Buku Karya Braindilog

Berisi mengenai kajian analisis sosial dengan pendekatan konsep teori tokoh Sosiologi Indonesia.

Braindilog

Merupakan sebuah konsep dan metode diskusi yang di lakukan dengan tahapan Brainstorming, Dialectic, dan Logic dari teori atau permasalahan sosial yang didiskusikan.

Braindilog Sosisologi Indonesia

Mengawal Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia menuju otonomi teori Sosiologi Indonesia yang berlandaskan nilai, norma, dan kebermanfaatan masyarakat Indonesia.

Gerakan Otonomi Teori Sosiologi Indonesia

Sayembara menulis artikel sosiologi Indonesia adalah upaya Braindilog Sociology dalam menyebarluaskan gagasan otonomi teori sosiologi Indonesia.

Braindilog Goes To Yogyakarta

Diskusi Lintas Komunitas bersama Joglosonosewu dan Colombo Studies di Universitas PGRI Yogyakarta dengan tema "Konflik Horisontal Transportasi Online". Selain dihadiri komunitas, acara ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan mahasiswa dari masing-masing kampus di Yogyakarta.

Selasa, 13 April 2021

Tesis-Antitesis Sosiologi Kritis Dan Post-Kolonial

Jurang pemisah antara akademisi dengan tatanan kehidupan masyarakat seolah menjadi anti-tesis yang belum terungkap hingga sekarang. Literatur kajian akademisi di Indonesia mayoritas berkiblat pada teori dan metodologi barat. Sedangkan dosen dan para mahasiswa dipaksa untuk melihat gejala yang terjadi di Indonesia yang tentu sangat bertentangan dengan pelajaran yang diajari dibangku-bangku kuliah. Sementara orang Indonesia atau orang timur banyak nilai-nilai yang bertolak dengan nilai-nilai barat.

Apalagi jauh dari kultur barat yang cenderung bebas (liberal). Oleh karenanya, muncul tesis-antitesis dalam membangun rancangan berpikir ilmiah yang kadang guncang oleh infrastruktur-infrastruktur pemikiran barat dalam penerapannya di Indonesia. Hampir semua buku, tokoh, rujukan dan sebagainya menganut kepada pemikiran barat.

Aliran Frankfurt didalam memaknai sosiologi kritis, bukan hanya ditentukan oleh struktur tapi juga ditentukan oleh individu. Individu juga punya peluang dan kebebasan dalam menentukan kehidupan ditengah masyarakat.

Realitas sosial tidak hanya hitam dan putih tapi juga penggabungan hitam dan putih. Emansipatoris misalnya, menjadikan perempuan sebagai objek dalam mengerjakan tugas berat-berat yang hanya bisa dikerjakan oleh laki-laki, Seperti: kuli bangunan, las besi konstruksi bangunan dan semisalnya. Walaupun tidak menampik terkadang perempuan tangguh mampu melakukannya.

Kontribusi atau sumbangan dari struktur terhadap perubahan sosial atau perubahan masyarakat terjadi karena ada unsur-unsur yang saling melengkapi. Menurut Bourdieu (2004) kaum post-kolonial terbagi dua: eksternalisasi interior dan internalisasi interior.

Sosiologi Kritis

Sosiologi kritis adalah teori kritik terhadap praktek ditengah masyarakat. Membebaskan manusia dari penipuan dan kepalsuan dari para teknokrat modern yang mendominasi. Membongkar analogi-analogi tersembunyi teori kontemplatif yang seolah-olah objektif pada hal yang sebenarnya tidak objektif. Objektivitas dibentuk dalam rangka melegitimasi dan melindungi kepentingan kekuasaan.

Sosiologi kritis atau disebut juga sosiologi skeptis. Mereka menentang value free (bebas nilai). Sulit dalam penelitian sosial yang objek penelitiannya masyarakat peneliti bebas dari nilai. Nilai bentuk pertanggungjawaban ilmiah para sosiolog dari nilai-nilai universal kehidupan manusia. Peneliti terikat dengan nilai dalam masyarakatnya. Sulit menjadi bebas nilai melainkan sarat dengan nilai-nilai.

Teori sosiologi kritis melahirkan praksis emansipasi bebas dari penderitaan fisik dan pembelengguan ideologi, seperti tokoh-tokoh sosiologi kritis modern: C. Wright Mills, Daniel Beli, Peter L. Berger, Raymon Aron, Ralf Dahrendorf, Barrington More, dan Pierre Bourdieu.

Inti pemikirannya tentang praksis sosial. Praksis adalah implementasi dari teori. Kadang-kadang praktik sosial tidak ada teorinya. Praksis sosial adalah dialektika antara internalisasi eksterior dan ekternalisasi interior.

Internalisasi eksterior adalah ketika seseorang menyerap menginternalisasi dunia di sekelilingnya. sedangkan Eksternalisasi interior ialah ketika seseorang mengungkapkan hasil pemahaman atau persepsinya dari interaksi dengan orang lain.

Dari luar kita serap ke dalam dan dari dalam dan  di ekspresikan keluar. Hidup kita sehari-hari isinya hanya dua: kita serap kedalam dan kita ekspansi ekspresi keluar.

Sedangkan istilah Distinction merupakan tindakan membedakan diri seseorang untuk menunjukkan kelasnya dalam masyarakat. beda halnya dengan Resistance yang mengartikan dirinya kelompok bawah yang ingin menunjukkan perbedaan dengan kelas atas, contoh kelas bawah lebih suka menggunakan motor lama dengan membuat lebih unik atau masih mempertahankan vespa lama dengan melakukan modifikasi menambah pipa dan barang-barang bekas bergelantungan.

Contoh lain, di Pesantren-pesantren Jawa, tidak sedikit Kiai yang memakai sarung dan setelah jas ketika berceramah. Padahal jas bukanlah mencirikan pakaian islam. Atau kelas atas yang memakai pakaian bermerk seperti levis.

Orang yang tidak mampu terkadang sering melakukan resistance, sedangkan orang yang merasa hebat melakukan distinction. Contoh ia tidak bisa mengoperasional laptop mengatakan tidak menarik menggunakan laptop sementara bagi yang pintar mengoperasionalkan laptop memperlihat ia lebih hebat dalam penggunaan laptop. Jadi yang pertama melakukan tindakan resistance dan yang kedua memperlihatkan distinction.

Namun, kedua istilah tersebut belum lengkap jika tidak ada Hibrinitas. Hibrinitas seperti pakaian campuran, orang islam secara umum ketika menikah mengadopsi pakaian Kristen (perempuan yang gaun putih panjang sampai kelantai).

Merujuk ke Homi Bhaba, ada tiga konsep yang dipergunakan dalam menjelaskan post-kolonial yaitu: Hibrinitas, Ambivalensi, Mimikri. Hibriditas merupakan budaya campuran yang biasanya diadopsi dari Negara jajahan. Budaya penjajah dan dijajah.

Bukan dua atau beberapa budaya, kemudian terjadi pertemuan atau terjadi percampuran budaya. Tetapi beberapa budaya terpisah secara jelas dan tegas yang diciptakan lewat wacana kolonial. Ada sisi yang begitu keren berlaku yang dipraktekkan dalam masyarakat. seperti Negara jajahan yang hingga kini masih diadopsi warga Indonesia, seperti: pemakaian gelar haji, salam cium tangan dengan menundukkan badan. Ini merupakan bekas peninggalan Belanda yang masih lestari hingga kini. Padahal dalam islam seseorang yang sudah haji tidak ada syariat yang menunjukkan harus diberi gelar nama didepan nama seseorang, seolah gelar haji menjadi tanda kesholehan seseorang atau suatu nilai yang lebih tinggi didalam masyarakat. begitu juga dengan salam cium tangan orang tua yang ada boleh cium tangan (orang tua) tanpa menundukkan badan (ketika cium tangan diangkat tangan orang tua tanpa harus menundukkan badan).

Sedangkan mimikri, bagaimana negara jajahan meniru apa yang dilakukan oleh negara jajahan. Tetapi pikirannya tidak benar-benar sama. Mimikri (imitasi) ialah peniruan tetapi tidak benar-benar sama. Penipuan yang berlebihan sehingga mengesankan mengejek. Jadi, mimikri sesuatu yang mengancam dari negara jajahan, meniru gaya hidup orang Eropa dan Amerika dalam hal pergaulan dan prinsip hidup serta memilih pasangan hidup. Hal ini akan menjadi ancaman, oleh karena itu mereka belum bisa menerima tiruan dari rakyat negara jajahan.

sedangkan ambivalensi lebih pada konteks wacana kolonial. Ambivalensi yaitu kepura-puraan atau keraguan yang diwacanakan. Negara kolonial menginginkan negara yang dijajah sama dengan negara mereka tetapi mereka tidak menginginkan benar-benar sama. Seperti Negara kolonial menginnginkan Negara yang dijajah rakyatnya menjadi sama peradaban dengan mereka, tetapi kolonial menjadi cemas dan takut kalau Negara jajahan beradab maka mereka tidak bisa menjajah lagi.

lalu timbul pandangan dari Benedict Anderson yang mencoba memahami perkembangan budaya Jawa tanpa harus menelusuri bagaimana situasi yang terjadi pada masa kolonial Belanda. Tatanan bahasa jawa sebelumnya tidak ada, itu diperkuat pada masa kolonial, kenapa? Karena zaman kolonial, kraton kehilangan kekuasaan yang nyata, sehingga kraton membutuhkan kekuasaan yang simbolis, caranya dengan membangun tembok dengan memperkuat hierarki bahasa. Jadi menurut Anderson, budaya kraton sekarang ini seperti bahasa kromo bis saja yang pengaruhnya masih dari kolonialisme.

Relasi kekuasaan global menjadi suatu yang bermasalah dan tidak sederhana. Seringkali ada kesadaran ketidak-adilan yang sering terjadi dan hal demikian menjadi perlawanan. Seperti di Pesantren satu sisi harus melawan kolonialisasi, tetapi sisi lain memakai cara berbahasa kaum kolonial atau bahasa inggris yang mana hal ini gambaran dari ambivalensi. Intinya, tinggal bagaimana media masssa mengubah pola lama menjadi pola baru dalam membentuk kondisi yang lebih sesuai dengan kearifan lokal Indonesia tanpa unsur ada lagi unsur jajahan Belanda.

Muhammad Irsyad Suardi

Mahasiswa Magister Sosiologi UNAND