Buku Karya Braindilog

Berisi mengenai kajian analisis sosial dengan pendekatan konsep teori tokoh Sosiologi Indonesia.

Braindilog

Merupakan sebuah konsep dan metode diskusi yang di lakukan dengan tahapan Brainstorming, Dialectic, dan Logic dari teori atau permasalahan sosial yang didiskusikan.

Braindilog Sosisologi Indonesia

Mengawal Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia menuju otonomi teori Sosiologi Indonesia yang berlandaskan nilai, norma, dan kebermanfaatan masyarakat Indonesia.

Gerakan Otonomi Teori Sosiologi Indonesia

Sayembara menulis artikel sosiologi Indonesia adalah upaya Braindilog Sociology dalam menyebarluaskan gagasan otonomi teori sosiologi Indonesia.

Braindilog Goes To Yogyakarta

Diskusi Lintas Komunitas bersama Joglosonosewu dan Colombo Studies di Universitas PGRI Yogyakarta dengan tema "Konflik Horisontal Transportasi Online". Selain dihadiri komunitas, acara ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan mahasiswa dari masing-masing kampus di Yogyakarta.

Minggu, 01 Juli 2018

Feodalisme: Saat Sistem Fief Mengatur Kehidupan Masyarakat


A.     Lahirnya Sistem Fief
Selama abad ke-9, Eropa Barat dilanda oleh serangkaian dari luar.Sebelum terjadi penyerbuan-penyerbuan itu, unit sosial yang tipikalnya adalah kerajaan.Sebagian besar lahan masih liar dan belum dihuni manusia, area-area yang sudah dibudidayakan terpilah menjadi lahan milik kerajaan, lahan milik gereja, estat (estate) pribadi yang dimiliki para lord dan lahan pertanian yang dimiliki para petani bebas.Secara teori, seorang raja bisa menarik pajak atas seluruh lahan dan semua orang yang bebas bisa dikenakan wajib militer berdasarkan perintah raja mereka. Namun, dengan cara seperti ini, pada saat seorang raja masih sedang menyiapkan bala tentara, para penyerbu sudah selesai menjarah dan pergi. Maka yang diperlukan adalah bala tentara yang siap setiap saat, yang berupa laskar berkuda dengan senjata lengkap. Namun perlengkapan yang diperlukan itu terlampau mahal untuk dimiliki kebanyakan petani dan sistem pajak yang didasarkan pada pembayaran dalam bentuk barang atau jasa, dikarenakan ketidakstabilan uang tidak memungkinkan sang raja sendiri menyediakan bala tentara bersenjata lengkap. Dalam situasi ini, sejenis sistem imbalan yang berakar pada zaman kuno berangsur-angsur dikembangkan dan kemudian menjadi lembaga utama hingga beberapa abad yaitu sistem fief[1].
Salah satu cara menciptakan fief adalah bahwa raja menyerahkan sebagian lahan milik kerajaan dalam bentuk fief kepada seorang tokoh militer terkemuka, yang biasanya adalah seorang lord atau petani bebas. Si pengelola fief lantas menjadi majikan para petani di dalam fief itu dan memiliki hak menarik pajak serta menerapkan otoritas legal.Sebagai imbalannya, si pengelola fief bersumpah setia kepada raja, turut berperan dalam menjaga pertahanan wilayah itu dari ancaman musuh-musuh raja dan menyediakan sejumlah laskar berkuda dengan senjata lengkap.Sistem fief memungkinkan para raja menyediakan persenjataan dan membiayai bala tentara, serta menyelenggarakan administrasi legal dan fiscal untuk wilayah yang bersangkutan.Namun itu juga berarti sebagian besar wilayah kerajaan menjadi semi-otonom. Cara lain untuk menciptakan fief adalah bahwa raja membebaskan seorang lord dari kewajiban membayar pajak jika si lord itu, sebaliknya bersedia menangani sendiri urusan administrasi legal, bersumpah setia kepada raja, serta mempersenjatai dan membiayai sekelompok serdadu[2]
Ini sering kali dilakukan dengan cara si lord menyerahkan lahannya kepada raja dan menerima lahan itu kembali sebagai fief turun temurun yang disertai hak dan kewajiban tertentu. Sementara itu fief yang pada mulanya adalah lahan milik kerajaan atau gereja kemudian menjadi lahan turun temurun pula, sehingga perbedaan antara fief pemberian raja dengan fief yang semula adalah estet bebas berangsur-angsur lenyap, setidaknya di banyak kawasan di Eropa.Para pengelola fief yang besar, seperti halnya raja mereka, sering memberikan bagian-bagian fief mereka dalam bentuk pengabdian, dengan tujuan untuk menjamin kesetian dan dukungan terus-menerus.Di kebanyakan wilayah Eropa, ini bararti mayoritas petani bebas dipaksa agar tunduk kepada lord. Secara formal, mereka memberikan tanahnya kepada lord, dan menerimanya kembali sebagai lahan turun temurun, sehingga mereka mendapatkan perlindungan dan terbebas dari kewajiban membayar pajak kepada raja, namun dengan imbalan bahwa mereka harus bekerja di demesne atau membayar sewa lahan. Hanya di daerah-daerah pinggiran atau yang sangat terpencil, masyakat-masyarakat petani bebas bisa bertahan sebagai pemilik lahan secara mandiri.

B.      Sistem Kelas
Secara formal, raja adalah lord tertinggi yang menguasai semua fief, dan semua lahan pada dasarnya adalah milik raja.Namun berangsur-angsur fief menjadi harta turun temurun dan di sejumlah tempat seseorang bisa mendapatkan fief lebih dari satu lord yang menjadi atasannya. Ini berarti ikrar pengelola fief nyaris tidak ada artinya dan kekuasaan nyata sang raja menjadi sangat kecil. Secara khusus, apa yang semula merupakan sekumpulan lord yang berbeda-beda, yang masing-masing bertanggung jawab kepada raja, lantas menjadi satu kesatuan kelas atau golongan, kelas bangsawan.  Kendala khusus yang sangat kuat dan perbedaan status yang tegas memisahkan kaum bangsawan dengan kaum petani.
Namun, sekarang kaum bangsawan memonopoli tugas-tugas militer dan administratif, dan tidak lagi terlibat dalam kegiatan produksi.Sementara para petani tidak lagi menjalankan tugas militer dan tugas-tugas lain berdasarkan hak mereka sendiri, dan dipaksa untuk berkonsentrasi pada pekerjaan pertanian saja.Kaum bangsawan menduduki posisi kepemilikan yang efektif atas lahan.Namun, di dalam lembaga fief, lahan yang tidak dapat dikenai status sebagai harta milik pribadi yang eksklusif atau tak bersyarat.Dalam kaitannya dengan sebidang lahan budidaya yang manapun, beberapa orang bisa mempunyai hak untuk menyatakan lahan ini milikku.Tidak ada seorang pun yang memiliki hak penuh dan eksklusif atas sebidang lahan, tidak ada seorang pun yang punya hak terbatas untuk memperlakukan sebidang lahan sendiri, tidak ada seorang pun yang bisa menjual atau membeli sebidang lahan begitu saja.Milikku bukan berarti secara universal bukan milikmu.
Istilah feodalisme secara harfiah berarti sebuah masyarakat yang diatur berdasarkan sistem fief, dengan kekuasaan legal dan politis yang menyebar luas di antara orang-orang yang memiliki kekuasaan ekonomi[3].Mode produksi feodal bisa dibedakan dengan mode produksi perbudakan, dimana para budak dimiliki oleh seorang lord yang juga memiliki segala sesuatu yang dihasilkan oleh budak-budak itu dan itu berbeda lagi dengan mode produksi yang didasarkan pada kerja para petani bebas dan buruh-buruh upahan bebas.Mode produksi feodal menjadi semakin dominan karena semakin besar bagian dari keseluruhan jumlah produksi dilakukan oleh para petani tak bebas.

C.      Ekspansi Feodal Tahun 1000-1300
Pada tahun 1000, berbagai serbuan bisa dikatakan telah berhenti dan perdagangan lambat laun mulai bangkit. Sekitar tahun 1050, jumlah populasi mulai meningkat dan periode antara tahun 1050 hingga 1250 merupakan periode berkembangnya ekonomi Eropa. Bangkitnya perdagangan dan pembaharuan mata uang yang bisa diterima secara internasional menyebabkan terjadinya perluasan kota-kota lama dan munculnya banyak kota baru, yang sering kali berlokasi di dekat kastil-kastil berbenteng. Di beberapa wilayah Eropa, kota-kota tunduk kepada kaum bangsawan, di berbagai wilayah lain, kota-kota itu berada di bawah kekuasaan raja secara langsung.

Jadi, pada sekitar tahun 1250, struktur sosial yang relatif stabil dan sangat terstratifikasi telah terbentuk. Struktur itu terdiri dari tiga satuan sosial yaitu mereka yang berdoa untuk suatu wilayah, mereka yang berjuang mempertahankan suatu wilayah, dan mereka yang menghasilkan pangan dan berbagai kebutuhan lain. Kadang kala, fief bisa dijual oleh lord besar jika belum ada yang mengelola, namun jelas tidak ada pasar bebas untuk memperjual belikan lahan.Hak kepemilikan lahan secara bersyarat pada umumnya dipegang oleh keluarga-keluarga bangsawan.

D.     Pemikiran tentang Masyarakat Feodal
Lembaga-lembaga feodal membentuk latar belakang dan titik tolak bagi orang-orang abad ke-13 yang berpikir tentang kehidupan sosial.Bagi mereka, tradisi merupakan ukuran utama bagi kebenaran dan kesalahan.Fakta bahwa suatu pola tertentu telah dianut dalam jangka lama, atau sejak zaman dahulu kala, lantas mendasari argument terkuat yang dimungkinkan, yang justru memperkuat pola itu sendiri. Jika sesuatu pernah terjadi, maka ia akan dengan mudah menjadi adat istiadat[4]. Pemberontakan petani yang bersifat lokal pernah terjadi dari waktu ke waktu, namun biasanya itu terjadi jika tindakan tertentu seorang lord atau kaki tangannya dianggap melanggar adat-istiadat.Pemberontakan terhadap adat atau terhadap perbudakan tidak pernah terjadi. Para lord memiliki kekuatan militer untuk menumpas pemberontakan.
Otoritas adat didukung sepenuhnya oleh pandangan dunia gereja.Selama berabad-abad, dasar pemikiran sosial gereja adalah kenyataan bahwa adanya lembaga-lembaga penaklukan itu merupakan hukuman bagi kejatuhan Adam dan Hawa serta akibat dari perilaku angkara yang dilakukan oleh semua anak-cucu mereka.Naumn, lambat laun, konsepsi yang agak berbeda bisa diterima pandangan bahwa ciri-ciri utama tatanan sosial feudal adalah akibat dari aturan ilahi dan bukan sekedar hukuman atas ketidaktaatan manusia.Dalam pandangan ini, kepatuhan orang-orang terhadap para majikan, lord, dan raja adalah sesuatu yang alami dan benar, asalkan itu berlangsung dalam batas-batas tertentu, jika tidak maka hal itu menjadi tidak alami dan tidak benar.

E.      Krisis Feodalisme Abad ke-14 dan Dampaknya
Sekitar tahun 1300, ekspansi feodal pun berakhir. Tanah yang kian tandus, sementara lahan lain yang belum dibudidayakan pada umumnya berkualitas buruk, merupakan salah satu penyebab berakhirnya ekspansi itu. Iklim yang kacau dan serangkaian hasil panen yang buruk agaknya juga menjadi penyebabnya.Sejak pertegahan abad ke-14, krisis itu diperparah oleh terjadinya serangkaian wabah penyakit menular, yang memangkas jumlah populasi Eropa setidaknya hingga seperempatnya.Namun dalam jangka panjang, wabah penyakit itu menimbulkan dampak struktural yang jauh lebih luas di kawasan pedesaan daripada di perkotaan.Krisis abad ke-14 mengakibatkan terjadinya perpindahan lahan dan mobilitas sosial yang jauh lebih tinggi daripada yang pernah terjadi pada abad-abad sebelumnya.
Kebangsawanan diperlemah, sedangkan raja dan kota-kota menjadi lebih kuat.Dalam abad ke-14 dan abad ke-15 tampak jelas adanya kemunduran dalam bidang ekonomi.Lain daripada sebelumnya, jumlah penduduk tidak lagi meningkat, tetapi bahkan sangat turun dalam paruh kedua abad ke-14 sebagai akibat dari wabah penyakit sampar, yang dikenal dengan Ajal Hitam.Orang memperkirakan bahwa sekurang-kurangnya sepertiga dari seluruh jumlah penduduk telah menjadi korban wabah tersebut. Pun dalam periode itu tidak terjadi pembaharuan-pembaharuan tehnik. Tetapi menjelang akhir abad ke-15, mulai tampaklah perkembangan-perkembangan baru.

F.       Kemakmuran Baru, Tahun 1500-1600
Tatanan feodal sudah terguncang, dan perubahan struktural yang telah mulai berlangsung dengan cepat ketika perekonomian memburuk lantas mengalami perubahan pada akhir abad ke-15.Pada saat itu, populasi dan perdagangan tumbuh pesat sedangkan kota-kota kian meluas dan menciptakan permintaan baru atas produksi-produksi pertanian. Pada saat yang sama, terjadi arus masuk emas dan perak dari Amerika, dan tehnik-tehnik pengolahan bijih yang lebih sempurna telah ditemukan. Melimpahnya emas dan perak meyebabkan nilai mata uang meyebabkan nilai mata uang merosot dan harga meningkat, terjadi inflasi pada saat itu.Fakta bahwa harga cenderung meningkat di sepanjang periode yang panjang sangat menguntungkan mereka yang memiliki barang-barang yang bisa dijual, namun tidak berpengaruh bagi mereka yang tidak memiliki apa-apa, atau yang memiliki penghasilan dalam bentuk uang dengan jumlah tetap.


Daftar Pustaka

Hans Fink. 2003. Filsafat Sosial dari Feodalisme Hingga Pasar Bebas. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Prof. Dr. L. Laeyendecker. 1991. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta



[1]Hans Fink. Filsafat Sosial dari Feodalisme Hingga Pasar Bebas. Pustaka Pelajar, 2003
[2]Secara formal, fief tersebut tetap merupakan milik raja dan dikembalikan haknya kepada raja masyarakat luar gereja sehingga para raja biasanya bisa menjadikan lahan milik gereja sebagai fief.
[3]Istilah feodalisme diambil dari istilah Latin, “feodum” yang berarti fief.
[4]Jadi siapa pun yang pernah berhasil melakukan tindakan tertentu dengan demikian akan mendapatkan sesuatu yang bisa dikatakan sebagai hak untuk mengulangi tindakan itu lagi.


Karya: Annisa Nindya Dewi
Magister Sosial Universitas Sebelas Maret Surakarta
Email: Sanindyadewi@gmail.com

Jumat, 01 Juni 2018

Difusi Inovasi Terhadap Pengembangan Potensi Alam : Pengembangan Potensi Alam Jembatan Kretek Gantung Di Desa Setail Kabupaten Banyuwangi

Kehidupan dalam masyarakat desa dapat dilihat dari berbagai macam aspek sesuai dengan bidang yang dibutuhkan. Ilmu ekonomi mempunyai tinjauan dari segi ekonomi, ilmu politik mempunyai tinjauan dari segi politik, ilmu sosial mempunyai tinjauan dari segi sosial, begitu pun dengan ilmu- ilmu yang lainnya. Tulisan ini saya buat bertujuan untuk mencoba memahami kehidupan desa dari sisi tertentu, disesuaikan dengan tujuan penulisan yang memberikan bekal ide selayang pandang mengenai kemampuan sebuah desa mengelola alam yang melimpah dan menguntungkan.


Karya: Azkiyatul Afia Amaelinda
Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV IAIN Kediri dan  aktifis literasi dalam komunitas Banyuwangi District

Sosialisme : Sebuah Proses Destruksi Sekaligus Konstruksi

A.    Lahirnya Kelas Buruh
Kira-kira tahun 1870, Inggris telah mengembangkan industri manufaktur yang paling maju di dunia.Lebih dari sepertiga produksi industrial berlangsung di Inggris. Namun proses industrialisasi juga telah maju di negara-negara lain, terutama di Amerika Serikat, Perancis dan Jerman. Di Eropa, proses tersebut mengakibatkan hancurnya kaum cakapan tradisional dan merosotnya kesejahteraan kaum tukang. Sekian juta orang-orang Eropa beremigrasi, hal itu sangat mendorong perkembangan industri dan pertanian di negara-negara lain, terutama di Amerika Serikat dan banyak meringankan berbagai tekanan sosial di Eropa.Legislasi berangsur-angsur diperkenalkan di Inggris untuk mengurangi dampak buruk persaingan bebas[1].Kompetisi tersebut memaksa para majikan untuk mempertahankan upah serendah-rendahnya dan para buruh industri tidak punya peluang untuk menolak pemotongan upah.Buruh individual selalu rentan untuk dipecat, mereka hanya bisa membela diri secara kolektif, dengan berorganisasi sehingga mampu melancarkan ancaman untuk menarik tenaga kerja mereka secara penuh.

Ungkapan praktis yang paling jelas dari cita-cita proletariat baru pertama-tama adalah diciptakannya serikat-serikat dagang atau serikat buruh dan kemudian federasi-federasi dari berbagai serikat itu secara nasional dan internasional.Secara politik, serikat-serikat dagang itu mendorong gerakan Chartisme[2]. Di benua Eropa, dimana perkembangan industri secara keseluruhan tidak terlampau maju, kelompok-kelompok kecil kaum buruh industri terlibat aktif dalam berbagai revolusi tahun 1848, terutama di Perancis dan Jerman dan dalam konteks ini gerakan kelas buruh cenderung mengambil bentuk politis daripada ekonomis. Gerakan-gerakan yang lebih awal itu pada dasarnya dilancarkan terhadap orang-orang yang kaya dan berkuasa, baik individu maupun kelompok. Sedangkan organisasi kelas buruh yang terbentuk sesudah Revolusi Inggris mulai memandang diri mereka sendiri berjuang bukan untuk melawan kaum kaya, namun melawan sistem yang memecah belah bangsa menjadi dua kelas, para pemilik kekayaan yang tidak perlu bekerja dan kaum buruh yang tidak dapat memiliki kekayaan.

B.     Sosialisme dan Karl Marx 
Kaum sosialis awal memandang kapitalisme sebagai sistem yang tidak adil dan irasional, yang harus digantikan oleh komunisme. Menurut Marx, kapitalisme telah mengakhiri ketidakadilan dan irasionalitas feudal, namun kapitalisme telah menggantikan dengan ketidakadilan dan irasionalitasnya sendiri. Marx yang pertama melahirkan filsafat sosial yang dirancang untuk membuka kemungkinan bagi sosialisme untuk tampil dalam perkembangan sejarah yang nyata. Bagi Marx, sejarah itu lebih berupa perkembangan produksi daripada realisasi prinsip-prinsip rasional. Pendekatan Marx terhadap perubahan historis bisa digambarkan dengan mengacu pada transisi dari feodalisme menuju kapitalisme.
Bagi Marx, hubungan-hubungan produksi kapitalis sama menindasnya dengan hubungan produksi feodal. Dari sudut pandang pemilik modal, satu-satunya tujuan produksi adalah laba. Laba bukan hanya penting untuk konsumsi pribadi si pemilik modal itu sendiri, namun yang lebih penting untuk membiayai investasi yang akan memungkinkan perolehan laba di masa mendatang. Perjuangan kelas akan terjadi, meskipun secara individual para pemilik modal dan kaum buruh tidak menghendaki, mangabaikan, atau menolaknya. Krisis akan berakhir dan suatu periode ekspansi akan bermula, meski hal ini pun pada akhirnya akan mengarah pada krisis baru berupa kelebihan produksi.

C.    Sosialisme Reformis dan Revolusioner Sebelum Tahun 1914
Sejak 1873-an, dunia terperosok ke dalam krisis ekonomi yang panjang dan serius. Ledakan ekonomi tahun 1850-an dan 1860-an disebabkan oleh sejumlah besar pembangunan rel kereta api di seluruh dunia. Banyak firma yang terpaksa gulungtikar dan firma yang masih bertahan seringkali harus menghadapi keadaan yang nyaris mendekati monopoli untuk komoditas-komoditas tertentu.Salah satu tanda krisis itu adalah jatuhnya harga[3].Pertumbuhan ekonomi belum benar-benar pulih sampai kira-kira tahun 1896.Ketika pada akhirnya pertumbuhan ekonomi menggeliat lagi, sebagian orang harus menghadapi efek purifikasi krisis yang telah mematikan industri yang memang sudah tak berdaya, dan sebagian harus menghadapi eksploitasi yang kian meningkat secara agresif atas sumber daya alam dan tenaga kerja murah di daerah-daerah jajahan.
Kebangkitan ekonomi ini dengan demikian terkait dengan imperialisme, nasionalisme, dan militerisme.Sudut pandang reformis itu mencakup peninjauan ulang atas pandangan Marxis tentang negara.Negara bukan lagi dilihat sebagai alat penindasan, namun sebagai agen netral yang bisa dijalankan oleh wakil-wakil dari para pemilik modal maupun buruh. Menurut mereka, sosialisme dengan demikian harus dipandang sebagai kerajaan tujuan-tujuan, sebuah cita-cita yang harus diperjuangkan oleh kaum sosialis agar sedapat mungkin mendekati kenyataan. Pada saat yang sama, komitmen terhadap cita-cita sosialisme harus dicegah agar tidak menghancurkan hukum dan ketertiban.

D.    Matinya Sosialisme
Asal-usul sosialisme berkaitan erat dengan perkembangan awal masyarakat industrial, pada suatu masa antara pertengahan dan akhir abad kedelapan belas.Sosialisme bermula sebagai kumpulan pemikiran yang menentang individualisme.Sosialisme pertama-tama merupakan impuls filosofis dan etis, tetapi jauh sebelum Marx sosialisme mulai tampil sebagai doktrin ekonomi.Tetapi Marx-lah yang melengkapi sosialisme dengan teori ekonomi yang rumit dan terperinci. Sosialisme berupaya mengatasi kelemahan kapitalisme dengan tujuan membuatnya lebih manusiawi, atau sama sekali menumbangkannya[4].
Secara sosial menimbulkan pertikaian dan tak mampu mengembangkan dirinya sendiri dalam jangka panjang.Teori ekonomi sosialisme selalu tidak memadai serta meremehkan kemampuan kapitalisme untuk berinovasi, beradaptasi, dan mendorong produktivitas.Sosialisme juga gagal memahami arti pentingnya pasar sebagai perangkat informasi yang menyediakan data penting bagi para penjual dan pembeli. Kelemahan-kelemahan sosialisme ini menjadi semakin terbuka dengan adanya proses globalisasi dan perubahan teknologi yang semakin intens sejak awal 1970-an.

E.     Membangun Kembali Sosialisme
Ide sosialisme modern pertama kali muncul dari Thomas More, dalam karyanya yang disebut Utopia.Ide ini muncul di Inggris pada pertengahan abad ketika petani-petani kehilangan akses tradisionalnya terhadap tanah sebagai akibat dari ditutupnya tanah sebagai ladang penggembala kambing. Alternatif mistis yang disketsakan oleh More ialah suatu masyarakat yang tanahnya dimiliki secara bersama, yang semua orang mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka dan yang produk-produknya dari kerja didistribusikan kepada semua orang sesuai dengan kebutuhanmereka tanpa harus menggunakan uang dan tanpa harus jual beli[5]. Inti dari tujuan-tujuan kaum sosialis ialah menciptakan suatu masyarakat yang akan memungkinkan perkembangan secara utuh potensi dan kemampuan manusia.
Jadi pertumbuhan kemakmuran manusia tidak lain dari yang absolut, yang terus mengejewantahkanpotensi-potensi kreatifitasnya. Perkembangan segenap kekuatan manusiawi sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Kemakmuran dari hasil kerjasama akan mengalir secara lebih melimpah dan produk dari masyarakat produsen-produsen yang berasosiasi secara bebas ialah manusia-manusia yang akan mampu mengembangkan potensi mereka sepenuhnya dalam suatu masyarakat manusia. Dalam perjuangan-perjuangan ini, kaum buruh menjadi sadar akan kepentingan-kepentingan mereka bersama, mereka menjadi keniscayaan untuk berhimpun bersama melawan kapital. Inilah yang disebut Marx sebut sebagai praktik revolusioner yaitu kesesuaian antara perubahan situasi dan aktivitas manusia (perubahan diri). Proses membangun kembali suatu visi sosialis melibatkan keharusan untuk menjawab pengalaman-pengalaman abad ke-21, berikut ekspansi-ekspansi yang gagal[6].

F.     Sosialisme adalah Proses Sekaligus Tujuan
Ketidakpuasan dengan terjadinya penderitaan, ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sebagai akibat berkembangnya industrialisasi dan kapitalisme telah melahirkan gerakan sosial di berbagai negara Eropa abad ke-19, yang bertujuan merombak masyarakat ke arah persamaan hak dan pembatasan terhadap hak milik pribadi.Ada yang mengusulkan perombakan secara paksa, ada pula yang menghendaki perubahan secara damai.Gerakan ini dipelopori oleh para yang dinamakan sosialisme utopis.Di negara sosialis asas sosialisme seperti penguasaan alat produksi dan pengaturan distribusi komoditas oleh negara diterapkan.Pengaturan produksi dan distribusi komoditas di seluruh negara dilaksanakan secara terpusat.Di negara Eropa Timur lainnya semenjak runtuhnya rezim komunis yang telah berkuasa selama beberapa dasa warsa, maka sistem sosialisme yang diterapkan mulai digeser oleh kapitalisme.
Masyarakat sosialis yang lahir dari kapitalisme, kata Marx secara ekonomi, moral, dan intelektual mengandung bekas-bekas (jejak-jejak) masyarakat lama. Proses sosialis merupakan suatu proses destruksi sekaligus konstruksi suatu proses penghancuran elemen-elemen masyarakat lama yang masih tersisa (manusia yang masih berorientasi pada diri sendiri, maka memberi dukungan terhadap logika kapital) dan suatu proses membangun manusia-manusia sosialis yang baru. Kaum sosialis membangun dunia yang di dalamnya orang-orang saling berhubungan satu sama lain sebagai anggota dari suatu keluarga besar manusia, suatu masyarakat yang didalamnya bahwa kesejahteraan orang lain merupakan sesuatu yang harus diperhatikan. Ini adalah dunia solidaritas manusia dan cinta kemanusiaan.

G.    Masa Depan Sosialisme
Sosialisme mendasarkan daya tariknya pada dua hal, yaitu pemerataan sosial dan penghapusan kemiskinan. Sejarah dua abad terakhir telah menunjukkan adanya dua cara untuk mencapai pembangunan ekonomi yang pesat. Pertama, cara yang telah digunakan oleh negara-negara Barat yang sudah maju (Eropa barat laut dan tengah, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru) dimana pasar bebas merupakan alat utama untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang telah terbukti dalam sejarah adalah komunisme.Sosialisme berarti lebih banyak pelayanan jasa kemakmuran untuk mereka yang miskin, lebih banyak sekolah bagi mereka yang tidak menikmati pendidikan dan peningkatan martabat hidup bagi mereka yang secara tradisional serba kekurangan.Sosialisme di negara-negara yang sedang berkembang ialah komitmen pada perencanaan[7].
Pertumbuhan ekonomi sebagai suatu kebutuhan yang mendesak, mereka merasa bahwa pelaksanaan fungsi pasar bebas tidak akan menjamin perluasan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti yang dimaksud. Sosialisme di negara-negara berkembang berbeda dari negara-negara yang lebih makmur, karena perbedaan situasi historis. Sosialisme tidak diartikan sebagai cara mengindustrialisasikan negara yang belum maju, tetapi cara mendistribusikan kekayaan masyarakat secara lebih merata. Sosialisme tidak banyak dikonfrontasikan dengan tugas mendistribusikan hasil-hasil perekonomian industri yang masih sulit berjalan, melainkan untuk membangun suatu perekonomian industri dengan maksud menaikkan tingkat ekonomi dan pendidikan massa rakyat. Di negara-negara berkembang sosialisme sering berjalan dengan beban tradisi pemerintahan yang otoriter oleh kekuatan imperalis asing atau oleh para penguasa setempat.

Daftar Pustaka
Ebenstein, William dan Edwan Fogelman. 1994. Isme-Isme Dewasa Ini.Erlangga : Jakarta.
Fink,Hans. 2003. Filsafat Sosial dari Feodalisme Hingga Pasar Bebas. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Giddens,Anthony. 2000. Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
Kusumandaru,Ken Budha. 2004. Karl Marx, Revolusi, dan Sosialisme. Resist Book : Yogyakarta.
Saksono,Gatut. 2009. Neoliberalisme VS Sosialisme. Forkoma PMKRI : Yogyakarta. 
Sunarto,Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta.



[1] Salah satu motif di balik perubahan itu adalah kekhawatiran bahwa penderitaan kelas buruh akan mengakibatkan terjadinya revolusi dan berbagai kalangan kaum borjuis menggalang derma untuk meringankan kemelaratan dan merosotnya kondisi kehidupan kelas buruh.
[2]Suatu kampanye untuk mendorong perluasan hak suara secara radikal (yang bahkan sesudah reformasi tahun 1832 tidak melibatkan kebanyakan buruh industri, belum lagi seluruh kaum perempuan).
[3]Ini berarti, bagi para buruh yang bisa mendapatkan pekerjaan, upah riil tidak menurun, kendati melemahnya organisasi-organisasi kelas buruh sebagai akibat dari pengangguran mengakibatkan menurunnya uang upah dan beberapa kemunduran lainnya.
[4]Teori ekonomi sosialisme didasarkan pada gagasan bahwa dengan hanya mengandalkan segala perangkatnya, kapitalisme secara ekonomis tidak efisien.
[5] Gatut Saksono, Neoliberalisme VS Sosialisme,  Forkoma PMKRI, 2009
[6]Dalam berbagai perjuangan rakyat untuk merebut martabat kemanusiaan dan keadilan sosial, suatu visi alternatif tentang masyarakat sosialis selalu terkandung di dalamnya.Sudah selayaknya dibangun kembali dan diperbaharui kembali visi sosialis.
[7]William Ebenstein dan Edwan Fogelman, Isme-Isme Dewasa Ini, Erlangga, 1994.

Karya: Annisa Nindya Dewi, M.Sos
Magister Sosial Universitas Sebelas Maret
Email: sanindyadewi@gmail.com


Rabu, 09 Mei 2018

Memahami Positivisme Generatif Pierre Bourdieu

Pierre Bourdieu adalah salahseorang pemikir Prancis palingterkemuka dan dikenal sebagaisosiolog sekaligus antropolog yang pada masaakhir hidupnya dikenal sebagai jawarapergerakan antiglobalisasi. Karyanya memilikibahasan yang luas tentang etnografidan seni, sastra, pendidikan, bahasa,serta kultural dan televisi. Bourdieu dikenal dengan model paradigma Positivisme Generatif atau Strukturalisme Genetikdengan basis teoritisnya dari berbagai penelitian di Afrika khususnyan Aljazair. Karya utamanya adalah Outline Of a Theory Of Practice (Cambridge University Press, 1977). Teori Bourdieu dibangun dari pertanyaan dasar “bagaimana sebuah masyarakat dengan segala seluk beluknya terbentuk”?. Pertanyaan ini berangkat dari pandangan Bourdie kehidupan sosial sebagai realitas dialektis antara struktur dan agen, sehingga realitas sosial merupakan realitas yang kompleks. 

Secara lengkap artikel ini bisa di download atau baca dibawah ini:

.  

Karya: Khairul Amin 
Mahasiswa Pasca Sosiologi 
Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh

Zaman Euforis Konsumsi: Ketika Ekonomisme Menjadi Sistem Kapitalisme Kompetitif

Meskipun ekonomi borjuis tetap dominan di Amerika Serikat dan kebanyakan Eropa Barat, para pengikut Marx meneruskan tradisi Marxis. Engels menyunting dan menerbitkan volume kedua dan ketiga karya Marx, Capital, diikuti karyanya yang lain hasil suntingan Kautsky, Historis of Economic Doctrine. Setelah itu, perhatian Kautsky terhadap kapitalisme pertanian, Das Finazcapital (1910) karya Rudolf Hilferding, Accumulation of Capital (1913) karya Luxerburg dan Imperialism:The Last Phose of Capitalism (1917) karya Lenin merupakan upaya-upaya untuk mengembangkan karya-karya awal Marx.

Secara lengkap artikel ini bisa di download atau dibaca dibawah ini:

 

Karya: Annisa Nindya Dewi, M.Sos

Minggu, 01 April 2018

George Caspar Homans: Proses Sosial sebagai Pertukaran Sosial

George C. Homans lahir pada 11 Agustus 1910 di Boston, Massachusetts.Homans adalah anak tertua dari Robert Homans, seorang pengacara dan anggota Harvard Corporation. Homans belajar di sekolah lanjutan swasta St. Paulus yang cukup bergengsi di Concord, New Hampshire dari tahun 1923-1928 dan lulus dalam bidang Sastra Amerika dan Inggris tahun 1932. Pada 1934-1939 Homans terpilih menjadi mahasiswa doktor muda di sosiologi Harvard. Di sana, selain mengajar sosiologi, Homans juga mengajar sejarah abad pertengahan (medieval history). Di sana pula, ia mendapat anugerah guru besar sosiologi setelah Homans mengajar dan menjadi faculty member di Harvard dari tahun 1939-1941.

Homans juga seorang associate professor dari tahun 1946-1953, di Universitas Cambridge 1955-1956, dan di Universitas Kent 1967. Sebagai perwira angkatan laut selama Perang Dunia II, Homans kembali ke Harvard sebagai anggota fakultas dari tahun 1046-1971, sampai akhirnya ia pensiun mengajar di Universitas Harvard pada tahun 1980. Homans menerbitkan The Witch Hazel, Poems of Lifetime, satu tahun sebelum ia meninggal pada 29 Mei 1989 di Cambridge Hospital karena penyakit hati yang terakumulasi. Homans meninggal setelah meninggalkan tempat sebagai profesor sosiologi dan menjadi pimpinan jurusan dan dekan S-1 (Undergraduate).di Harvard pada tahun 1980.

Keeluruhan artikel diatas  dapat dibaca atau diunduh pada kolom baca dibawah ini:

Karya: Annisa Nindya Dewi, M.Sos.

Saadia Gaon Dan Tumbuhnya Tradisi Penulisan Judeo Arabic Di Era Pemerintahan Islam: Sebuah Tinjauan Sosio Historis

Ekspansi Islam ke wilayah-wilayah yang jauh dari episentrum kemunculannya di Arabia hingga memasuki pusat-pusat kekuasaan dunia kala itu yaitu di Persia, Konstantinopel, Spanyol dll bukan hanya menancapkan pengaruh kekuasaan politik dan agama namun juga turut mengubah struktur sosial dan kebudayaan masyarakat yang dikuasainya. Terjadi masa-masa keemasan pemerintahan Islam dimana ilmu pengetahuan dan sastra berkembang akibat proses penerjemahan karya-karya klasik dalam bahasa Arab baik yang dilakukan oleh orang-orang Islam maupun non Islam yang berhasil ditundukkannya termasuk komunitas Yahudi.

Orang-orang Yahudi dan Kristen di wilayah pemerintahan Islam menerima status baru yang tidak sama sebelumnya dan mengubah struktur sosial lama dengan menjadi seorang dhimmi yaitu menjadi bagian dari pemerintahan Islam yang dilindungi dan membayar pajak sebagai bentuk pengakuan dan perlindungan. Tentu saja status dhimmi bisa dikatakan sebagai warga minoritas dan kelas dua yang memiliki sejumlah keterbatasan dan pembatasan sehingga setiap bentuk pelanggaran terhadap pembatasan tersebut akan memiliki sejumlah konsekwensi hukum.

Status sebagai dhimmi membentuk hubungan sosial baru sekaligus membentuk pola interaksi sosial dan keagamaan yang adaptif dan asimilatif dimana salah satunya menumbuhkan perkembangan bahasa Judeo-Arabic di wilayah-wilayah dimana komunitas Yahudi berada di bawah naungan pemerintahan Islam khususnya di Persia, Babilonia (Baghdad), Spanyol (Kordoba), Byzantium (Konstantinopel). Nama Saadia Gaon mengemuka sebagai sarjana Yahudi dan Yudaisme yang mengembangkan tradisi penulisan baru dalam bahasa Ibrani berkarakter Arab dan bahasa Arab berkarakter Ibrani yang disebut Judeo-Arabic dan dipergunakan untuk menerjemahkan Kitab Torah dan karya Teologi Yudaisme serta berbagai karya sastra berupa puisi-puisi Ibrani.

Karya-karya Teologi Yudaisme yang disusun oleh Saadia Gaon harus dibaca dalam konteks sosiologis dan historis dan tidak bisa terlepas dan berdiri sendiri khususnya saat membaca Tafsir at Tawrat yang merupakan terjemahan Kitab Pentateukh atau 5 Kitab Torah Musa yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan dalam bahasa Judeo-Arabic dimana akan ditemui nama Tuhan, nama nabi, nama kota suci yang familiar di telinga pembaca Muslim seperti Allah, Ibrahim, Ismail, Mekkah dan Medinah.

Membaca karya-karya Teologi Yudaisme Saadia Gaon bukan hanya memberikan pemetaan sitz im leben atau life setting atau social situation komunitas Yahudi – baik para sarjana maupun masyarakat umum - sebagai dhimmi, namun sekaligus memberikan sebuah peluang baru dalam membaca hubungan keagamaan khususnya Islam dengan Yahudi yang lebih kerap tampil ke permukaan dalam bentuk yang saling menegasikan dan anti tesis satu sama lain. Setidaknya pada suatu masa pernah ada sebuah interaksi sosial yang harmoni dan saling melengkapi antara Yahudi dan Islam dalam sebuah pembangunan bersama menuju sebuah pembangunan peradaban dan Renaisance dunia Islam.

Secara lengkap artikel ini disa dibaca / diunduh dengan mengakses kolom baca dibawah ini:


Karya: Teguh Hindarto, S.Sos., MTh

Jumat, 16 Maret 2018

Bedah Buku dan Diskusi Tematik: Kajian Analisis Sosial Dengan Pendekatan Konsep Teori Tokoh Sosiologi Indonesia

Beberapa waktu lalu, IKA UT (Ikatan Keluarga Alumni Universitas Terbuka) Kebumen, tepatnya pada tanggal 10 Maret 2018 mengadakan kegiatan Bedah Buku dan Diskusi Tematik: Kajian Analisis Sosial Dengan Pendekatan Konsep Teori Tokoh Sosiologi Indonesia karya Perkumpulan Braindilog Sosiologi Indonesia di Aula SMP N 7 Kebumen.


Kegiatan Tersebut dihadiri Oleh  Perwakilan Siswa-Siswi SMA/MA se-Kabupaten Kebumen (Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial), Guru Sosiologi se-Kabupaten Kebumen, Mahasiswa Bidikmisi Universitas Terbuka Kebumen, Perwakilan LIPI Kebumen, Perwakilan Perkumpulan Braindilog Sosiologi Indonesia dari Surakarta, Tegal, Palu, dan beberapa peserta umum. Perwakilan Braindilog Sosiologi Indonesia yang hadir adalah Alan Sigit Fibrianto, S.Pd.,M.Sos (Surakarta, Provinsi Jawa Tengah), Khamalida Fitrianingsih (Tegal, Provinsi Jawa Tengah), dan Ulfiana (Palu, Provinsi Sulawesi Tengah).


“Kegiatan yang diselenggarakan IKA UT (Ikatan Keluarga Alumni Universitas Terbuka) Kebumen ini memiliki beberapa tujuan sebagai berikut; Pertama, mensosialisasikkan peran dan peluang Universitas Terbuka di era digital kepada para peserta yang hadir baik dari kalangan SMA se-Kabupaten Kebumen (Jurusan Ilmu Sosial) dan mahasiswa Bidikmisi Universitas Terbuka serta beberapa peserta umum. Kedua, Memberikkan pemahaman perihal peran dan kontribusi ilmu-ilmu sosial (Khususnya Sosiologi) dalam menganalisis dan memecahkan persoalan-persoalan sosial. Ketiga, membangun atmosfir dan kultur berfikir ilmiah rasional melalui tindakkan mengulas sebuah buku,” ungkap Ketua IKA UT Kebumen, Darmono, S.Pd.


Acara bedah buku ini dipandu oleh Wahyudi, S.Ip., M.Si sebagai moderator, menghadirkan Syamsul Bakhri. S.Pd., M.Sos., Ketua Umum Braindilog Sosiologi Indonesia yang memaparkan isi, maksud dan tujuan penulisan buku tersebut dan Teguh Hindarto, S.Sos., MTh., selaku pembedah yang menganalisis kelebihan dan kekurangan penulisan dalam buku tersebut. 

Berikut adalah pemaparan materi oleh pembicara Syamsul Bakhri. S.Pd., M.Sos:


Berikut adalah pemaparan materi oleh pembedah buku Teguh Hindarto, S.Sos., MTh:


Berikut adalah video berita mengenai acara bedah buku yang diliput oleh Ratih TV, media Pemerintah Daerah Kebumen:


Nampak peserta dan guru cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ada usulan untuk mengadakkan kegiatan sejenis sebagai wahana para siswa melakukan kegiatan menulis dan mempublikasikan karya tulis mereka yang dapat dipublikasikkan di media massa baik cetak maupun online atau dalam sebuah buku. Ada pula pertanyaan peserta yang menggelitik dengan mempertanyakkan tidak adanya hubungan antara teori dan praktik dalam pembelajaran di Sekolah, sehingga selama ini pelajaran Sosiologi disekolah hanya dihafalkan saja, dll.

Peran Taman Cerdas Jebres Terhadap Pendidikan Anak Marginal Di Surakarta (Studi Kasus Taman Cerdas Di Jebres)

Taman Cerdas” as an arena plan on learning methods ‘play while learning’ with a relaxed atmosphere and very varied in accordance with the interest of each child. The concept developed is able to shape the character of a child to love and love to learn so that the learning process is not perceived as a burden but quite pleasant. The garden as part of stress management with basic PH such as belief, affective, social, cognition, physical. The presence of “Taman Cerdas” as a form government programs in order to make the city of Surakarta as the “Kota Layak Anak” (KLA).

The purpose of the research is to find out how “Taman Cerdas” contribution in educate the kids especially the marginal in Jebres village Surakarta. Data collecting techniques are done through observation, interview, and documentation. Data analysis technique is done through interpretative analysis.

The result shows that “Taman Cerdas” contributes to the education of children, princesses, marginally in Jebres village with a variety of activities that are carried out not only that the public is also given the opportunity to channel their good talent in the art of music as well as dance. The presence of children as intelligent agent of change. In short, this study provides a positive contribution to education of the child especially for the marginally.



Karya: Anastasia Agnez Zogara, M.Si