Selasa, 19 September 2017

Urbanisasi Dan Kemiskinan Kota Medan

1.PENDAHULUAN 
Urbanisasi yang semakin masif dan tak terkendali yang dialami oleh kota-kota besar di Indonesia seperti Kota Medan ,menjadi salah satu fakta sosial yang terjadi di negeri ini. Beberapa kenyataan yang ditemukan dari tingginya angka urbanisasi membawa dampak negatif bagi proses pembangunan negara ini.Urbanisasi terkesan merupakan sebuah trend yang sangat populer terjadi di indonesia.Sehingga memunculkan pemikiran-pemikiran bagaimana urbanisasi yang terjadi selama ini bisa menciptakan dampak pada bertumbuhnya kemiskinan kota.

Tidak terkendalinya tingkat urbanisasi akan mendorong terciptanya kantong-kantong kemiskinan berupa slum area (pemukiman kumuh) di perkotaan seperti  Kampung Madras yang banyak diketahui oleh banyak orang di Kota Medan.Pemukiman kumuh ini biasanya memangkas jalur hijau seperti sungai sehingga dengan keberadaanya membuat masalah baru bagi kota.Pemilihan jalur sungai sebagai tempat tinggal merupakan salah satu pilihan terakhir untuk hidup di kota disebabkan semakin mahalnya tinggal di tengah kota,maka daerah sungai dipilih menjadi tempat pemukiman penduduk kelas rendah (miskin).

Urbanisasi dan kemiskinan di kota merupakan hal yang sangat menarik untuk diketahui oleh pembaca ,apalagi dengan objek analisa terletsk di Kota Medan.Maka dari itu penulis mencoba membuka sebuah pembahasan mengenai urbanisasi dan kemiskinan Kota Medan sehingga dapat menambah wawasan akademik pembaca.

2.Tinjauan Pustaka

Kemiskinan
Pada umumnya kemiskinan diketahui sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memperoleh pelayanan -pelayanan dan barang untuk memenuhi kebutuhan lainnya.Kemiskinan juga merupakan masalah yang sering muncul pada saat masa pembangunan ,kemiskinan itu sendiri dilatarbelakangi oleh dimensi-dimesni seperti dimensi ekonomi,sosial dan budaya.Dengan kata lain kemiskinan merupakan masalah yang multidimesnsional.

Dalam Bagong definisi kemiskinan menurut Sajogyo merupakan suatu tingkat kehidupan yang berada dibawah standar kebutuhan hidup minimum yang ditetapkan atas kebutuhan pokok pangan yang membuat orang cukup bekerja dan hidup sehat berdasarkan atas kebutuhan beras dan kebutuhan gizi. Bagong Suyanto dalam bukunya membagi kemiskinan  menjadi dua yaitu kemiskinan relatif dan kemiskinan absoliute.Kemiskinan digambarkan dengan beberapa persen dari pendapatan nasional yng diterimakan oleh kelompok penduduk dengan kelas pendapatan tertentu  dibandingkan dengan proporsi pendapatan nasional yang diterima oleh kelompok penduduk dengan kelas pendapatan lainnya sedangkan kemiskinan absolute ialah sebagai sesuatu keadaan di mana tingkat pendapatan absolute dari satu orang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, pemukiman, kesehatan dan pendidikan.

Ciri-Ciri Kemiskinan
Dengan melihat banyaknya ukuran yang dapat digunakan untuk menentukan seseorang atau kelompok orang untuk disebut miskin atau tidak miskin,maka umumnya para ahli akan merasa kesulitan dalam mengklasifikasikan masyarakat menurut garis kemiskinan .namun dari berbagai studi yang ada ,pada dasarnya ada beberapa ciri dari kemiskinan yaitu :
  1. Tidak memilki Faktor produksi,seperti tanah yang cukup,modal taupun keterampilan.
  2. Tidak mempunyai kemiskinan untuk memilki faktor produksi dengan kekauatan sendiri.
  3. Tingkat Pendidikan yang rendah.
  4. Bekerja sebagai buruh tani.
  5. Tidak memiliki keterampilan,skill ataupun pendidikan.
Urbanisasi
Urbanisasi pada umumnya dikenal sebagai sebuah proses geografi yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota ,adapula diketahui sebagai salah satu proses perubahan fisik suatu wilayah yang dulunya desa kecil berkembang menajdi suautu wilayah sangat maju yang disebut perkotaan ,dengan kata lain yaitu urbanisasi ini disebut sebagai proses pengkotaan.Tetapi urbanisasi yang dibahas kali ini yaitu urbanisasi yang mengacu pada proses geografis  yaitu perpindahan penduduk desa ke kota.Adapun definisi kemikinan menurut beberapa ahli seperti Shogo kayono dalam Abbas (2002) memberikan pengertian urbanisasi sebagai perpindahan dan pemusatan penduduk secara nyata yang memberi dampak dalam hubungannya dengan masyarakat baru yang dilatar belakangi oleh faktor sosial, ekonomi, politik dan budaya. Sementara Keban dalam Abbas (2002) berpendapat bahwa urbanisasi jangan hanya dalam konteks demografi saja karena urbanisasi mengandung pengertian yang multidimensional.

Urbanisasi dari pendekatan demografis berarti sebagai suatu proses peningkatan konsentrasi penduduk diperkotaan sehingga proporsi penduduk yang tinggal menjadi meningkat yang biasanya secara sederhana konsentrasi tersebut diukur dari proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan, kecepatan perubahan proporsi tersebut, dan perubahan jumlah pusat-pusat kota. Sedangkan urbanisasi menurut pendekatan ekonomi politik didefenisikan sebagai transformasi sosial ekonomi yang timbul sebagai akibat dari pengembangan dan ekspansi kapitalisme (capitalist urbanization). Dalam konteks modernisasi, urbanisasi mengandung pengertian sebagai perubahan nilai dari orientasi tradisional ke orientasi modern sehingga terjadi difusi modal, teknologi, nilai-nilai, pengelolaan kelembagaan dan orientasi dari masyarakat tradisional ke dunia barat (kota).

Dampak Urbanisasi
Di Indonesia, persoalan urbanisasi sudah dimulai dengan digulirkannya beberapa kebijakan ”gegabah” orde baru. Pertama, adanya kebijakan ekonomi makro (1967-1980), di mana kota sebagai pusat ekonomi. Kedua, kombinasi antara kebijaksanaan substitusi impor dan investasi asing di sektor perpabrikan (manufacturing), yang justru memicu polarisasi pembangunan terpusat pada metropolitan Jakarta. Ketiga, penyebaran yang cepat dari proses mekanisasi sektor pertanian pada awal dasawarsa 1980-an, yang menyebabkan kaum muda dan para sarjana, enggan menggeluti dunia pertanian atau kembali ke daerah asal (Fitri Ramdhani Harahap.2013:37).

Arus urbansiasi yang tidak terkendali ini dianggap merusak strategi rencana pembangunan kota dan menghisap fasilitas perkotaan di luar kemampuan pengendalian pemerintah kota. Beberapa akibat negatif tersebut akan meningkat pada masalah kriminalitas yang bertambah dan turunnya tingkat kesejahteraan. Dampak negatif lainnnya yang muncul adalah terjadinya “over urbanisasi” yaitu dimana prosentase penduduk kota yang sangat besar yang tidak sesuai dengan perkembangan ekonomi negara. Selain itu juga dapat terjadi “under ruralisasi” yaitu jumlah penduduk di pedesaan terlalu kecil bagi tingkat dan cara produksi yang ada. Pada saat kota mendominasi fungsi sosial, ekonomi, pendidikan dan hirarki urban. Hal ini menimbulkan terjadinya pengangguran dan under employment. Kota dipandang sebagai inefisien dan artificial proses “pseudo-urbanisastion”. Sehingga urbanisasi merupakan variable dependen terhadap pertumbuhan ekonomi.

Persoalan-persoalan urbanisasi telah menjadi perhatian yang cukup besar, beberapa pemikiran yang membahas dampak urbanisasi dari sudut pandangn ekonomi yaitu Evers dalam Abbas (2002) berpendapat bahwa tingkat urbanisasi yang terlalu rendah dan mengabaikan kebutuhan-kebutuhan kota dapat memperlambat kemajuan ekonomi. Sedangkan menurut Keban, proses urbanisasi yang tidak terkendali dan adanya hirarki kota akan menimbulkan berbagai akibat negatif yaitu munculnya gejala kemiskinan di perkotaan, ketimpangan income perkapita, pengangguran, kriminalitas, polusi udara dan suara, pertumbuhan daerah kumuh, dan sebagainya.

3.PEMBAHASAN
3.1. Isi Artikel Dan Pembahasan

Kemiskinan merupakan hal yang menajdi trend dalam menghadapi masalah pembangunan di suaut negara.Kemiskinan tak lain dan tak bukan merupakan kondisi yang menyebabkan banyak orang merasakan pedihnya kehidupan di lingkungan masyarakat.Kemiskinan sering sekali dianggap sebagai masalah ekonomi yang terjadi karena kebutuhan seperti sandang ,pangan tidak mampu terpenuhi oleh seseorang.Adapula kemskinan diakibatkan oleh kondisi sosial yang sering disebut oleh kemiskinan struktural ,banyak dari beberapa literatur mengatakan bahwa kemiskinan merupakan salah satu bentuk kemiskina yang disebabkan oleh adanya rekonstruksi struktur masayarakat menyebabkan masayarkat kesulitan untuk mengakses pelayanan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan hidup.Rekonstruksi tersebut pada awalnya dibentuk oleh situasi politik suatu negara yang secara tidak langsung menekan kelas-kelas sosial bawah untuk tidak bisa melakukan mobilitas sosial vertikal dengan mudah.

Banyaknya kategori kemiskinan dalam beberap literatur telah memberi wawasan bagi kita mengenai kemiskinan itu sendiri .Namun harus kita ketahui bahwa kemiskinan pada umumnya terjadi di daerah perkotaan seperti Kota Medan yang juga merupakan salah satu yang masuk dalam hitungan kota besar di Indonesia.Kota medan merupakan salah satu daerah yang dikelilingi desa-desa yang penduduknya memilki karakteristik agraris dan memiliki kebutuhan –kebutuhan untuk bertahna hidup yang sudah terusik di daerah tempat tinggalnya di kabupatennya masing-masing.Terusiknya para warga kabupaten ini disebabkan oleh berkurangnya sumber mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga mendorong mereka untuk melakukan perpindahan tempat tinggal dari desa ke kota atau sering kita sebut sebagai proses urbanisasi .Urbanisasi bukan hanya disebabkan oleh berkurangnya sumber mata pencaharian di daerah desa , namun adapula yang urbanisasi terjadi karena adanya ketimpangan pembangunan sautu daerah yang sentralistis dan cenderung mengundang banyak orang untuk mencoba peruntungan hidup di kota yang sedang dibangun .Harapan dari penduduk desa yang melakukan urbanisasi ini yaitu mendapat pekerjaan dan kehidupan baru tetapi mereka pada umumnya tidak memilki kualifikasi untuk menajdi warga kota.Memang pada awalnya kaum –kaum urbanisan (orang desa yang melakukan urbanisasi) ini dibutuhkan untuk meberi sumbangan untuk meramaikan kegiatan pembangunan tetapi setelah pembangunan dirasa mapan mereka akan tidak dibutuhkan lagi.Kemudian yaitu mereka yang bekerja sebagai peneydia jasa seperti becak ,angkot pada awalnya mereka sangat dibutuhkan untuk membantu bergeraknya roda perekonomian di sautu daerah.Tetapi ketika ekonomi mulai mapan di sautu daerah para urbanisan tersebut yang bekerja dalam bidang jassa angkutan akan tersisihkan oleh kendaraan pribadi penduduk kota.

Sama halnya dengan masyarakat Kota Medan ,awalnya becak dan angkot menjadi primadona angkutan digunakan sebagai moda transportasi darat untuk melakukan aktivits namun berkembangnya Kota Medan dan semakin mapanya perekonomian mendorong penduduk yang merasa mampu untuk membeli kendaraan pribadi dan di satu sisi penyedia transportasi becak dan angkot pelan-pelan mulai menghadapi nerakanya.
Jika membandingkan Kota Medan dan kota-kota yang ada di dalam Sumatera seperti Kota Jambi tentunya sangat berbeda dalam dimensi masyarakatnya.Dan pastinya akan berbeda pula karkater masyarakatnya dan akan juga mempengaruhi kondisi sosial ekonominya.Di jambi urbanisasi mengikuti musim –musim libur besar tetapi setelah beberapa bulan kemudian mereka pulang ke kampung halaman kembali lagi menjadi tenaga kerja di desa.Hal tersebut karena disebabkan masih luasnya lapangan kerja di desa dan masih banyak bisa ditemukan kesempatan kerja sebagai tenaga kerja kebun-kebun perusahaan maupun milik pribadi.Selain itu kegiatan urbanisasi di jambi pada umumnya terlihat hanya sementara seperti untuk membeli kebutuhan rumah tangga untuk diperdagangkan di desa.

Urbanisasi pada saat ini telah menjadi sebuah problema sosial dalam masayarakat Indonesia. Urbanisasi dianggap sebuah kondisi yang akan menyebabkan kota semakin ramai dan padat sehingga akan menimbulkan masalah spasial dan yang tidak memilki cukup kekuatan modal akan terpinggirkan ke daerah kumuh ,kemudian akan ter-marginalisasi oleh keadaan ekonomi.Dampak yang paling jelas dari urbanisasi yaitu akan menimbulkan kemiskinan kota dan membentuk kantong-kantong kemiskinan.Salah satu yang menjadi pendirian untuk mengatasi kemiskinan kota yang diakibatkan masifnya urbanisasi ialah melakukan pembangunan perdesaan yang berwawasan lingkungan sehingga tidak merusak ekosistem setempat.Hal tersebut perlu dilakukan karena dengan bertahnaya alam di desa akan berkontribusi menghambat laju urbanisasi yang besar ke kota.Alasan utama yaitu bahwa desa yang di dominasi oleh kegaitan pertanian sesungguhnya harus mendapat perhatian dari pemerintah supaya bisa bertahan dengan alamnya.Asumsi lain yaitu bahwa Desa yang terjaga lingkungannya akan menjamin masyarakatnya bisa mendapatkan sumber kehidupan lebih mudah karena alam desa masih terjaga.

Selain itu untuk menjamin masayarakat desa bisa bertahan di desa yaitu pemerintah harus melakukan pemberdayaan komunitas –komunitas yang ada di masyarakat desa seperti pemberdayaan berupa pelatihan menjahit dan keterampilan lainnya supaya dapat menciptakan sebuah karya yang memiliki nilai komersil. Pemberdayaan masyarakat juga bisa dilakukan dengan memberi pelatihan –pelatihan untuk membangun home industry.Pelatihan untuk membangun Home industry ini sesuguhnya merupakan hal yang sangat tepat untuk menghambat laju urbanisasi karena apabila home industry terbentuk maka akan membantu masayarkat desa bisa hidup dengan damiai di desa.Contohn nyata yaitu terdapat pada desa Tuntungan 1 Kecamatan Pancur Batu Sumatera Utara, dimana ada sekitar 30 home industry yang berdiri dan berkontribusi menghidupkan keluarga – keluarga kecil yang ada di desa,.Usaha yang dilakukan home industry  disana yaitu pembuatan opak ubi yang pasarnya sudah menembus luar Sumatera,dalam penelitian yang dilakukan saat berkunjung disana ditemukan data bahwa penduduk desa tidak ada yang menggangur sama sekali,baik orang tua yang tidak produktif  atau masih produktif serta anak muda yang putus sekolah.Dan pemberdayaan merupakan salaha satu cara yang tepat untuk menghambat pertumbuhan urbanisasi yang besar dan menghindari dampak terciptanya kemiskinan kota.

Apabila tidak dilakukan pemberdayaan di desa,maka ditakutkan yaitu urbanisasi akan terjadi dan kota akan disesaki oleh kepadatan penduduk yang semerawut seperti banyak tumbuh perumahan kecil atau besar memunculkan jurang sosial , kemudia munculah sektor –sektor informal seperti pedagang kai lima  yang menjajahkan barangnya di jalan dan menimbulakn kemacetan di jalan.Tumbuhnya sektor informal ini merupakan efek yang berlanjutnya selesainya masa awal pembangunan sebuah daerah sehingga orang – orang yang menyediakan jasa – jasa itu tidak terpakai lagi dan terpaksa harus mencari sebuah peruntungan baru di jalan menjadi pedagang ataupun sektor informal lainnya.Sektor informal tersebut pun mengalami masalah – masalah baru yang sangat tidak adil yaitu adanya tindakan represif dari aparat setempat dengan cara melarang – melarang aktivitas- aktivitas informal seperti berdagang di jalan.Hal tersebut dilakukan di sebabkan oleh ketidaknyamanan yang ditimbulkan dari aktivitas berdagang sektor informal.

3.1.1 Isi hasil Dan Pembahasan
Berdasarkan uraian di atas kita mengetahui bahwasanya urbanisasi bisa menjadi sebuah problema yang selalu dihadapi pemerintah kota khususnya yaitu pemerintahan Kota Medan yang sangat nyata dirasakan oleh semakin bertumbuhnya daerah kantong kemiskinan di sekitar kota sehingga menimbulkan masalah –masalah yang begitu rumit,seperti masalah spasial ,pemukiman kumuh dan betumbuhnya sektor informal yang menjalar ke jalan jalan sehingga kehadirnya menimbulkan kemacetan di berbagai daerah yang di singgahinya.

Masalah sektor informal yang sering kita temui yaitu permasalahan pedagang kaki lima yang sebagian besar  juga merupakan kaum urbanisan, dan mereka di kota harus berjuang keras untuk menghadapi tindakan represif dari aparat.Yang sebenarnya tidak seharusnya dilakukan kepada mereka..Pemilihan sektor infomal sebagai pedangang kaki lima merupakan jalan yang tidak sulit dilakukan dalam usaha bertahan hidup di kota dan bertahan dari kerasnya hidup di kota serta jalan untuk keluar dari rantai kemiskinan.

Urbanisasi dan kemiskinan di kota medan pda umumnya digambarkan seperti uraian diatas.Kota medan yang dulunya kecil dan butuh orang untuk membangundaerah kota medan telah banyak mengundang orang di luar Kota Medan untuk masuk menjadi tenaga kerja dan pada masa selanjutnya Kota Medan sudah bertumbuh dewasa sehingga melupkaan jasa –jasa tenaga kerja yang dulu bekerja untuk membangun , kemudian pelayanan transportasi dulu menjadi primadona sektor ekonomi ,kini sudah mulai tersingkir oleh kendaraan pribadi yang digandrungi oleh masyarakat Kota Medan menyebabkan para pelaku sektor pelayanan jasa angkutan banyak yang beralih menjadi pelaku sektor informal pedagang kai lima ataupun yang lainnya.Maka dari itu perlu adanya pembangunan yang berwawasan lingkungan di desa dan pemberdayaan yang serius sehingga desa tidak berkontribusi mendorong laju urbanisasi yang begitu besar terhadap kota. 

4.KESIMPULAN
Kesimpulan dari artikel ini yaitu ,dalam mengatasi kemiskinan kota tentunya kita terlebih dahulu melihat faktor-faktor yang menjadi penyokong terciptanya kemiskinan kota.Kota medan yang merupakan salh satu objek yang menarik para kaum urbanisasan ini sudah mulai tidak mampu menampung penduduk untuk memperoleh tempat tinggal.Kemiskinan kota juga harus melihat bagaimana pola urbanisasi yang besar ke kota –kota yang  mepunyai daya tarik besar harus di teliti dan ditemukan penyebabnya.Urbanisasi pada umumnya disebabkan oleh ketimpangan pembangunan di desa dan rusaknya alam di desa sehingga memicu orang desa untuk melakukan urbanisasi karena lapangan kerja dan sumber penghidupan sudah semakin sulit ditemukan.Maka dari itu pemberdayaan masayarakat harus digalakkan dengan efektif untuk menumpas urbanisasi yang begitu besar.

5.Saran Dan Ucapa terima Kasih
Adapun saran bagi pemerintah pusat supaya lebih konsisten memberdayakan masyarakat desa agar urbanisasi yang besar itu dapat diatasi dengan cepat sehingga tidak memberi dampak yang tidak diinginkan seperti munculnya kaum miskin kota yang menjadi sebuah keprihatinan bagi kita semua.

Saya sebagai penulis artikel ini sangat berterima kasih kepada tim penyelenggara sudah mempunyai inisiatif menciptakan perlombaan ini ,karena dengan adanya lomba ini saya sendiri merasa sudah menemukan sebuah wadah akademik untuk melimpahkan pemikiran –pemikiran sosial. Terima kasih
Daftar Pustaka
  • Abbas, Ardi,  .2002 .Diktat Untuk Kalangan Sendiri : Sosiologi Perkotaan, Padang : Jurusan Sosiologi Universitas Andalas, Padang.
  • Damsar,Indriyani.2009.Pengantar Sosiologi Ekonomi.Jakarta.Prenada Media.
  • Fitri Ramdhani Harahap.2013. Dampak urbanisasi bagi perkembangan kota di Indonesia. Jurnal Society, Vol. I, No.1 http://journal.ubb.ac.id/index.php/sosiologi/article/download/65/60 (diakses tanggal 24 may 2017 pukul 21.00 wib).
  • Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. lakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  • Suyanto, Bagong.2013.Anatomi Kemiskinan Dan Strategi Penangananya.Malang.In-Trans Publishing.
  • Suyanto,Bagong.2013.Sosiologi Ekonomi:Kapitalisme Dan Konsumsi Di Era Masyarakat Postmodernisme.Jakarta.Prenadamedia Group.
  • Tri Joko,S.Haryono. DAMPAK URBANISASI TERHADAP MASYARAKAT DI DAERAH ASAL Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th XII, No 4, Oktober 1999, 67-78.https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rjauact=8&ved=0ahUKEwiS1875wI_UAhUMpY8KHZoRA3kQFgg2MAM&url=http%3A%2 %2Fjournal.unair.ac.id%2Fdownload-fullpapers-07 Trijoko.pdf&usg=AFQjCNFM_SvtpFhDSO410_Urna0kTo9luA&sig2=QEeuH8bZKSuZYOr-iZZMvA (Dibuka pada tanggal 27 may 2017 ,wa


Adrianus Bornokuli Sianipar_Universitas Sumatera Utara_ FISIP_Sosiologi 








0 komentar:

Posting Komentar