Buku Karya Braindilog

Berisi mengenai kajian analisis sosial dengan pendekatan konsep teori tokoh Sosiologi Indonesia.

Braindilog

Merupakan sebuah konsep dan metode diskusi yang di lakukan dengan tahapan Brainstorming, Dialectic, dan Logic dari teori atau permasalahan sosial yang didiskusikan.

Braindilog Sosisologi Indonesia

Mengawal Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia menuju otonomi teori Sosiologi Indonesia yang berlandaskan nilai, norma, dan kebermanfaatan masyarakat Indonesia.

Gerakan Otonomi Teori Sosiologi Indonesia

Sayembara menulis artikel sosiologi Indonesia adalah upaya Braindilog Sociology dalam menyebarluaskan gagasan otonomi teori sosiologi Indonesia.

Braindilog Goes To Yogyakarta

Diskusi Lintas Komunitas bersama Joglosonosewu dan Colombo Studies di Universitas PGRI Yogyakarta dengan tema "Konflik Horisontal Transportasi Online". Selain dihadiri komunitas, acara ini juga diikuti oleh beberapa perwakilan mahasiswa dari masing-masing kampus di Yogyakarta.

Sabtu, 28 Juli 2018

Daftar Jurnal Online Sosiologi


Banyaknya permintaan dari Anggota dan pembaca web Braindilog Sosiologi Indonesia untuk ada tulisan mengenai informasi nama dan laman jurnal online Sosiologi yang ada di Indonesia, kami dengan ini berusaha membuat tulisan rintisan yang bertujuan mengumpulkan semua informasi mengenai jurnal kajian sosiologi yang ada di Indonesia beserta laman OJS jurnal yang bersangkutan. Oleh karena itu kami memohon bantuan dari pembaca untuk memberikan informasi mengenai nama jurnal dan laman jurnal yang berlum terdaftar dalam daftar Jurnal Sosiologi yang kami buat melalui kolom komentar. Kami akan melakukan penyempurnaan berkala mengenai informasi ini untuk membantu pegiat Sosiologi di Indonesia dalam mencari referensi hasil penelitian dan penulisan hasil penelitian di Jurnal Sosiologi. Berikut ini sementara ada 25 daftar jurnal Sosiologi yang berahasil kami himpun:  
  1. Jurnal Analisa Sosiologi, Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  2. Komunitas: International Journal Of Indonesian Society And Culture, Jurusan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Negeri Semarang. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini 
  3. Jurnal Sosioteknologi, Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan FSRD ITB. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  4. Jurnal Pemikiran Sosiologi, Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  5. Sosiologi: Jurnal Ilmiah kajian ilmu sosial dan budaya, Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  6. Masyarakat: Jurnal Sosiologi, LabSosio, Center for Sociological Studies, Departement of Sociology, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Indonesia. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  7. Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi, Department of  Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  8. Jurnal Sosiologi Andalas, Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.  klik disini
  9. Jurnal Sosiologi Reflektif, Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora, UIN Sunan KalijagaUntuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  10. Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, Department of Sociology, Faculty of Social Sciences, State University of Malang. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  11. Socius: Jurnal Sosiologi, Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  12. JSW: Jurnal Sosiologi Walisongo, Laboratorium Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  13. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, IPB.  Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  14. Jurnal Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  15. Solidarity: Journal Of Education, Society, and Culture, Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Negeri Semarang.  Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  16. Jurnal Ilmiah Sosiologi (Sorot) Universitas Udayana. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  17. Sosiologika: Jurnal Sosiologi Pembangunan Indonesia, Program Studi Sosiologi-FISIP UNAS. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  18. Jurnal Sosiologi Islam, UIN Surabaya. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  19. Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  20. Jurnal Equilibrium Pendidikan Sosiologi. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini  
  21. Jurnal Sosiologi Agama, Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  22. Habitus : Jurnal Pendidikan, Sosiologi, dan Antropologi, Pendidikan SosAnt UNS. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  23. Dimensi: Journal of Sociology, Department of Sociology, Faculty of Social and Cultural Sciences, Trunojoyo University. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  24. Jurnal Ilmu sosial mamangan, Labratory of Sociology Education Department of STKIP PGRI Sumatera Barat. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  25. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi. Program Studi Pendidikan Sosiologi, UPI Bandung. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini
  26. Jurnal Sosiologi Nusantara. Jurusan Sosiologi, FISIPOL Universitas Bengkulu. Untuk mengunjungi laman jurnal ini silahkan klik disini

Informasi ini disusun oleh: TIM Pengembangan Keilmuan Braindilog Sosiologi Indonesia

Minggu, 01 Juli 2018

Feodalisme: Saat Sistem Fief Mengatur Kehidupan Masyarakat


A.     Lahirnya Sistem Fief
Selama abad ke-9, Eropa Barat dilanda oleh serangkaian dari luar.Sebelum terjadi penyerbuan-penyerbuan itu, unit sosial yang tipikalnya adalah kerajaan.Sebagian besar lahan masih liar dan belum dihuni manusia, area-area yang sudah dibudidayakan terpilah menjadi lahan milik kerajaan, lahan milik gereja, estat (estate) pribadi yang dimiliki para lord dan lahan pertanian yang dimiliki para petani bebas.Secara teori, seorang raja bisa menarik pajak atas seluruh lahan dan semua orang yang bebas bisa dikenakan wajib militer berdasarkan perintah raja mereka. Namun, dengan cara seperti ini, pada saat seorang raja masih sedang menyiapkan bala tentara, para penyerbu sudah selesai menjarah dan pergi. Maka yang diperlukan adalah bala tentara yang siap setiap saat, yang berupa laskar berkuda dengan senjata lengkap. Namun perlengkapan yang diperlukan itu terlampau mahal untuk dimiliki kebanyakan petani dan sistem pajak yang didasarkan pada pembayaran dalam bentuk barang atau jasa, dikarenakan ketidakstabilan uang tidak memungkinkan sang raja sendiri menyediakan bala tentara bersenjata lengkap. Dalam situasi ini, sejenis sistem imbalan yang berakar pada zaman kuno berangsur-angsur dikembangkan dan kemudian menjadi lembaga utama hingga beberapa abad yaitu sistem fief[1].
Salah satu cara menciptakan fief adalah bahwa raja menyerahkan sebagian lahan milik kerajaan dalam bentuk fief kepada seorang tokoh militer terkemuka, yang biasanya adalah seorang lord atau petani bebas. Si pengelola fief lantas menjadi majikan para petani di dalam fief itu dan memiliki hak menarik pajak serta menerapkan otoritas legal.Sebagai imbalannya, si pengelola fief bersumpah setia kepada raja, turut berperan dalam menjaga pertahanan wilayah itu dari ancaman musuh-musuh raja dan menyediakan sejumlah laskar berkuda dengan senjata lengkap.Sistem fief memungkinkan para raja menyediakan persenjataan dan membiayai bala tentara, serta menyelenggarakan administrasi legal dan fiscal untuk wilayah yang bersangkutan.Namun itu juga berarti sebagian besar wilayah kerajaan menjadi semi-otonom. Cara lain untuk menciptakan fief adalah bahwa raja membebaskan seorang lord dari kewajiban membayar pajak jika si lord itu, sebaliknya bersedia menangani sendiri urusan administrasi legal, bersumpah setia kepada raja, serta mempersenjatai dan membiayai sekelompok serdadu[2]
Ini sering kali dilakukan dengan cara si lord menyerahkan lahannya kepada raja dan menerima lahan itu kembali sebagai fief turun temurun yang disertai hak dan kewajiban tertentu. Sementara itu fief yang pada mulanya adalah lahan milik kerajaan atau gereja kemudian menjadi lahan turun temurun pula, sehingga perbedaan antara fief pemberian raja dengan fief yang semula adalah estet bebas berangsur-angsur lenyap, setidaknya di banyak kawasan di Eropa.Para pengelola fief yang besar, seperti halnya raja mereka, sering memberikan bagian-bagian fief mereka dalam bentuk pengabdian, dengan tujuan untuk menjamin kesetian dan dukungan terus-menerus.Di kebanyakan wilayah Eropa, ini bararti mayoritas petani bebas dipaksa agar tunduk kepada lord. Secara formal, mereka memberikan tanahnya kepada lord, dan menerimanya kembali sebagai lahan turun temurun, sehingga mereka mendapatkan perlindungan dan terbebas dari kewajiban membayar pajak kepada raja, namun dengan imbalan bahwa mereka harus bekerja di demesne atau membayar sewa lahan. Hanya di daerah-daerah pinggiran atau yang sangat terpencil, masyakat-masyarakat petani bebas bisa bertahan sebagai pemilik lahan secara mandiri.

B.      Sistem Kelas
Secara formal, raja adalah lord tertinggi yang menguasai semua fief, dan semua lahan pada dasarnya adalah milik raja.Namun berangsur-angsur fief menjadi harta turun temurun dan di sejumlah tempat seseorang bisa mendapatkan fief lebih dari satu lord yang menjadi atasannya. Ini berarti ikrar pengelola fief nyaris tidak ada artinya dan kekuasaan nyata sang raja menjadi sangat kecil. Secara khusus, apa yang semula merupakan sekumpulan lord yang berbeda-beda, yang masing-masing bertanggung jawab kepada raja, lantas menjadi satu kesatuan kelas atau golongan, kelas bangsawan.  Kendala khusus yang sangat kuat dan perbedaan status yang tegas memisahkan kaum bangsawan dengan kaum petani.
Namun, sekarang kaum bangsawan memonopoli tugas-tugas militer dan administratif, dan tidak lagi terlibat dalam kegiatan produksi.Sementara para petani tidak lagi menjalankan tugas militer dan tugas-tugas lain berdasarkan hak mereka sendiri, dan dipaksa untuk berkonsentrasi pada pekerjaan pertanian saja.Kaum bangsawan menduduki posisi kepemilikan yang efektif atas lahan.Namun, di dalam lembaga fief, lahan yang tidak dapat dikenai status sebagai harta milik pribadi yang eksklusif atau tak bersyarat.Dalam kaitannya dengan sebidang lahan budidaya yang manapun, beberapa orang bisa mempunyai hak untuk menyatakan lahan ini milikku.Tidak ada seorang pun yang memiliki hak penuh dan eksklusif atas sebidang lahan, tidak ada seorang pun yang punya hak terbatas untuk memperlakukan sebidang lahan sendiri, tidak ada seorang pun yang bisa menjual atau membeli sebidang lahan begitu saja.Milikku bukan berarti secara universal bukan milikmu.
Istilah feodalisme secara harfiah berarti sebuah masyarakat yang diatur berdasarkan sistem fief, dengan kekuasaan legal dan politis yang menyebar luas di antara orang-orang yang memiliki kekuasaan ekonomi[3].Mode produksi feodal bisa dibedakan dengan mode produksi perbudakan, dimana para budak dimiliki oleh seorang lord yang juga memiliki segala sesuatu yang dihasilkan oleh budak-budak itu dan itu berbeda lagi dengan mode produksi yang didasarkan pada kerja para petani bebas dan buruh-buruh upahan bebas.Mode produksi feodal menjadi semakin dominan karena semakin besar bagian dari keseluruhan jumlah produksi dilakukan oleh para petani tak bebas.

C.      Ekspansi Feodal Tahun 1000-1300
Pada tahun 1000, berbagai serbuan bisa dikatakan telah berhenti dan perdagangan lambat laun mulai bangkit. Sekitar tahun 1050, jumlah populasi mulai meningkat dan periode antara tahun 1050 hingga 1250 merupakan periode berkembangnya ekonomi Eropa. Bangkitnya perdagangan dan pembaharuan mata uang yang bisa diterima secara internasional menyebabkan terjadinya perluasan kota-kota lama dan munculnya banyak kota baru, yang sering kali berlokasi di dekat kastil-kastil berbenteng. Di beberapa wilayah Eropa, kota-kota tunduk kepada kaum bangsawan, di berbagai wilayah lain, kota-kota itu berada di bawah kekuasaan raja secara langsung.

Jadi, pada sekitar tahun 1250, struktur sosial yang relatif stabil dan sangat terstratifikasi telah terbentuk. Struktur itu terdiri dari tiga satuan sosial yaitu mereka yang berdoa untuk suatu wilayah, mereka yang berjuang mempertahankan suatu wilayah, dan mereka yang menghasilkan pangan dan berbagai kebutuhan lain. Kadang kala, fief bisa dijual oleh lord besar jika belum ada yang mengelola, namun jelas tidak ada pasar bebas untuk memperjual belikan lahan.Hak kepemilikan lahan secara bersyarat pada umumnya dipegang oleh keluarga-keluarga bangsawan.

D.     Pemikiran tentang Masyarakat Feodal
Lembaga-lembaga feodal membentuk latar belakang dan titik tolak bagi orang-orang abad ke-13 yang berpikir tentang kehidupan sosial.Bagi mereka, tradisi merupakan ukuran utama bagi kebenaran dan kesalahan.Fakta bahwa suatu pola tertentu telah dianut dalam jangka lama, atau sejak zaman dahulu kala, lantas mendasari argument terkuat yang dimungkinkan, yang justru memperkuat pola itu sendiri. Jika sesuatu pernah terjadi, maka ia akan dengan mudah menjadi adat istiadat[4]. Pemberontakan petani yang bersifat lokal pernah terjadi dari waktu ke waktu, namun biasanya itu terjadi jika tindakan tertentu seorang lord atau kaki tangannya dianggap melanggar adat-istiadat.Pemberontakan terhadap adat atau terhadap perbudakan tidak pernah terjadi. Para lord memiliki kekuatan militer untuk menumpas pemberontakan.
Otoritas adat didukung sepenuhnya oleh pandangan dunia gereja.Selama berabad-abad, dasar pemikiran sosial gereja adalah kenyataan bahwa adanya lembaga-lembaga penaklukan itu merupakan hukuman bagi kejatuhan Adam dan Hawa serta akibat dari perilaku angkara yang dilakukan oleh semua anak-cucu mereka.Naumn, lambat laun, konsepsi yang agak berbeda bisa diterima pandangan bahwa ciri-ciri utama tatanan sosial feudal adalah akibat dari aturan ilahi dan bukan sekedar hukuman atas ketidaktaatan manusia.Dalam pandangan ini, kepatuhan orang-orang terhadap para majikan, lord, dan raja adalah sesuatu yang alami dan benar, asalkan itu berlangsung dalam batas-batas tertentu, jika tidak maka hal itu menjadi tidak alami dan tidak benar.

E.      Krisis Feodalisme Abad ke-14 dan Dampaknya
Sekitar tahun 1300, ekspansi feodal pun berakhir. Tanah yang kian tandus, sementara lahan lain yang belum dibudidayakan pada umumnya berkualitas buruk, merupakan salah satu penyebab berakhirnya ekspansi itu. Iklim yang kacau dan serangkaian hasil panen yang buruk agaknya juga menjadi penyebabnya.Sejak pertegahan abad ke-14, krisis itu diperparah oleh terjadinya serangkaian wabah penyakit menular, yang memangkas jumlah populasi Eropa setidaknya hingga seperempatnya.Namun dalam jangka panjang, wabah penyakit itu menimbulkan dampak struktural yang jauh lebih luas di kawasan pedesaan daripada di perkotaan.Krisis abad ke-14 mengakibatkan terjadinya perpindahan lahan dan mobilitas sosial yang jauh lebih tinggi daripada yang pernah terjadi pada abad-abad sebelumnya.
Kebangsawanan diperlemah, sedangkan raja dan kota-kota menjadi lebih kuat.Dalam abad ke-14 dan abad ke-15 tampak jelas adanya kemunduran dalam bidang ekonomi.Lain daripada sebelumnya, jumlah penduduk tidak lagi meningkat, tetapi bahkan sangat turun dalam paruh kedua abad ke-14 sebagai akibat dari wabah penyakit sampar, yang dikenal dengan Ajal Hitam.Orang memperkirakan bahwa sekurang-kurangnya sepertiga dari seluruh jumlah penduduk telah menjadi korban wabah tersebut. Pun dalam periode itu tidak terjadi pembaharuan-pembaharuan tehnik. Tetapi menjelang akhir abad ke-15, mulai tampaklah perkembangan-perkembangan baru.

F.       Kemakmuran Baru, Tahun 1500-1600
Tatanan feodal sudah terguncang, dan perubahan struktural yang telah mulai berlangsung dengan cepat ketika perekonomian memburuk lantas mengalami perubahan pada akhir abad ke-15.Pada saat itu, populasi dan perdagangan tumbuh pesat sedangkan kota-kota kian meluas dan menciptakan permintaan baru atas produksi-produksi pertanian. Pada saat yang sama, terjadi arus masuk emas dan perak dari Amerika, dan tehnik-tehnik pengolahan bijih yang lebih sempurna telah ditemukan. Melimpahnya emas dan perak meyebabkan nilai mata uang meyebabkan nilai mata uang merosot dan harga meningkat, terjadi inflasi pada saat itu.Fakta bahwa harga cenderung meningkat di sepanjang periode yang panjang sangat menguntungkan mereka yang memiliki barang-barang yang bisa dijual, namun tidak berpengaruh bagi mereka yang tidak memiliki apa-apa, atau yang memiliki penghasilan dalam bentuk uang dengan jumlah tetap.


Daftar Pustaka

Hans Fink. 2003. Filsafat Sosial dari Feodalisme Hingga Pasar Bebas. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Prof. Dr. L. Laeyendecker. 1991. Tata, Perubahan, dan Ketimpangan Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. PT Gramedia Pustaka Utama : Jakarta



[1]Hans Fink. Filsafat Sosial dari Feodalisme Hingga Pasar Bebas. Pustaka Pelajar, 2003
[2]Secara formal, fief tersebut tetap merupakan milik raja dan dikembalikan haknya kepada raja masyarakat luar gereja sehingga para raja biasanya bisa menjadikan lahan milik gereja sebagai fief.
[3]Istilah feodalisme diambil dari istilah Latin, “feodum” yang berarti fief.
[4]Jadi siapa pun yang pernah berhasil melakukan tindakan tertentu dengan demikian akan mendapatkan sesuatu yang bisa dikatakan sebagai hak untuk mengulangi tindakan itu lagi.


Karya: Annisa Nindya Dewi
Magister Sosial Universitas Sebelas Maret Surakarta
Email: Sanindyadewi@gmail.com

Jumat, 01 Juni 2018

Difusi Inovasi Terhadap Pengembangan Potensi Alam : Pengembangan Potensi Alam Jembatan Kretek Gantung Di Desa Setail Kabupaten Banyuwangi

Kehidupan dalam masyarakat desa dapat dilihat dari berbagai macam aspek sesuai dengan bidang yang dibutuhkan. Ilmu ekonomi mempunyai tinjauan dari segi ekonomi, ilmu politik mempunyai tinjauan dari segi politik, ilmu sosial mempunyai tinjauan dari segi sosial, begitu pun dengan ilmu- ilmu yang lainnya. Tulisan ini saya buat bertujuan untuk mencoba memahami kehidupan desa dari sisi tertentu, disesuaikan dengan tujuan penulisan yang memberikan bekal ide selayang pandang mengenai kemampuan sebuah desa mengelola alam yang melimpah dan menguntungkan.


Karya: Azkiyatul Afia Amaelinda
Mahasiswa Sosiologi Agama Semester IV IAIN Kediri dan  aktifis literasi dalam komunitas Banyuwangi District

Sosialisme : Sebuah Proses Destruksi Sekaligus Konstruksi

A.    Lahirnya Kelas Buruh
Kira-kira tahun 1870, Inggris telah mengembangkan industri manufaktur yang paling maju di dunia.Lebih dari sepertiga produksi industrial berlangsung di Inggris. Namun proses industrialisasi juga telah maju di negara-negara lain, terutama di Amerika Serikat, Perancis dan Jerman. Di Eropa, proses tersebut mengakibatkan hancurnya kaum cakapan tradisional dan merosotnya kesejahteraan kaum tukang. Sekian juta orang-orang Eropa beremigrasi, hal itu sangat mendorong perkembangan industri dan pertanian di negara-negara lain, terutama di Amerika Serikat dan banyak meringankan berbagai tekanan sosial di Eropa.Legislasi berangsur-angsur diperkenalkan di Inggris untuk mengurangi dampak buruk persaingan bebas[1].Kompetisi tersebut memaksa para majikan untuk mempertahankan upah serendah-rendahnya dan para buruh industri tidak punya peluang untuk menolak pemotongan upah.Buruh individual selalu rentan untuk dipecat, mereka hanya bisa membela diri secara kolektif, dengan berorganisasi sehingga mampu melancarkan ancaman untuk menarik tenaga kerja mereka secara penuh.

Ungkapan praktis yang paling jelas dari cita-cita proletariat baru pertama-tama adalah diciptakannya serikat-serikat dagang atau serikat buruh dan kemudian federasi-federasi dari berbagai serikat itu secara nasional dan internasional.Secara politik, serikat-serikat dagang itu mendorong gerakan Chartisme[2]. Di benua Eropa, dimana perkembangan industri secara keseluruhan tidak terlampau maju, kelompok-kelompok kecil kaum buruh industri terlibat aktif dalam berbagai revolusi tahun 1848, terutama di Perancis dan Jerman dan dalam konteks ini gerakan kelas buruh cenderung mengambil bentuk politis daripada ekonomis. Gerakan-gerakan yang lebih awal itu pada dasarnya dilancarkan terhadap orang-orang yang kaya dan berkuasa, baik individu maupun kelompok. Sedangkan organisasi kelas buruh yang terbentuk sesudah Revolusi Inggris mulai memandang diri mereka sendiri berjuang bukan untuk melawan kaum kaya, namun melawan sistem yang memecah belah bangsa menjadi dua kelas, para pemilik kekayaan yang tidak perlu bekerja dan kaum buruh yang tidak dapat memiliki kekayaan.

B.     Sosialisme dan Karl Marx 
Kaum sosialis awal memandang kapitalisme sebagai sistem yang tidak adil dan irasional, yang harus digantikan oleh komunisme. Menurut Marx, kapitalisme telah mengakhiri ketidakadilan dan irasionalitas feudal, namun kapitalisme telah menggantikan dengan ketidakadilan dan irasionalitasnya sendiri. Marx yang pertama melahirkan filsafat sosial yang dirancang untuk membuka kemungkinan bagi sosialisme untuk tampil dalam perkembangan sejarah yang nyata. Bagi Marx, sejarah itu lebih berupa perkembangan produksi daripada realisasi prinsip-prinsip rasional. Pendekatan Marx terhadap perubahan historis bisa digambarkan dengan mengacu pada transisi dari feodalisme menuju kapitalisme.
Bagi Marx, hubungan-hubungan produksi kapitalis sama menindasnya dengan hubungan produksi feodal. Dari sudut pandang pemilik modal, satu-satunya tujuan produksi adalah laba. Laba bukan hanya penting untuk konsumsi pribadi si pemilik modal itu sendiri, namun yang lebih penting untuk membiayai investasi yang akan memungkinkan perolehan laba di masa mendatang. Perjuangan kelas akan terjadi, meskipun secara individual para pemilik modal dan kaum buruh tidak menghendaki, mangabaikan, atau menolaknya. Krisis akan berakhir dan suatu periode ekspansi akan bermula, meski hal ini pun pada akhirnya akan mengarah pada krisis baru berupa kelebihan produksi.

C.    Sosialisme Reformis dan Revolusioner Sebelum Tahun 1914
Sejak 1873-an, dunia terperosok ke dalam krisis ekonomi yang panjang dan serius. Ledakan ekonomi tahun 1850-an dan 1860-an disebabkan oleh sejumlah besar pembangunan rel kereta api di seluruh dunia. Banyak firma yang terpaksa gulungtikar dan firma yang masih bertahan seringkali harus menghadapi keadaan yang nyaris mendekati monopoli untuk komoditas-komoditas tertentu.Salah satu tanda krisis itu adalah jatuhnya harga[3].Pertumbuhan ekonomi belum benar-benar pulih sampai kira-kira tahun 1896.Ketika pada akhirnya pertumbuhan ekonomi menggeliat lagi, sebagian orang harus menghadapi efek purifikasi krisis yang telah mematikan industri yang memang sudah tak berdaya, dan sebagian harus menghadapi eksploitasi yang kian meningkat secara agresif atas sumber daya alam dan tenaga kerja murah di daerah-daerah jajahan.
Kebangkitan ekonomi ini dengan demikian terkait dengan imperialisme, nasionalisme, dan militerisme.Sudut pandang reformis itu mencakup peninjauan ulang atas pandangan Marxis tentang negara.Negara bukan lagi dilihat sebagai alat penindasan, namun sebagai agen netral yang bisa dijalankan oleh wakil-wakil dari para pemilik modal maupun buruh. Menurut mereka, sosialisme dengan demikian harus dipandang sebagai kerajaan tujuan-tujuan, sebuah cita-cita yang harus diperjuangkan oleh kaum sosialis agar sedapat mungkin mendekati kenyataan. Pada saat yang sama, komitmen terhadap cita-cita sosialisme harus dicegah agar tidak menghancurkan hukum dan ketertiban.

D.    Matinya Sosialisme
Asal-usul sosialisme berkaitan erat dengan perkembangan awal masyarakat industrial, pada suatu masa antara pertengahan dan akhir abad kedelapan belas.Sosialisme bermula sebagai kumpulan pemikiran yang menentang individualisme.Sosialisme pertama-tama merupakan impuls filosofis dan etis, tetapi jauh sebelum Marx sosialisme mulai tampil sebagai doktrin ekonomi.Tetapi Marx-lah yang melengkapi sosialisme dengan teori ekonomi yang rumit dan terperinci. Sosialisme berupaya mengatasi kelemahan kapitalisme dengan tujuan membuatnya lebih manusiawi, atau sama sekali menumbangkannya[4].
Secara sosial menimbulkan pertikaian dan tak mampu mengembangkan dirinya sendiri dalam jangka panjang.Teori ekonomi sosialisme selalu tidak memadai serta meremehkan kemampuan kapitalisme untuk berinovasi, beradaptasi, dan mendorong produktivitas.Sosialisme juga gagal memahami arti pentingnya pasar sebagai perangkat informasi yang menyediakan data penting bagi para penjual dan pembeli. Kelemahan-kelemahan sosialisme ini menjadi semakin terbuka dengan adanya proses globalisasi dan perubahan teknologi yang semakin intens sejak awal 1970-an.

E.     Membangun Kembali Sosialisme
Ide sosialisme modern pertama kali muncul dari Thomas More, dalam karyanya yang disebut Utopia.Ide ini muncul di Inggris pada pertengahan abad ketika petani-petani kehilangan akses tradisionalnya terhadap tanah sebagai akibat dari ditutupnya tanah sebagai ladang penggembala kambing. Alternatif mistis yang disketsakan oleh More ialah suatu masyarakat yang tanahnya dimiliki secara bersama, yang semua orang mengerjakan apa yang menjadi tugas mereka dan yang produk-produknya dari kerja didistribusikan kepada semua orang sesuai dengan kebutuhanmereka tanpa harus menggunakan uang dan tanpa harus jual beli[5]. Inti dari tujuan-tujuan kaum sosialis ialah menciptakan suatu masyarakat yang akan memungkinkan perkembangan secara utuh potensi dan kemampuan manusia.
Jadi pertumbuhan kemakmuran manusia tidak lain dari yang absolut, yang terus mengejewantahkanpotensi-potensi kreatifitasnya. Perkembangan segenap kekuatan manusiawi sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Kemakmuran dari hasil kerjasama akan mengalir secara lebih melimpah dan produk dari masyarakat produsen-produsen yang berasosiasi secara bebas ialah manusia-manusia yang akan mampu mengembangkan potensi mereka sepenuhnya dalam suatu masyarakat manusia. Dalam perjuangan-perjuangan ini, kaum buruh menjadi sadar akan kepentingan-kepentingan mereka bersama, mereka menjadi keniscayaan untuk berhimpun bersama melawan kapital. Inilah yang disebut Marx sebut sebagai praktik revolusioner yaitu kesesuaian antara perubahan situasi dan aktivitas manusia (perubahan diri). Proses membangun kembali suatu visi sosialis melibatkan keharusan untuk menjawab pengalaman-pengalaman abad ke-21, berikut ekspansi-ekspansi yang gagal[6].

F.     Sosialisme adalah Proses Sekaligus Tujuan
Ketidakpuasan dengan terjadinya penderitaan, ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sebagai akibat berkembangnya industrialisasi dan kapitalisme telah melahirkan gerakan sosial di berbagai negara Eropa abad ke-19, yang bertujuan merombak masyarakat ke arah persamaan hak dan pembatasan terhadap hak milik pribadi.Ada yang mengusulkan perombakan secara paksa, ada pula yang menghendaki perubahan secara damai.Gerakan ini dipelopori oleh para yang dinamakan sosialisme utopis.Di negara sosialis asas sosialisme seperti penguasaan alat produksi dan pengaturan distribusi komoditas oleh negara diterapkan.Pengaturan produksi dan distribusi komoditas di seluruh negara dilaksanakan secara terpusat.Di negara Eropa Timur lainnya semenjak runtuhnya rezim komunis yang telah berkuasa selama beberapa dasa warsa, maka sistem sosialisme yang diterapkan mulai digeser oleh kapitalisme.
Masyarakat sosialis yang lahir dari kapitalisme, kata Marx secara ekonomi, moral, dan intelektual mengandung bekas-bekas (jejak-jejak) masyarakat lama. Proses sosialis merupakan suatu proses destruksi sekaligus konstruksi suatu proses penghancuran elemen-elemen masyarakat lama yang masih tersisa (manusia yang masih berorientasi pada diri sendiri, maka memberi dukungan terhadap logika kapital) dan suatu proses membangun manusia-manusia sosialis yang baru. Kaum sosialis membangun dunia yang di dalamnya orang-orang saling berhubungan satu sama lain sebagai anggota dari suatu keluarga besar manusia, suatu masyarakat yang didalamnya bahwa kesejahteraan orang lain merupakan sesuatu yang harus diperhatikan. Ini adalah dunia solidaritas manusia dan cinta kemanusiaan.

G.    Masa Depan Sosialisme
Sosialisme mendasarkan daya tariknya pada dua hal, yaitu pemerataan sosial dan penghapusan kemiskinan. Sejarah dua abad terakhir telah menunjukkan adanya dua cara untuk mencapai pembangunan ekonomi yang pesat. Pertama, cara yang telah digunakan oleh negara-negara Barat yang sudah maju (Eropa barat laut dan tengah, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru) dimana pasar bebas merupakan alat utama untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang telah terbukti dalam sejarah adalah komunisme.Sosialisme berarti lebih banyak pelayanan jasa kemakmuran untuk mereka yang miskin, lebih banyak sekolah bagi mereka yang tidak menikmati pendidikan dan peningkatan martabat hidup bagi mereka yang secara tradisional serba kekurangan.Sosialisme di negara-negara yang sedang berkembang ialah komitmen pada perencanaan[7].
Pertumbuhan ekonomi sebagai suatu kebutuhan yang mendesak, mereka merasa bahwa pelaksanaan fungsi pasar bebas tidak akan menjamin perluasan dan pertumbuhan ekonomi yang pesat seperti yang dimaksud. Sosialisme di negara-negara berkembang berbeda dari negara-negara yang lebih makmur, karena perbedaan situasi historis. Sosialisme tidak diartikan sebagai cara mengindustrialisasikan negara yang belum maju, tetapi cara mendistribusikan kekayaan masyarakat secara lebih merata. Sosialisme tidak banyak dikonfrontasikan dengan tugas mendistribusikan hasil-hasil perekonomian industri yang masih sulit berjalan, melainkan untuk membangun suatu perekonomian industri dengan maksud menaikkan tingkat ekonomi dan pendidikan massa rakyat. Di negara-negara berkembang sosialisme sering berjalan dengan beban tradisi pemerintahan yang otoriter oleh kekuatan imperalis asing atau oleh para penguasa setempat.

Daftar Pustaka
Ebenstein, William dan Edwan Fogelman. 1994. Isme-Isme Dewasa Ini.Erlangga : Jakarta.
Fink,Hans. 2003. Filsafat Sosial dari Feodalisme Hingga Pasar Bebas. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.
Giddens,Anthony. 2000. Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial. PT. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
Kusumandaru,Ken Budha. 2004. Karl Marx, Revolusi, dan Sosialisme. Resist Book : Yogyakarta.
Saksono,Gatut. 2009. Neoliberalisme VS Sosialisme. Forkoma PMKRI : Yogyakarta. 
Sunarto,Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta.



[1] Salah satu motif di balik perubahan itu adalah kekhawatiran bahwa penderitaan kelas buruh akan mengakibatkan terjadinya revolusi dan berbagai kalangan kaum borjuis menggalang derma untuk meringankan kemelaratan dan merosotnya kondisi kehidupan kelas buruh.
[2]Suatu kampanye untuk mendorong perluasan hak suara secara radikal (yang bahkan sesudah reformasi tahun 1832 tidak melibatkan kebanyakan buruh industri, belum lagi seluruh kaum perempuan).
[3]Ini berarti, bagi para buruh yang bisa mendapatkan pekerjaan, upah riil tidak menurun, kendati melemahnya organisasi-organisasi kelas buruh sebagai akibat dari pengangguran mengakibatkan menurunnya uang upah dan beberapa kemunduran lainnya.
[4]Teori ekonomi sosialisme didasarkan pada gagasan bahwa dengan hanya mengandalkan segala perangkatnya, kapitalisme secara ekonomis tidak efisien.
[5] Gatut Saksono, Neoliberalisme VS Sosialisme,  Forkoma PMKRI, 2009
[6]Dalam berbagai perjuangan rakyat untuk merebut martabat kemanusiaan dan keadilan sosial, suatu visi alternatif tentang masyarakat sosialis selalu terkandung di dalamnya.Sudah selayaknya dibangun kembali dan diperbaharui kembali visi sosialis.
[7]William Ebenstein dan Edwan Fogelman, Isme-Isme Dewasa Ini, Erlangga, 1994.

Karya: Annisa Nindya Dewi, M.Sos
Magister Sosial Universitas Sebelas Maret
Email: sanindyadewi@gmail.com