Minggu, 01 April 2018

Saadia Gaon Dan Tumbuhnya Tradisi Penulisan Judeo Arabic Di Era Pemerintahan Islam: Sebuah Tinjauan Sosio Historis

Ekspansi Islam ke wilayah-wilayah yang jauh dari episentrum kemunculannya di Arabia hingga memasuki pusat-pusat kekuasaan dunia kala itu yaitu di Persia, Konstantinopel, Spanyol dll bukan hanya menancapkan pengaruh kekuasaan politik dan agama namun juga turut mengubah struktur sosial dan kebudayaan masyarakat yang dikuasainya. Terjadi masa-masa keemasan pemerintahan Islam dimana ilmu pengetahuan dan sastra berkembang akibat proses penerjemahan karya-karya klasik dalam bahasa Arab baik yang dilakukan oleh orang-orang Islam maupun non Islam yang berhasil ditundukkannya termasuk komunitas Yahudi.

Orang-orang Yahudi dan Kristen di wilayah pemerintahan Islam menerima status baru yang tidak sama sebelumnya dan mengubah struktur sosial lama dengan menjadi seorang dhimmi yaitu menjadi bagian dari pemerintahan Islam yang dilindungi dan membayar pajak sebagai bentuk pengakuan dan perlindungan. Tentu saja status dhimmi bisa dikatakan sebagai warga minoritas dan kelas dua yang memiliki sejumlah keterbatasan dan pembatasan sehingga setiap bentuk pelanggaran terhadap pembatasan tersebut akan memiliki sejumlah konsekwensi hukum.

Status sebagai dhimmi membentuk hubungan sosial baru sekaligus membentuk pola interaksi sosial dan keagamaan yang adaptif dan asimilatif dimana salah satunya menumbuhkan perkembangan bahasa Judeo-Arabic di wilayah-wilayah dimana komunitas Yahudi berada di bawah naungan pemerintahan Islam khususnya di Persia, Babilonia (Baghdad), Spanyol (Kordoba), Byzantium (Konstantinopel). Nama Saadia Gaon mengemuka sebagai sarjana Yahudi dan Yudaisme yang mengembangkan tradisi penulisan baru dalam bahasa Ibrani berkarakter Arab dan bahasa Arab berkarakter Ibrani yang disebut Judeo-Arabic dan dipergunakan untuk menerjemahkan Kitab Torah dan karya Teologi Yudaisme serta berbagai karya sastra berupa puisi-puisi Ibrani.

Karya-karya Teologi Yudaisme yang disusun oleh Saadia Gaon harus dibaca dalam konteks sosiologis dan historis dan tidak bisa terlepas dan berdiri sendiri khususnya saat membaca Tafsir at Tawrat yang merupakan terjemahan Kitab Pentateukh atau 5 Kitab Torah Musa yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan dalam bahasa Judeo-Arabic dimana akan ditemui nama Tuhan, nama nabi, nama kota suci yang familiar di telinga pembaca Muslim seperti Allah, Ibrahim, Ismail, Mekkah dan Medinah.

Membaca karya-karya Teologi Yudaisme Saadia Gaon bukan hanya memberikan pemetaan sitz im leben atau life setting atau social situation komunitas Yahudi – baik para sarjana maupun masyarakat umum - sebagai dhimmi, namun sekaligus memberikan sebuah peluang baru dalam membaca hubungan keagamaan khususnya Islam dengan Yahudi yang lebih kerap tampil ke permukaan dalam bentuk yang saling menegasikan dan anti tesis satu sama lain. Setidaknya pada suatu masa pernah ada sebuah interaksi sosial yang harmoni dan saling melengkapi antara Yahudi dan Islam dalam sebuah pembangunan bersama menuju sebuah pembangunan peradaban dan Renaisance dunia Islam.

Secara lengkap artikel ini disa dibaca / diunduh dengan mengakses kolom baca dibawah ini:


Karya: Teguh Hindarto, S.Sos., MTh

0 komentar:

Posting Komentar