Sabtu, 01 April 2017

Perang Arena Politik

Menjelang Pilkada serentak yang akan dilakukan diberbagai wilayah di Indonesia menjadikan kontestasi agenda 5 tahunan ini menjadi sangat spesial bagi masyarakat di berbagai wilayah. Dalam hal ini media sosial memiliki peranan sangat menentukan dalam rangka membentuk opini publik. Secara teoritik, politik dan perang pada masa kini diartikan  tidak lagi face to face atau dari panggung- ke panggung mimbar pidato, melainkan cyberwar dan digital war menjadi ruang dan arena bagi aktor-aktor politik praktis untuk mencoba membangun tatanan struktur imajinasi publik “public image” agar mau digiring sesuai keinginan-keinginan para aktor-aktor tersebut. Singkatnya, pada saat ini politik dapat dianalogikan sebagai perang, dan perang yang dianggap riil adalah perang lewat adu kekuatan digital (digital power). Sebab, dengan digital power tersebut, para agen politik dapat dengan mudah mensimulasikan strategi-strategi politiknya hanya cukup duduk-duduk disuatu ruangan dihadapan layar komputer maupun gadget, seketika perang opini-pun bisa dilancarkan dan masyarakat menjadi target sasaran mereka.

Ada satu tujuan yang diinginkan oleh aktor politik dalam hal perang digital ini yakni adalah citra. Bagi mereka dunia relitas dapat dimanipulasi sedemikian rupa lewat citra atau pencitraan. Manipulasi citra adalah sebuah strategi politik yang paling ampuh saat ini untuk menggiring publik agar bersimpati, empati hingga menggerakkan civil power  agar memilih calon-calon pemimpin daerah mereka. Namun, dengan perang digital ini aktor politik juga dapat merusak individual image atau citra salah satu pasangan calon. Singkatnya, kekuatan dunia digital dapat menjungkirbalikkan realitas riil keadaan tatanan sosial yang telah lama terbangun.
Arena
Salah satu strategi untuk merebut simpati publik yang paling tokcer dan cespleng pada saat ini adalah merebut arena atau panggung dunia media sosial atau dunia digital. Muncul kemudian sebuah opini barangsiapa yang menguasai peperangan didunia digital maka mereka akan memenangkan dunia realitas-pula. Terpilihnya presiden SBY dan Jokowi salah satu faktor terbesarnya adalah dukungan kemenangan lewat penguasaan media sosial, media cetak, media elektronik dan digital yang berhasil membangun citra “citra building” sehingga masyarakat terstrukturkan oleh opini para aktor-aktor media tersebut lalu sampai mendikte publik memilih kandidat pasangan calon Presiden dan wakil Presiden yang mereka usung. Singkatnya, media kini menjadi kekuatan untuk merebut simpati publik. Media adalah pertarungan arena sekaligus peperangan yang sebenarnya.

Dasar MoralitasTulisan ini mencoba memberikan pandangan alternatif bahwasanya dalam perang media semua pihak harus mampu menahan diri dari sikap menghalalkan cara menerabas etika dan moral. Informasi yang bau fitnah, SARA wajib diverifikasi terdahulu sebelum masuk konsumsi publik. Singkatnya, masyarakat berhak mendapatkan informasi yang benar dan akurat, inilah etika dan moralitas yang harus dijunjung tinggi ketika kita masuk dalam kontestasi politik pragtis dalam hal ini “arena perang”.Peristiwa demo 4 november di istana Jakarta adalah salah satu contoh kekuatan opini medsos mampu menggerakkan kenyataan sosial.Aksi besar ini adalah representasi kemenangan sekaligus kuasa aktor-aktor dibalik layar dalam menguasai arena media. Singkatnya, mereka sejatinya telah memenangkan medan peperangan. Mereka berhasil menstrukturkan pikiran publik sesuai pikiran mereka.    Tulisan ini berusaha keras untuk menjadikan kontestasi politik sebagai salah satu proses penyadaran masyarakat “people awarness” untuk tetap menjunjung tinggi etika dan moral di atas kepentingan pragmatis, menerabas dan menghalalkan cara. Sekaligus menjadikan Perang ini berpijak pada nilai-nilai moralitas universal.

Kesadaran Politik 
Paling penting dan utama dalam proses adu kuat peperangan politik adalah terbentuknya proses komunikatif antara aktor-aktor politik dengan masyarakat yang sehat dan bermartabat. Proses politik yang berjalan harus menjadikan masyarakat untuk naik kelas dari sebelumnya yang buta politik menjadi melek pilitik. Dari tadinya pemilih amplop menjadi pemilih yang cerdas dan kritis yang menjadi agen perubahan sosial masyarakat. Mereka semua adalah inti kekuatan masyarakat. Dengan melakukan proses penyadaran “awarness” berarti mendorong penuh kekuatan-kekuatan masyarakat grass root untuk menjadi pemegang kunci independen kondisi politik kebangsaan kita. Negara ini bukan milik segelintir elit politik, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia lintas kelas yang tersadarkan dan bebas dari dominasi dan strukturisasi oleh siapa-pun. Singkatnya, siapapun yang hidup di tanah air ini harus bekerja keras membangun proses kesadaran politik masyarakat secara etika dan bermoral.
Karya: Muhammad Iqbal Birsyada, M.Pd. Dosen Universitas PGRI Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar