Rabu, 12 Agustus 2020

Solidaritas Sosial Pada Masyarakat Pedesaan

Masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang homogen. Dalam kehidupan sehari-hari interaksi sosial yang dilakukan sudah saling mengenal antara orang yang satu dengan yang lainnya. Keakraban antar manusia menumbuhkan kegiatan yang ada dilakukan secara bersama-sama. Masyarakat desa yang identik dengan kesederhanaan masih menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Solidaritas sosial masyarakat pedesaan masih kuat yaitu saling tolong-menolong dalam berbagai hal. Aktivitas sosial yang dilakukan mencerminkan kerjasama, kekompakan, dan gotong royong sebagai modal tindakan keseharian dalam kegiatan yang dilakukan. Masyarakat desa masih memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam wujud aktivitas sosial. Aktivitas yang dilakukan dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu budaya, sosial, politik, hukum, agama, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Kiranya serangkaian aktivitas manusia masyarakat pedesaan menjadi menarik untuk diperbincangkan karena memuat unsur keseragaman dalam pola kehidupan. Masyarakat desa adalah masyarakat yang unik yang masih tradisional jauh dari bingar-bingar perkotaan. Antara manusia yang satu dengan yang lainnya terjalin hubungan sosial yang sangat erat sehingga kalau terjadi apa-apa pada saudara, tetangga, kerabat pasti mengetahuinya dengan cepat. Manusia yang satu dengan manusia yang lain saling membutuhkan sehingga ketika ada pekerjaan bisa dilakukan secara bersamaan. Solidaritas sosial yang ada pada masyarakat pedesaan masih kental, ikatan sosial juga tinggi. Hal demikian menandakan bahwa keintiman pada masyarakat dapat menjaga nilai dan norma yang ada di masyarakat dengan baik. Masyarakat desa dalam menjalankan aktivitas sosial berkaitan dengan solidaritas sosial, yang mana tipe solidaritas sosial pada masyarakat pedesaan cenderung bersifat primitif-pedesaan.  

Masyarakat Desa 

Menurut Damsar dan Indrayani :2016, perdesaan berasal dari kata desa. Kata yang berasal dari bahasa Jawa. Desa dalam bahasa etnik yang terdapat di Indonesia dikenal dalam berbagai istilah seperti Batak disebut dengan huta atau kuta, Minangkabau dikenal sebagai nagari, Aceh disebut sebagai gampong, Bugis dikenal dengan matowa, Makassar disebut dengan gukang, atau Minahasa disebut dengan wanua. Dengan demikian penamaan desa yang ada di seluruh Indonesia sangat beragam. Desa yang ada memiliki kekhasan dan keunikan sendiri dari masing-masing suku tersebut. Potensi yang dimiliki masyarakat desa juga melimpah terutama berkaitan dengan Sumber Daya Alamnya. Selain itu jika digali lebih lanjut dalam masyarakat desa juga memiliki budaya yang menjadi ciri penanda dari desa tersebut, sehingga bisa dikembangkan menjadi nilai-nilai yang berdaya guna.  Menurut Luthfia : 2013, desa merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan bernegara khususnya di Indonesia. Di era otonomi daerah pemerintah pusat mencoba memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengelola potensi daerahnya.

Tipologi wilayah pedesaan hampir sebagian besar masih perkampungan atau dusun. Mata pencaharian masyarakatnya lebih dominan pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan sejenisnya. Karakteristik masyarakatnya masih berkaitan dengan etika dan budaya setempat seperti berperilaku sederhana, mudah curiga, menjunjung tinggi kekeluargaan, lugas, tertutup dalam hal keuangan, menghargai orang lain, jika diberi janji akan selalu diingat, suka bergotong royong, demokratis, religius, dan lainnya (Jamaludin : 2015). Masyarakat desa dalam sektor agraris hampir semua penduduknya bekerja dalam lingkup yang sama. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang lebih beragam dalam urusan pekerjaan. Adapun penduduk yang ada di masyarakat desa juga tidak sepadat di perkotaan. Perkampungan atau dusun masih berkelompok pada masing-masing desa yang dikelilingi oleh area persawahan atau pepohonan yang masih banyak kita jumpai.

Solidaritas Sosial

Solidaritas sosial merupakan tema utama yang dibicarakan oleh Durkheim sebagai sumber moral untuk membentuk tatanan sosial ditengah masyarakat. Durkheim menyatakan bahwa asal-usul otoritas moralitas harus ditelusuri sampai pada sesuatu yang agak samar-samar yang ia sebut “masyarakat” (Hasbullah, 2012). Solidaritas dalam setiap kelompok atau masyarakat berbeda kadarnya. Intensitas dalam integrasi sosial sangat mempengaruhi dalam keikutsertaan di masyarakat. Menurut Saidang dan Suparman : 2019, solidaritas sosial menunjuk satu keadaan hubungan antara individu dengan kelompok yang ada pada suatu komunitas masyarakat yang didasari pada moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman bersama. Jadi interaksi sosial yang dibangun dalam kelompok atau masyarakat adalah komponen terciptanya solidaritas sosial yang ada di masyarakat. Interaksi sosial dapat tercipta secara rekat ataupun longgar sesuai dengan kebutuhan masing-masing manusia. Solidaritas sosial yang dikemukakan Durkheim merujuk pada solidaritas sosial mekanik dan solidaritas sosial organik.

Menurut Upe (2010) berikut ciri-ciri pembeda antara struktur solidaritas mekanik dan struktur solidaritas organik :

Solidaritas Mekanik

Solidaritas Organik

Pembagian kerja rendah

Pembagian kerja tinggi

Kesadaran kolektif kuat

Kesadaran kolektif rendah

Individualitas rendah

Individualitas tinggi

Hukum represif dominan

Hukum restitutif dominan

Konsensus terhadap pola-pola normatif penting

Konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum penting

Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang

Badan-badan kontrol yang menghukum orang yang menyimpang

Saling ketergantungan rendah

Saling ketergantungan tinggi

Bersifat primitif-pedesaan

Bersifat industrial-perkotaan


Analisis Masyarakat Desa dengan Pendekatan Solidaritas Sosial Durkheim

Desa terdiri dari beberapa dusun atau kampung yang melingkupinya. Masyarakat desa dalam menjalankan serangkaian kegiatan dapat dianalisis dengan teori Emile Durkheim tentang solidaritas sosial. Solidaritas sosial dapat dijabarkan kedalam 2 tipe yaitu solidaritas mekanik dan organik. Secara universal masyarakat desa dapat ditelaah dengan teori dari Emile Durkheim dengan pendekatan solidaritas sosial mekanik. Solidaritas sosial mekanik menekankan interaksi sosial yang ada pada masyarakat bersifat rekat, antara yang satu dengan yang lain hubungannya saling membutuhkan. Dalam pembagian kerja juga sangat rendah, saling bahu-membahu untuk mengerjakan pekerjaan. Rasa empati tertinternalisasi dalam diri, karena sekian lama sudah saling mengenalnya. Aturan-aturan yang sudah ada dan tercipta di dalam masyarakat, untuk pengambilan sikap dalam proses penyelesaian masalah pertama kali adalah masyarakat itu sendiri bukan lembaga hukum. Ketika ada seseorang yang melakukan penyimpangan sosial maka yang berhak pertama kali untuk menghukum adalah masyarakat. keterikatan individu di dalam masyarakat sangat erat. Solidaritas dari setiap manusia sudah tertanam sedemikian tinggi untuk melakukan jalinan sosial. Individualitas manusia juga sangat rendah, yaitu rasa memiliki akan kehadiran orang lain betapa pentingnya dalam masyarakat.

Wujud Solidaritas Sosial dalam Masyarakat Desa

Dalam menjalankan aktivitas terkait erat dengan beberapa aspek yang melingkupinya diantaranya yaitu lingkup budaya, sosial, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain-lain. Solidaritas sosial juga sangat terlihat ketika seseorang atau kelompok melakukan hubungan sosial dalam aktivitas yang dilakukan. Berikut beberapa uraian dalam wujud solidaritas sosial :

a.       Lingkup budaya

Masyarakat desa kaya akan budaya yang dimilikinya. Pewarisan budaya yang dimiliki masih ada sampai saat ini. Contohnya tradisi yang masih dilakukan adalah selametan 7 bulanan bayi (mitoni), siraman pengantin, gotong royong membangun rumah, dan lain-lain. Dimana setiap masyarakat yang ada selalu dilibatkan dalam serangkaian acara tersebut.

b.      Lingkup sosial

Kerja bakti yang dilakukan oleh masyarakat desa mempererat hubungan sosial yang ada. Sering diadakannya kegiatan tersebut menambah interaksi sosial semakin dekat antara individu yang satu dengan yang lainnya.

c.       Lingkup politik

Dalam pemilihan kepala daerah misalnya, maka pemilihan terhadap tokoh yang dipilihnya biasanya timbul dari keselarasan masyarakat desa tersebut. Pola pikir yang cenderung sama dalam menentukan pilihan politik tidak jauh beda antara orang yang satu dengan yang lain.

d.      Lingkup hukum

Hukum yang ada adalah berasal dari masyarakat tersebut. Maka ketika ada seseorang melakukan penyimpangan atau tindak kejahatan yang pertama kali memberikan hukuman adalah masyarakat itu sendiri.

e.       Lingkup ekonomi

Dalam jual-beli masyarakat desa yang lebih diutamakan adalah tuna satak bathi sanak, artinya lebih mementingkan persaudaraan daripada untung material yang diperoleh.

f.       Lingkup pendidikan

Pendidikan dalam masyarakat desa cenderung homogen. Maka untuk melakukan belajar bersama adalah hal yang mungkin untuk dilakukan oleh para siswa.

g.      Lingkup agama

Agama yang dimiliki oleh masyarakat desa biasanya sama. Perbedaan agama yang ada sangat jarang dijumpai. Selain itu dalam tindakan keberagamaan biasanya dilakukan secara bersama-sama.

KESIMPULAN

Masyarakat desa adalah masyarakat yang homogen. Dalam melakukan suatu pekerjaan bisa dikerjakan secara bersama-sama. Hubungan interaksi sosial yang ada sangat intens. Individualitas masyarakat pedesaan sangat rendah. Dalam melakukan aktivitas dapat dilihat dari solidaritas sosial yang ada, baik lingkup secara budaya, sosial, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain-lain dapat digambarkan keadaannya. Solidaritas sosial masyarakat desa cenderung mengarah pada solidaritas mekanik.

DAFTAR PUSTAKA

Damsar dan Indrayani. 2016. Pengantar Sosiologi Perdesaan. Jakarta : Kencana.

Hasbullah. 2012. “REWANG : Kearifan Lokal dalam Membangun Solidaritas dan Integrasi Sosial Masyarakat di Desa Bukit Batu Kabupaten Bengkalis”. Jurnal Sosial Budaya. Vol. 9, No 2.

Jamaludin, Adon Nasrullah. 2017. Sosiologi Perdesaan. Bandung : Pustaka Setia.

Luthfia, Agusniar Rizka. 2013. “Menilik Urgensi Desa Di Era Otonomi Daerah”. Journal of Rural and Development. Vol. IV, No 2.

Saidang dan Suparman. 2019. “Pola Pembentukan Solidaritas Sosial dalam Kelompok Sosial Antara Pelajar”. Edumaspul. Vol.3, No 2.

Upe, Ambo. 2010. Tradisi Aliran Dalam Sosiologi. Jakarta : Rajawali Pers.

Karya: Alfan Biroli (Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Trunojoyo Madura) 	Email: alfan.biroli@trunojoyo.ac.id
Karya: Alfan Biroli

(Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Trunojoyo Madura)

   Email: alfan.biroli@trunojoyo.ac.id

0 komentar:

Posting Komentar