki kekhasan dan keunikan sendiri dari masing-masing suku tersebut. Potensi yang dimiliki masyarakat desa juga melimpah terutama berkaitan dengan Sumber Daya Alamnya. Selain itu jika digali lebih lanjut dalam masyarakat desa juga memiliki budaya yang menjadi ciri penanda dari desa tersebut, sehingga bisa dikembangkan menjadi nilai-nilai yang berdaya guna.  Menurut Luthfia : 2013, desa merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan bernegara khususnya di Indonesia. Di era otonomi daerah pemerintah pusat mencoba memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengelola potensi daerahnya.

Tipologi wilayah pedesaan hampir sebagian besar masih perkampungan atau dusun. Mata pencaharian masyarakatnya lebih dominan pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan sejenisnya. Karakteristik masyarakatnya masih berkaitan dengan etika dan budaya setempat seperti berperilaku sederhana, mudah curiga, menjunjung tinggi kekeluargaan, lugas, tertutup dalam hal keuangan, menghargai orang lain, jika diberi janji akan selalu diingat, suka bergotong royong, demokratis, religius, dan lainnya (Jamaludin : 2015). Masyarakat desa dalam sektor agraris hampir semua penduduknya bekerja dalam lingkup yang sama. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang lebih beragam dalam urusan pekerjaan. Adapun penduduk yang ada di masyarakat desa juga tidak sepadat di perkotaan. Perkampungan atau dusun masih berkelompok pada masing-masing desa yang dikelilingi oleh area persawahan atau pepohonan yang masih banyak kita jumpai.

Solidaritas Sosial

Solidaritas sosial merupakan tema utama yang dibicarakan oleh Durkheim sebagai sumber moral untuk membentuk tatanan sosial ditengah masyarakat. Durkheim menyatakan bahwa asal-usul otoritas moralitas harus ditelusuri sampai pada sesuatu yang agak samar-samar yang ia sebut “masyarakat” (Hasbullah, 2012). Solidaritas dalam setiap kelompok atau masyarakat berbeda kadarnya. Intensitas dalam integrasi sosial sangat mempengaruhi dalam keikutsertaan di masyarakat. Menurut Saidang dan Suparman : 2019, solidaritas sosial menunjuk satu keadaan hubungan antara individu dengan kelompok yang ada pada suatu komunitas masyarakat yang didasari pada moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman bersama. Jadi interaksi sosial yang dibangun dalam kelompok atau masyarakat adalah komponen terciptanya solidaritas sosial yang ada di masyarakat. Interaksi sosial dapat tercipta secara rekat ataupun longgar sesuai dengan kebutuhan masing-masing manusia. Solidaritas sosial yang dikemukakan Durkheim merujuk pada solidaritas sosial mekanik dan solidaritas sosial organik.

Menurut Upe (2010) berikut ciri-ciri pembeda antara struktur solidaritas mekanik dan struktur solidaritas organik :

Solidaritas Mekanik

Solidaritas Organik

Pembagian kerja rendah

Pembagian kerja tinggi

Kesadaran kolektif kuat

Kesadaran kolektif rendah

Individualitas rendah

Individualitas tinggi

Hukum represif dominan

Hukum restitutif dominan

Konsensus terhadap pola-pola normatif penting

Konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum penting

Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang

Badan-badan kontrol yang menghukum orang yang menyimpang

Saling ketergantungan rendah

Saling ketergantungan tinggi

Bersifat primitif-pedesaan

Bersifat industrial-perkotaan


Analisis Masyarakat Desa dengan Pendekatan Solidaritas Sosial Durkheim

Desa terdiri dari beberapa dusun atau kampung yang melingkupinya. Masyarakat desa dalam menjalankan serangkaian kegiatan dapat dianalisis dengan teori Emile Durkheim tentang solidaritas sosial. Solidaritas sosial dapat dijabarkan kedalam 2 tipe yaitu solidaritas mekanik dan organik. Secara universal masyarakat desa dapat ditelaah dengan teori dari Emile Durkheim dengan pendekatan solidaritas sosial mekanik. Solidaritas sosial mekanik menekankan interaksi sosial yang ada pada masyarakat bersifat rekat, antara yang satu dengan yang lain hubungannya saling membutuhkan. Dalam pembagian kerja juga sangat rendah, saling bahu-membahu untuk mengerjakan pekerjaan. Rasa empati tertinternalisasi dalam diri, karena sekian lama sudah saling mengenalnya. Aturan-aturan yang sudah ada dan tercipta di dalam masyarakat, untuk pengambilan sikap dalam proses penyelesaian masalah pertama kali adalah masyarakat itu sendiri bukan lembaga hukum. Ketika ada seseorang yang melakukan penyimpangan sosial maka yang berhak pertama kali untuk menghukum adalah masyarakat. keterikatan individu di dalam masyarakat sangat erat. Solidaritas dari setiap manusia sudah tertanam sedemikian tinggi untuk melakukan jalinan sosial. Individualitas manusia juga sangat rendah, yaitu rasa memiliki akan kehadiran orang lain betapa pentingnya dalam masyarakat.

Wujud Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Desa

Dalam menjalankan aktivitas terkait erat dengan beberapa aspek yang melingkupinya diantaranya yaitu lingkup budaya, sosial, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain-lain. Solidaritas sosial juga sangat terlihat ketika seseorang atau kelompok melakukan hubungan sosial dalam aktivitas yang dilakukan. Berikut beberapa uraian dalam wujud solidaritas sosial :

a.       Lingkup budaya

Masyarakat desa kaya akan budaya yang dimilikinya. Pewarisan budaya yang dimiliki masih ada sampai saat ini. Contohnya tradisi yang masih dilakukan adalah selametan 7 bulanan bayi (mitoni), siraman pengantin, gotong royong membangun rumah, dan lain-lain. Dimana setiap masyarakat yang ada selalu dilibatkan dalam serangkaian acara tersebut.

b.      Lingkup sosial

Kerja bakti yang dilakukan oleh masyarakat desa mempererat hubungan sosial yang ada. Sering diadakannya kegiatan tersebut menambah interaksi sosial semakin dekat antara individu yang satu dengan yang lainnya.

c.       Lingkup politik

Dalam pemilihan kepala daerah misalnya, maka pemilihan terhadap tokoh yang dipilihnya biasanya timbul dari keselarasan masyarakat desa tersebut. Pola pikir yang cenderung sama dalam menentukan pilihan politik tidak jauh beda antara orang yang satu dengan yang lain.

d.      Lingkup hukum

Hukum yang ada adalah berasal dari masyarakat tersebut. Maka ketika ada seseorang melakukan penyimpangan atau tindak kejahatan yang pertama kali memberikan hukuman adalah masyarakat itu sendiri.

e.       Lingkup ekonomi

Dalam jual-beli masyarakat desa yang lebih diutamakan adalah tuna satak bathi sanak, artinya lebih mementingkan persaudaraan daripada untung material yang diperoleh.

f.       Lingkup pendidikan

Pendidikan dalam masyarakat desa cenderung homogen. Maka untuk melakukan belajar bersama adalah hal yang mungkin untuk dilakukan oleh para siswa.

g.      Lingkup agama

Agama yang dimiliki oleh masyarakat desa biasanya sama. Perbedaan agama yang ada sangat jarang dijumpai. Selain itu dalam tindakan keberagamaan biasanya dilakukan secara bersama-sama.

KESIMPULAN

Masyarakat desa adalah masyarakat yang homogen. Dalam melakukan suatu pekerjaan bisa dikerjakan secara bersama-sama. Hubungan interaksi sosial yang ada sangat intens. Individualitas masyarakat pedesaan sangat rendah. Dalam melakukan aktivitas dapat dilihat dari solidaritas sosial yang ada, baik lingkup secara budaya, sosial, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain-lain dapat digambarkan keadaannya. Solidaritas sosial masyarakat desa cenderung mengarah pada solidaritas mekanik.

DAFTAR PUSTAKA

Damsar dan Indrayani. 2016. Pengantar Sosiologi Perdesaan. Jakarta : Kencana.

Hasbullah. 2012. “REWANG : Kearifan Lokal dalam Membangun Solidaritas dan Integrasi Sosial Masyarakat di Desa Bukit Batu Kabupaten Bengkalis”. Jurnal Sosial Budaya. Vol. 9, No 2.

Jamaludin, Adon Nasrullah. 2017. Sosiologi Perdesaan. Bandung : Pustaka Setia.

Luthfia, Agusniar Rizka. 2013. “Menilik Urgensi Desa Di Era Otonomi Daerah”. Journal of Rural and Development. Vol. IV, No 2.

Saidang dan Suparman. 2019. “Pola Pembentukan Solidaritas Sosial dalam Kelompok Sosial Antara Pelajar”. Edumaspul. Vol.3, No 2.

Upe, Ambo. 2010. Tradisi Aliran Dalam Sosiologi. Jakarta : Rajawali Pers.

Karya: Alfan Biroli (Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Trunojoyo Madura) 	Email: alfan.biroli@trunojoyo.ac.id
Karya: Alfan Biroli

(Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Trunojoyo Madura)

   Email: alfan.biroli@trunojoyo.ac.id

Selasa, 28 Juli 2020

PERILAKU PROSOSIAL MILENIAL MENURUT TEORI PERUBAHAN PERILAKU B.F SKINNER

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknnologi memberikan kemudahan bagi manusia dalam rangka menjalankan pekerjaan dan membangun peradaban. Kecanggihan teknologi tidak menjadikan waktu dan jarak sebagai keterbatasan bagi setiap orang untuk berinteraksi secara daring. Kemudahan mendapatkan segala kebutuhan dengan akses yang instan menyebabkan tenaga manusia mulai tergantikan oleh mesin. Namun keberlangsungan proses sosial bersifat mengikat dimana pada akhirnya interaksi sosial menciptakan suatu kebutuhan yang beragam antar individu. Hal tersebut menjadikan setiap individu dapat mempengaruhi individu lain dalam memenuhi kebutuhan disetiap bidang kehidupan. Seringkali kebutuhan membangun relasi antar individu erat hubungan dengan tujuan guna mendapatkan keuntungan(finansial) maupun meningkatkan citra sosial. Namun sikap prososial yang muncul sebagai reaksi atas dasar kemanusiaan menjadi gambaran yang positif bagi kehidupan sosial. Kepedulian antar sesama individu adalah refleksi dari proses sosial yang tengah berlangsung dimasyarakat. Sikap prososial atas dasar kemanusiaan sering kali muncul mengabaikan alasan untuk sekedar mendapatkan keutungan. Tidak jarang pelaku prososial merelakan tenaga, pemikiran, ide, harta bahkan nyawa untuk kehidupan orang lain secara sukarela. 

Dewasa ini muncul pernyataan tentang teknologi yang menyebabkan penurunan sikap prososial pada generasi milenial. Pada faktanya hal tersebut tidak dapat dipukul rata secara umum. Generasi milenial yang lahir dalam masa perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan tentu mendapatkan tantangan yang lebih besar daripada generasi sebelumnya. Filtrasi informasi menjadi semakin sulit, penduduk yang semakin bertambah, tingkat kebutuhan yang semakin variatif serta persaingan mendapatkan pekerjaan menjadi faktor penghambat perilaku prososial. Namun dalam beberapa kasus, muncul anak-anak muda yang begerak dan menciptakan ranah prososial. Media dan teknologi memberikan stimulus kepada para pengguna untuk ikut serta membuat perubahan. Banyak anak muda memanfaatkan teknologi dalam rangka membangun sikap prososial dengan cara yang baru. Tidak jarang sebagian dari generasi milenial melawan arus dan menciptakan kehidupan prososialnya sendiri. Alasan diatas membuktikan menjadi sangat dini untuk menyimpulkan milenial menjadi semakin kontra sosial. 

Palang Merah Indonesia(PMI) sebagai organisasi perhimpunan pertama dan terbesar tingkat nasional yang bergerak dibidang sosial kemanusian tentu memilliki kontribusi dan sumbangsi yang penting bagi bangsa. Kader-kader PMI telah aktif bergerak membantu dan menyelesaikan tugas kemanusiaan secara profesional dan dipercaya oleh masyarakat. Sukarelawan PMI datang dari berbagai kalangan yang mengabdikan diri atas nama kemanusiaan termasuk anak muda. Secara konstitusi PMI telah diakui sebagai organisasi kemanusiaan di Indonesia menurut UU No.1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan. Berbagai kegiatan prososial PMI telah memberikan wadah besar bagi generasi milenial untuk memanfaatkan tehnologi guna menciptakan sikap prososial dimasyarakat.

Generasi milenial kini mulai masuk ke dalam pemerintahan, menjadi pemimpin perusahaan dan menjalankan roda perekonomian melalui teknologi. Namun banyak generasi milenial tergerak menggunakan kemajuan teknologi tersebut dalam peran-nya menggagas dan membentuk komunitas sosial. Media sosial menjalankan fungsi dalam rangka membentuk pertalian(linkage) dalam proses komunikasi masa yang terjadi diera digital. Banyak kader PMI berasal dari generasi milenial yang tertarik ikut bergabung sejak bangku sekolah menengah melalui ekstrakurikuler Palang Merah Remaja(PMR). Sebenarnya edukasi tentang pengenalan kesehatan dan jiwa kesukarelaan telah sejak dini telah diberikan melalui wadah Palang Merah Remaja(PMR). Mulai dari PMR Mula(SD/MI), PMR Madya(SMP/MTS) dan PMR Wira(SMA/SMK/MA). Hal inilah yang menjadi salah satu alasan adanya relawan yang secara konsisten peduli dan melakukan perilaku prososial dari stimulus yang ia dapatkan sejak dini. Stimulus dan penguatan muncul bersamaan dengan berbagai perilaku prososial yang menjadi sebab sekaligus yang menciptakan produk prososial dari permasalahan yang terjadi di dunia nyata. Sedangkan munculnya relawan yang aktif tanpa adanya stimulus sejak awal menjadi salah satu fenomena yang menarik untuk diteliti.

Perilaku prososial secara sederhana dapat diartikan sebagai segala perbuatan yang menguntungkan orang lain, menolong orang lain dan membuat keadaan orang lain menjadi lebih baik. Batson (dalam Taylor. dkk, 2009:457) mengemukakan prosocial behavior(perilaku prososial) adalah kategori yang lebih luas, ia mencakup pada setiap tindakan yang membantu atau dirancang untuk membantu orang lain, terlepas dari motif si penolong. Secara lebih khusus penulis menyimpulkan bahwa perilaku prososial mengacu pada segala tindakan seseorang untuk membantu orang lain ketika mendapatkan stimulus atau dorongan dengan atau tanpa adanya situasi atau kondisi tertentu. Sikap prososial menjadi ruh bagi adanya interaksi sosial yang ada dimasyarakat. Prososial menciptakan cara yang menjalin interaksi berjalan semakin dinamis antar individu. Oleh karena itu prososial dapat memiliki arti segala sesuatu yang dilakukan dalam rangka membangun pertalian positif dengan orang lain melalui berbagai methode dan media tertentu. 

Eisenberg dan Mussen(dalam Dayakisni,2009) menyatakan prososial sebagai suatu tindakan yang lebih khusus mencangkup banyak tindakan seperti berbagi, menyumbang, kerjasama, kejujuran, kedermawanan, menolong dan mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain. Menurut Baron dan Byrne(2005), perilaku prososial adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut dan mungkin bahkan melibatkan suatu risiko bagi orang yang menolong. Perilaku prososial sebagai suatu risiko atas pilihan perilaku yang dilakukan oleh seseorang yang mengorbankan sumber daya dari dirinya. Dorongan yang ada dalam pribadi seseorang menuntut implementasi tidak menghiraukan keadaan seorang pelaku prososial demi mencapai tujuan guna membantu orang lain. Berdasarkan berbagai referensi di atas bahwa perilaku prososial memiliki tingkat pengaplikasian yang masif sehingga menjadi perilaku yang variatif untuk dipraktikan. Perilaku prososial adalah segala bentuk tindakan seseorang yang mencakup beragam bentuk yang menyebabkan keuntungan dan mengarahkan keadaan yang lebih baik pada kehidupan orang lain.  

Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) generasi milenial adalah generasi yang lahir antara  tahun 1980-an dan 2000-an yang kehidupanya tidak lepas dari teknologi. Generasi yang lahir ditengah perkembangan teknologi yang begitu masif. Generasi milenial mendapatkan pengaruh yang besar atas berbagai kontribusi teknologi termasuk teknologi informasi dan media sosial. Perilaku prososial pada generasi milenial mencerminkan perpaduan teknologi dengan tindakan sosial untuk memberikan pengaruh postif kepada orang lain. Teknologi menjadi pendorong sekaligus hambatan bagi terciptanya suatu perilaku prososial generasi milenial dimasyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998), relawan adalah orang- orang yang secara sukarela memberikan sumbangan pikiran, keahlian, tenaga, waktu, dan lain-lain, sebagai wujud kepedulian pada kemanusiaan, perubahan sosial atau lingkungan tertentu.  Menurut Schoender(Bonar & Fransisca, 2012) relawan adalah individu yang rela menyumbangkan tenaga atau jasa, kemampuan, dan waktu tanpa mengharapkan upah secara finansial atau tanpa mengharapkan keuntungan materi dari organisasi pelayanan yang mengorganisasi suatu kegiatan tertentu secara formal. Berdasarkan referensi di atas bahwa relawan melakukan perilaku prososial dengan keahlian atau keterampilan dibidang sosial. Relawan menjadi sebutan bagi mereka yang secara tanpa dorongan melakukan tugas sosial guna memberikan manfaat kepada orang lain. 

Menurut Omoto dan Snyder(1995), ciri-ciri dari relawan yaitu:

a.Selalu mencari kesempatan untuk membantu. Dalam membantu ini pertolongan yang diberikan membutuhkan waktu yang relatif lama serta tingkat keterlibatan yang cukup tinggi.

b.Komitmen diberikan dalam waktu yang relatif lama.

c.Memerlukan personal cost yang tinggi(waktu, tenaga, uang dan sebagainya).

d.Mereka tidak kenal orang yang mereka bantu.

e.Tingkah lakuyang dilakukan relawan adalah bukan keharusan.

Berdasarkan beberapa referensi di atas bahwa pada tingkatan ini relawan merupakan sebuah pelaku perilaku prososial yang mengimplementasikan berbagai dukungan postif melalui tindakan guna menolong, bergerak atif dan terjun untuk mengetahui serta menyelesaikan permasalahan sosial. Perilaku prososial muncul sebagai proses berkelanjutan dalam waktu tertentu. Keberadaan stimulus dalam proses mempegaruhi adanya reaksi perilaku prososial seorang relawan. Munculnya komitmen sebagai ciri-ciri sebagai keberlangsungan perilaku secara tetap yang menunjukan keseriusan dalam bertindak dalam kurun waktu tertentu.

Palang Merah Indonesia merupakan organisasi perhimpunan nasional  di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. Dilansir dari PMI.or.id, Sukarelawan PMI secara aktif bergerak dalam berbagai perilaku prososial seperti pelayanan berbasis masyarakat, pelayanan donor darah, pertolongan pertama, bencana dan konflik, layanan konseling dan sosialisasi pendidikan remaja sebaya, dapur umum, rekuitmen sukarelawan, pelatihan spesialisasi, pengembangan organisasi serta bimbingan sukarelawan muda dalam lingkup Palang Merah Remaja(PMR). Selama 74 tahun, PMI seacara konsisten telah membuktikan eksitensinya dalam membantu dan berkontribusi bagi bangsa sesuai 7 prinsip Kepalangmerahan dan Bulan Sabit Merah Internasional. Beberapa sukarelawan yang tergabung dalam Palang Merah Indonesia(PMI), sebagai berikut :

1. Korps Sukarela (KSR)

Korps sukarela adalah kesatuan unit PMI yang menjadi wadah bagi anggota biasa dan perseorangan yang atas kesadaran sendiri menyatakan menjadi anggota KSR.

2. Tenaga Sukarela (TSR)

Tenaga sukarela adalah anggota PMI yang direkrut dari kalangan masyarakat yang berlatar belakang profesi atau memiliki  keterampilan tertentu.

Sedangkan Palang Merah Remaja(PMR) adalah calon relawan yang terdiri dari usia 11-18 tahun yang mendapatkan pendidikan sebagai calon relawan masa depan. Palang merah Indonesia(PMI) berdiri pada tanggal 17 September 1945. Organisasi ini didirikan atas alasan membantu sesama dibidang sosial kemanusiaan sesuai secara profesional, independen dan sukarela.

B.F Skinner memiliki nama lengkap Burrhus Fredic Skinner adalah seorang 

anak pengacara yang lahir di Susquehana, Pensylvania , Amerika serikat pada tanggal 20 maret 1904. Skinner kecil merupakan anak yang kreatif dan telah mewarisi kecerdasan ibunya. Ayah skinner adalah seorang pengacara yang menjadi General Counsel disebuah perusahan batu bara. Sejak kecil, Skinner suka menulis beberapa karya sastra seperti puisi dan cerita pendek. Setelah lulus sekolah menengah, Skinner melanjutkan pendidikan tinggi di Hamilton College di dekat Uthica, Pada tahun 1932, Skinner meneruskan pendidikan di Hanvard mengambil kuliah jurusan psikologi yang mengkhusukan diri pada bidang tingkah laku hewan. Sebelum ia berkuliah di jurusan psikologi, Skinner telah terlebih dahulu meraih gelar doktor pada tahun 1931. Kemudian pada tahun berikutnya, Skinner menjalani peran sebagai salah satu pengajar di Universitas Minnesota. Skinner juga pernah menjabat sebagai dekan fakultas psikologi di Universitas Indiana sebelum akhirnya kembali ke Hanvard sebagai salah satu guru besar psikologi di Universitas Hanvard.

Mulai pada tahun 1930-1940-an, Skinner melakukan beberapa penelitian untuk tingkah laku hewan.Skinner meneliti tentang pengondisian operan (operant conditioning). Ia meneliti tingkah laku tikus dalam sebuah box yang disebut dengan skinner box. Pada tahun 1954, Sebuah symposium tentang kecendeungan-kecenderungan psikologi dikuti oleh Skinner. Pada tahun yang sama Skinner mendapatkan pengakuan sebagai “pencipta tehnologi pendidikan” setelah dirinya memamerkan hasil temuanya tentang penggunaan media dalam pembelajaran yang ia presentasi dalam Hanvard Educational Review pada tahun 1954. Dalam teori yang dikemukakan oleh thorndike bahwasanya skinner menyatakan tentang penguatan terhadap suatu perilaku yang cenderung akan diulangi sedangkan pada perilaku yang tidak ada unsur penguatnya cenderung akan menghilang atau terhapus. Konsep inilah yang menjadi dasar teori perubahan perilaku dari skinner. Skinner telah membutikan bahwa suatu perilaku muncul sebagai hasil adanya stimulus spesifik yang ada mempengaruhi suatu individu(Innate behavior) ataupun individu memunculkan stimulus itu sendiri setelah mendapat penguatan.

Stimulus dan penguat(reinforcement) perilaku prososial 

Dalam teori perubahan perilaku B.F Skinner tentang pengondisian operan(operant conditioning) menyatakan bahwa stimuli yang diberikan kepada seseorang akan mempersuasi seseorang untuk merubah sikapnya. Hal tersebut dapat terjadi apabila seseorang komunikator berhasil meyakinkan komunikan untuk menerima pesan yang disampaikan. Teori yang disebut dengan teori S-O-R (Stimuli-Organisme-Respon) menjadi salah satu cara yang efektif untuk melakukan kajian secara mendalam tentang cara paling efektif untuk menyampaikan informasi kepada komunikan(penerima informasi). Sebagai contoh, seorang guru menjelaskan materi pelajaran(mapel) kepada muridnya dengan metode ceramah dalam waktu yang lama tanpa adanya perubahan cara. Stimuli yang konstan yang diberikan kepada murid melalui teknik ceramah menyebabkan beberapa murid merasa mengantuk dan sulit menerima informasi. Hal inilah yang disebut sebagai respon(efek) dari adanya stimuli diawal tadi. 

Stimulus dan penguat(reinforcement) perilaku prososial anggota KSR PMI Kabupaten Pekalongan

Pada penelitian ini, peneliti hendak mengetahui tentang  pemberian stimuli terhadap tingkat partisipatif anggota milenial KSR PMI Kabupaten Pekalongan yang dikaji melalui metode studi kasus dengan tehnik wawancara(menanyakan beberapa pertanyaan kepada partisipan). Peneliti hendak mengelompokan anggota KSR menjadi 4 jenis kelompok  yakni, sebagai berikut :

1. Kelompok A

Merupakan seorang generasi milenial(18-35tahun) yang telah mendapatkan stimuli(pelatihan dan pendidikan dasar PMR) ditingkat sekolah menengah dan melanjutkan diri sebagai anggota Korps sukarela(KSR)

2. Kelompok B

Merupakan seorang generasi milenial(18-35tahun) yang telah mendapatkan stimuli(pelatihan dan pendidikan dasar PMR) secara aktif ditingkat sekolah menengah namun memutuskan tidak melanjutkan menjadi anggota korps sukarela(KSR).

3. Kelompok C

Merupakan seorang generasi milenial(18-35tahun) yang tidak pernah mendapatkan stimuli(pelatihan dan pendidikan dasar PMR) ditingkat sekolah menengah namun memilih bergabung menjadi anggota Korps Sukarela(KSR).

4. Kelompok D

Merupakan seorang generasi milenial(18-35tahun) yang tidak pernah mendapatkan stimuli(pelatihan dan pendidikan dasar PMR) ditingkat sekolah menengah dan tidak menjadi anggota korps sukarela(KSR).

Peneliti memilih 10 orang(sesuai kriteria kelompok) dan melakukan wawancara(mengajukan pertanyaan terbuka) melalui media sosial whatsapp. Daftar partisipan yang mengikuti wawancara adalah sebagai berikut :

1. SH, 23 tahun (Kelompok A)

2. KS, 23 tahun(Kelompok B)

3. FT, 22 tahun(Kelompok B)

4. AK, 21 tahun (Kelompok A)

5. DR, 20 tahun(Kelompok B)

6. NHA, 20 tahun(Kelompok A)

7. MIH, 20 tahun(Kelompok B)

8. FN, 19 tahun(Kelompok A)

9. WI, 19 tahun(Kelompok A)

10. HM, 19 tahun(Kelompok A)

Berdasarkan penelusuran, peneliti tidak mendapatkan anggota milenial Korps Sukarela PMI Kabupaten Pekalongan yang merupakan kelompok C. Hal ini berarti sepuluh partisipan adalah seseorang yang pernah mendapatkan stimuli(pelatihan dan pendidikan dasar PMR) di sekolah menengah namun memiliki respon(efek) yang berbeda. Peneliti menemukan bahwa 3 dari 10 partisipan yakni KS, DR, dan MIH adalah anggota kelompok B yang telah mengikuti kegiatan PMR secara aktif  mulai dari PMR Madya(SMP/MTS) hingga PMR Wira(SMA/SMK/MA) selama dua kali masa periode(dua tahun sebagai PMR Madya dan dua tahun sebagai PMR Wira). Sedangkan 5 anggota kelompok A yakni SH,WI,HM,FN,AK mendapatkan stimuli lebih pendek dan hanya pernah menjadi anggota PMR Wira(SMA/SMK/MA) selama satu kali masa periode(satu tahun sebagai anggota dan satu tahun sebagai pengurus). Sedangkan tersisa, satu orang(kelompok A) yakni NHA yang pernah mengikuti kegiatan PMR dari PMR Madya(SMP/MTS) hingga PMR Wira(SMA/SMK/MA) serta satu anggota kelompok B yakni FT yang pernah mengikuti PMR hanya dari PMR Wira(SMA/SMK/MA) selama satu kali masa periode. Dari temuan subjektif di atas, peneliti mengajukan pertanyaan kembali kepada tiga orang yakni KS,DR, dan MIH untuk menemukan respon(efek) dari stimuli(Keikutsertaan PMR dalam 2 kali periode). Pertanyaan yang diberikan kepada KSR, DR dan MIH,adalah sebagai berikut :


“ Apakah saudara mengikuti komunitas/lembaga sosial lain selain PMI?”


Dari pertanyan kepada tiga partisipan di atas, peneliti menemukan 2 dari 3 partisipan tidak mengikuti komunitas/lembaga sosial selain PMI. Sedangkan peneliti kembali mengajukan pertanyaan yang sama 7 partisipan lain yakni FT,SH,WI,HM,FN,NHA dan AK. Peneliti menemukan bahwa empat partisipan tidak mengikuti komunitas/lembaga sosial selain PMI yakni SH,FT,NHA dan WI. Sedangkan ada tiga partisipan mengikuti komunitas/lembaga sosial selain PMI yakni AK,FN dan HM. Sehingga dapat disimpulkan bahwa 4 dari 10 partisipan aktif mengikuti komunitas/lembaga sosial selain PMI dimana 3 diantaranya dari kelompok A. Berdasarkan beberapa temuan subjektif diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa semakin banyak dan semakin lama stimuli(Pendidikan dan pelatihan dasar PMR) dijalani oleh partisipan maka respon(efek) yang diteima oleh partisipan untuk terpersuasi menjadi anggota Korps Sukarela menjadi semakin kecil. Hal tersebut tersebut sangat relevan dengan hukum law extincion, dimana jika suatu tingkah laku stimulus penguat dalam kondisioning tidak diringi oleh stimulus penguat, maka tingkah laku akan menurun bahkan musnah. Gambaran teori tersebut dapat menjelaskan fenomena bahwa tiga partisipan pada kelompok B yang menerima stimuli(Pendidikan dan Pelatihan dasar PMR) lebih lama dan lebih besar daripada lima partisipan yang hanya menerima stimuli terbatas justru memiliki motivasi yang lebih kecil untuk bergabung menjadi relawan. Perilaku Alami(Innate Behavior) yang diharapkan dari pemberian stimulus yang spesifik ternyata melahirkan hasil berbeda. Sedangkan hal yang berlawanan terjadi pada partisipan dikelompok A. Dimana partisipan kelompok A yang mendapatkan stimuli terbatas(lebih pendek) cenderung mendapatkan motivasi lebih untuk bergabung menjadi anggota Korps sukarela. Hal tersebut sesuai dengan hukum pengondisian operan(operant condiotioning) dimana partisipan kelompok A mendapatkan penguat( aktif di beberapa organisasi/komunitas sosial lain) sehingga tingkah laku(motivasi) bergabung menjadi anggota Korps Sukarela semakin meningkat. Hal tersebut membuktikan adanya perilaku operan(operant behavior) dimana perilaku yang timbul berasal dari stimulus yang tidak diketahui dan semata-mata ditimbulkan oleh organisme itu sendiri.

KESIMPULAN

Peneliti percaya dan meyakini bahwa penelitian yang menggunakan studi kasus ini akan menjadi subjektif dan hanya berlaku pada suatu kelompok yang diteliti. Penelitian dilakukan dengan waktu yang terbatas dan perlu kajian secara mendalam kembali dengan menggunakan lebih banyak sample dan memerlukan lebih banyak variabel penelitian, Oleh karena itu penelitian ini hanya dapat menjadi referensi tambahan dan masih membutuhkan penelitian lanjutan dikemudian hari. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa hasil-hasil temuan subjektif di atas dapat membuktikan relasi teori B.F skinner dalam kehidupan nyata. Peneliti membuktikan bahwa stimuli diberikan tanpa adanya penguat akan menjadi semakin hilang atau terhapus. Prososial dalam bentuk perilaku menjadi penting untuk diciptakan agar menumbuhkan relawan-relawan milenial masa depan yang konsisten,loyal dan profesional.

SARAN

Peneliti percaya dan yakin pengubahan metode dan media pembelajaran dalam organisasi Palang Merah Remaja(PMR) sebagai proses pemberian stimuli perlu diperbaharui melalui cara-cara belajar yang ‘out of the box’ dan inovatif. 7 materi PMR sebagai bahan yang sangat cocok apabila mampu dikolaborasi melalui tehnik S-O-R dengan media dan metdode yang menarik. Peneliti percaya dan yakin pentingnya keaktifan generasi milenial dalam organisasi/komunitas sosial agar terus ditingkatan dan dielaborasikan dengan permasalahan yang relevan pada keadaan zaman. Kolaborasi menjadi iklim yang perlu dibangun untuk menciptakan kader-kader relawan harapan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Isti’adah, Feida Noorlail. 2020. Teori-Teori Belajar dalam Pendidikan. Tasikmalaya: EDU PUBLISHER

Ningrum, Hesti yunita,. Suprapti, Sri. “Pengaruh Karakteristik Informasi Akutansi dan desentralisasi terhadap kinerja manajerial (Studi kasus Palang Merah Indonesia Provinsi Jawa Tengah)”                                  

 (http://jurnal.untagsmg.ac.id/index.php/sa/article/viewFile/475/515 ,diakses 5 Juni 2020) Jurnal UNTAG Semarang Volume 5 Nomor 2 tahun 2016 

Sidiq, Ilham. 2015. “Gambaran Perilaku Prososial Pada Seorang Lansia(Studi Kasus Pada Seorang Relawan Lanjut Usia Yang Masih Aktif Dan Berkontributif Sebagai Sukarelawan Di PMI Kabupaten Bandung”. Diploma Thesis, UIN Sunan Gunung Djati. 

Irwanto,Filipus Neri. 2008. “Hubungan Motif Prososial dan Semangat Kerja Relawan dilembaga PMI Yogyakarta.” Skripsi , Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

www.pmi.r.id diakses pada tanggal 06/06/2020 pukul 14:02 WIB


Karya: Suwandi Aris Wibowo

Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah

Institut Agama dan Islam Negeri PekalonganAdd caption

Selasa, 30 Juni 2020

Kesalahpahaman Nilai Budaya dalam Interaksi Sosial Antar Budaya

Kehidupan manusia selalu dihadapkan pada berbagai fenomena pluralitas. Pluralitas warna kulit, pluralitas etnik, pluralitas agama, dan pluralitas bahasa. Bentuk interaksi manusia dengan manusia yang lain dapat berbentuk Asosiatif maupun Disosiatif. Beberapa permasalahan yang dapat menghasilkan bentuk interaksi sosial yang sifatnya asosiatif adalah, etnosentrisme, misunderstanding of culture value(kesalahpahaman nilai budaya), stereotip, dan prasangka.(Muslim, 2013).

Dalam konteks interaksi antara individu atau masyarakat yang berbeda etnik dalam suatu komunitas wilayah tertentu yang merupakan ciri masyarakat majemuk, biasanya berlangsung proses adaptasi, asimilasi, dan juga konflik. Adaptasi merupakan proses penyesuaian diri seseorang dengan lingkungan sebagai konsekuensi dari pengorganisasian penduduk.(Romli, 2015).

Di era yang semakin maju ini tentu masyarakat banyak yang memanfaatkan IPTEK terutama dalam berinteraksi. Mudahnya berinteraksi mengakibatkan setiap bangsa Indonesia dapat saling berinteraksi bahkan bisa dengan bahasa mereka masing-masing. Tujuannya untuk berbagi bahasa atau kebudaayan mereka masing-masing. Sebagaimana dikemukakan (Muslim, 2013), Tentunya sebuah tujuan yang ingin dicapai tidaklah mudah, dalam proses pencapaiannya pasti akan ada kendala/rintangan yang menghambat. Salah satu kendala yang terasa jelas adalah kesalahpahaman nilai budaya, karena itu, dalam makalah ini akan membahas fenomena beberapa bahasa yang dimaknai salah oleh budaya lain.

Dari penelitian Asrul Muslim (2013) telah banyak ditemukannya masalah-masalah dalam interaksi sosial antar budaya.. Pluralitas warna kulit, pluralitas etnik, pluralitas agama, dan pluralitas bahasa. Dengan pluralitas tersebut sering menjadi pemicu terjadinya konflik. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, diperlukan berbagai macam akomodasi yang dapat mempertemukan perbedaan-perbedaan tersebut sehingga terjadi kesepahaman dan pengakuan akan eksistensi terhadap suatu budaya.

Sedangkan dari penelitian H. Khomsahrial Romli (2015) dari jurnalnya yang berjudul ”Akulturasi dan Asimilasi dalam Konteks Interaksi Antar Etnik”, dalam konteks interaksi antara individu atau masyarakat yang berbeda etnik dalam suatu komunitas wilayah tertentu yang merupakan ciri masyarakat majemuk, biasanya berlangsung proses adaptasi, asimilasi, dan juga konflik. 
Dengan demikian, interaksi sosial dalam masyarakat majemuk dan plural memerlukan perhatian yang lebih. Masyarakat Indonesia perlu mempunyai sikap toleransi dan saling memahami kebahasaan maupun kebudayaan di antara masing-masing budaya. Dengan itu, mereka dapat menyatukan pemahaman dan meminimalisir masalah-masalah yang ada pada interaksi sosial antar budaya.

Indonesia terdiri dari berbagai etnis dan budaya yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa dan budaya yang ada di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing.Semua menunjukkan adanya perbedaan, keragaman dan keunikan, namun tetap dalam satu kesatuan yang utuh sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Uniknya perbedaan suku bangsa dan budaya pada setiap individu melebur menjadi satu kesatuan keluarga, yang kemudian dari keluarga akan melebur menjadi satu ikatan sosial. Keragaman tersebut disebut juga dengan pluralitas. Tidak hanya budaya dan suku bangsa saja, bahasa juga merupakan salah satu perbedaan yang seringkali dimaknai berbeda dengan makna yang sebenarnya.

Keberagaman suku bangsa, agama, budaya, dan bahasa seringkali ada dalam setiap lingkungan masyarakat. Biasanya perbedaan terjadi pada daerah yang jaraknya lebih jauh, tapi tanpa disadari daerah di sekitarpun berpotensi memiliki budaya, agama, dan bahasa yang berbeda. Contoh masyarakat di Pekalongan, tentu penduduknya tidak pure dari Pekalongan semua. Tetapi karena adanya suatu pernikahan antar individu seperti suku jawa dan sunda. Tentunya akan berdampak pada bahasa sunda yang akan didengar oleh masyarakat Pekalongan yang ada disekitarnya.

Adanya persamaan bahasa tetapi beda makna, menjadi salah satu masalah yang terjadi dalam interaksi sosial di masyarakat. Hal ini akan menimbulkan misunderstanding of culture values atau kesalapahaman nilai budaya. Contoh misunderstanding of culture values antarnegara yaitu, mengacungkan jari tengah bagi orang Amerika adalah suatu penghinaan, namun bagi orang Indonesia, hal tersebut adalah biasa-biasa saja. Kalau hal tersebut bagi orang Indonesia sebagai sesuatu yang wajar saat berada di Amerika, maka kemudian yang akan terjadi sebuah penolakan karena orang Amerika merasa terhina. 

Contoh antar daerah di Indonesia, ketika orang kota seperti Jakarta, berinteraksi dengan orang jawa, kemudian mengatakan “Mangga dimakan” . Orang jawa akan menyimpulkan bahwa orang Jakarta itu mempersilahkan makan. Padahal maksud dari orang Jakarta itu adalah menyuruhnya untuk memakan buah mangga yang ada.

Contoh lain orang jawa mengatakan pada orang sunda : geulis pisan. Orang jawa mengartikan itu sebagai pernyataan “cepat sekali”, namun orang sunda mengartikannya “cantik sekali”. Sama halnya dengan pepaya ketika orang Jakarta mengatakan pepaya artinya  buah papaya, berbeda makna dengan orang sunda yang mengartikan papaya sebagai gedang atau pisang dalam bahasa Indonesia. Perbedaan-perbedaan semacam ini, di sisi lain sebagai khasanah dan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia, namun pada sisi lain, merupakan boomerang akan lahirnya disintegrasi sosial. Pertanyaan kemudian yang muncul, apakah keragaman dan perbedaan tersebut mesti dihilangkan, kemudian mengacu pada satu budaya yang harus diikuti oleh budaya-budaya yang berbeda tersebut?. Tentunya perbedaan dan keragaman tidak dapat kita hindari, untuk menghilangkannya juga menjadi hal yang mustahil. Yang dapat kita ubah adalah cara menyikapinya dengan toleransi dan mengakui adanya keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Selain itu kita juga perlu memperkaya pengetahuan akan budaya-budaya tersebut sehingga keharmonisan dan perdamaian akan tercipta dalam keberagaman.

  • Masyarakat Indonesia adalah mayarakat yang multietnis dan memiliki banyak keragaman. Seperti keragaman warna kulit, etnik, agama, dan bahasa.
  • Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis baik hubungan antar individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok, yang didasari atas tujuan yang sama.
  • Beberapa permasalahan yang dapat menghasilkan bentuk interaksi sosial yang sifatnya asosiatif adalah, etnosentrisme, misunderstanding of culture value (kesalahpahaman nilai budaya), stereotip, dan prasangka.
  • Bentuk disosiatif terdiri atas, persaingan/kompetisi, kontravensi, dan konflik.
  • Adanya persamaan bahasa tetapi beda makna, menjadi salah satu masalah yang terjadi dalam interaksi sosial di masyarakat. Hal ini akan menimbulkan misunderstanding of culture values atau kesalapahaman nilai budaya. 
Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis baik hubungan antar individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok, yang didasari atas tujuan yang sama. Dikatakan sebagai interaksi sosial apabila memenuhi syarat bahwa adanya kontak sosial dan komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol serta  ada dimensi waktu.

Interaksi sosial juga dibagi dalam beberapa bentuk. Ada interaksi sosial bentuk asosiatif dan disosiatif. Dari kedua bentuk tersebut dibagi lagi menjadi beberapa bentuk lagi. Dengan pembagian bentuk asosiatif yaitu, kerja sama, asosiasi, asimilasi dan akulturasi. Sedangkan bentuk disosiatif terdiri atas, persaingan/kompetisi, kontravensi, dan konflik. Dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial bentuk asosiatif mengarah pada persatuan dan kerja sama. Sedangkan bentuk disosiatif bisa mengarah pada perpecahan.

Beberapa permasalahan yang dapat menghasilkan bentuk interaksi sosial yang sifatnya asosiatif adalah, etnosentrisme, misunderstanding of culture value, stereotip, dan prasangka. Dari permasalahan tersebut, salah satunya yang dampaknya sangat bisa dirasakan adalah tentang kesalahpahaman nilai budaya atau misunderstanding of culture value. Karena Indonesia terdiri atas beragamnya suku bangsa, ras, budaya, bahasa, dan agama. Syarat interaksi sosial adalah adanya komunikasi antar pelaku, sedangkan adanya perbedaan bahasa akan menghambat komunikasi antar pelaku. Apalagi jika adanya satu kata tetapi berbeda makna. Hal itu akan memicu kesalahpahaman dalam berkomunikasi dan bisa menimbulkan konflik. Oleh karena itu, pengetahuan akan budaya-budaya lokal sangat penting agar dapat tercipta keharmonisan dalam keberagaman berbudaya. Perlu adanya pemahaman akan bahasa dari daerah lain agar kedepannya bisa menujang komunikasi yang baik.

Daftar Pustaka
Asrul Muslim.“484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”.Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis.Vol. 1, No. 13, Hlm. 484.http://journal.uin alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020)
H. Khomsahrial Romli.“Akulturasi dan Asimilasi Dalam Konteks Interaksi Antar Etnik”. Vol. 8, No. 1, Februari 2015 https://media.neliti.com/media/publications/62927-ID-akulturasi-dan-asimilasi-dalam-konteks-i.pdf (diunduh pada 2 Juni 2020)
Vivian, Riris Loisa.“ Interaksi Sosial dan Komunikasi Antar Etnik di Tempat Kerja”.Studi Kasus interaksi Etnik Tionghoa dan Melayu di  PT. Permata Topaz Khatulistiwa PontianakVol. 3, No. 1, Juli 2019. Hlm 268-273.https://media.neliti.com/media/publications/93124-ID-komunikasi-antarbudaya-di-kalangan-mahas.pdf (diunduh pada 28 Mei 2020)
Marselina Lagu.“Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa Etnik Papua Dan Etnik Manado Di Universitas Sam Ratulangi Manado”. Vol. V. No.3. Tahun 2016. Hlm. 2 https://media.neliti.com/media/publications/93124-ID-komunikasi-antarbudaya-di-kalangan-mahas.pdf (diunduh pada 31 Mei 2020)
Direktori File UPI.“Interaksi Sosial”.http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/INTERAKSI_SOSIAL.pdf (diakses pada 2 Juni 2020)

Karya: Erna Hidayah
Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Pekalongan
email: ernahidayah01@gmail.com


Minggu, 31 Mei 2020

Webinar Braindilog Sosiologi Indonesia: New Normal Pasca Covid 19

Puji Syukur Kehadirat Allah.S.W.T Braindilog Sosiologi Indonesia pada tanggal 7 Juni 2020 telah menyelenggarakan webinar dengan antusias peserta yang sangat banyak dan dari berbagai daerah diseluruh Indonesia. Berikut ini adalah video dan materi webinar dari seluruh pemateri. Buat yang belum sempat mengikutinya bisa menonton melalui chanel youtube Braindilog Sosiologi Indonesia.


Video Pengantar Seminar 


Sesi 1


Sesi 2



Sesi 3



Download Materi Seluruh Pemateri Webinar Braindilog Klik disini