Selasa, 01 Juni 2021

ORGANIZED CRIME (TERORISME) SEBAGAI PENYIMPANGAN SOSIAL

 

Terorisme adalah hal cukup familiar bagi masyarakat di Indonesia. antaranews.com (2021)[1] merilis sudah 94 terduga teroris ditangkap selama operasi pencegahan dan penindakan terorisme yang dilaksanakan sejak Januari hingga Maret 2021. Tindakan ini dapat dilatar belakangi oleh faktor-faktor tertentu seperti ekonomi, harga diri, politik. Tukina (2011)[2]. Dengan penyebab yang cukup luas maka perilaku teror ini dapat dikaji melalui cabang ilmu sosiologi.  Lantas apa kaitan sosiologi dengan terorisme?

Ditinjau dari kajian sosiologi, perilaku yang meneror merupakan perilaku menyimpang (devian personality), dapat juga dikatakan kepribadian yang sulit (difficult personality). Apabila dilihat secara umum tindakan meneror orang lain dapat disebabkan oleh pembangkangan. Istilah pembangkang sendiri sebenarnya juga dapat diartikan sebagai teroris. Paham terorisme sendiri dilakukan dengan menebar teror atau aksi yang menimbulkan ketakutan kepada masyarakat atau kelompok untuk tujuan tertentu. Pelaku teror dapat menjalankan aksinya secara individu maupun kelompok yang terorganisir.

Menurut Robert K. Merton terdapat lima tipe pola adaptasi social individu terhadap situasi tertentu yaitu konformitas, inovasi, ritualisme, retreatisme, dan pemberontakan. Tukina (2011)[3]. Diantara lima tipe tersebut yang termasuk dalam kategori menyimpang adalah retreatisme dan pemberontakan.

Bentuk dari retreatisme adalah  perilaku seseorang tidak mengikuti tujuan dan cara yang dikehendaki. Salah satu contoh dari tindakan ini adalah terorisme karena para pelaku teror memiliki pandangan yang tentunya berbeda dan menolak  ideologi atau nilai dan norma yang dianut di lingkungan sekitar mereka. Namun penolakan tersebut tidak didukung dengan solusi yang dapat mereka berikan. Sehingga mereka melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat seperti bom bunuh diri kepada orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka.

Sedangkan pemberontakan (rebellion) orang tidak lagi mengakui struktur social yang ada dan berupaya menciptakan struktur social yang baru. Karena mereka memiliki pandangan yang berbeda dan ingin mengubah sistem sosial di lingkungan tersebut dan merekamemiliki solusi yang dapat diterapkan untuk mengubah tatanan tersebut. Contohnya adalah ISIS. ISIS menjadi kelompok jihad pertama yang memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak Sukawarsini, dkk. (2016)[4]. Ancaman yang ditimbulkan pun tak hanya dari kehidupan politik dan kekuatan militer saja, namun juga mengancam bagi kemanusiaan, kehidupan ekonomi, lingkungan, sosial-budaya, kesejahteraan individu dan masyarakat.

Terorisme dan penyimpangan sosial

Pemberontakan yang terjadi pada individu atau kelompok tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu yang mengakibatkan mereka melakukan pemberontakan. Pemberontakan yang terjadi dapat digolongkan sebagai suatu penyimpangan. Mengutip pendapat Profesor Robert M. Z. Lawang, perilaku menyimpang juga dapat didefinisikan sebagai semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial, serta menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem untuk memperbaiki perilaku tersebut Murniaseh (2021)[5].

Dari luasnya akar masalah terorisme, maka penyelesaian masalah terorisme perlu dilakukan secara menyeluruh tidak dapat sepotong-sepotong. Sepanjang 2021, sudah ratusan terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror di beberapa wilayah di Indonesia[6]. Namun, jika hanya diberangus atau ditumpas tanpa pemahaman secara mendasar justru akan memunculkan terorisme dalam bentuk baru. Pemahaman terhadap terorisme secara baik dan holistik, dapat mempermudah mencari tahu duduk perkara serta merumuskan solusi secara tepat. Selain itu juga diperlukan komunikasi secara baik dan tepat. Tanpa ada komunikasi yang baik dan tepat berakibat pemberantasan terhadap terorisme dapat berujung pada munculnya terorisme dalam bentuk baru. 

KAJIAN PUSTAKA


antaranews.com.(2021). “Polri: Sudah 94 terduga teroris ditangkap sepanjang 2021”  diakses Kamis. 15 April 2021


Bbc.com. (2021). “Bom Makassar: Pelaku diduga anggota kelompok JAD sebagai 'balas dendam dan aksi jelang bulan Ramadan', kata pengamat terorisme”diakses Kamis. 15 April 2021

 

Djelantik,dkk.(2016). “Terorisme Internasional dan Genomena ISIS di Indonesia”. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat  Universitas Katolik Parahiyangan.(online) diakses Kamis. 15 April 2021

 

Murniaseh,Endah. (2021). “Macam-Macam Penyimpangan Sosial dan Contoh Perilaku Menyimpang” (online) diakeses Rabu, 14 April 2021

 

Tukina. (2011). Tinjauan Kritis Sosial: Terorisme di Indonesia. Jurnal Humaniora 2. 731-742. (online)  diakses Kamis. 15 April 2021



[2] Tukina. (2011). Tinjauan Kritis Sosial: Terorisme di Indonesia. Jurnal Humaniora 2. 731-742 dikutip pada kamis. 15 April 2021

[3] Tukina. (2011). Tinjauan Kritis Sosial: Terorisme di Indonesia. Jurnal Humaniora 2 731-742 dikutip pada kamis. 15 April 2021

[4]Djelantik,dkk.(2016). “Terorisme Internasional dan Genomena ISIS di Indonesia”. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat  Universitas Katolik Parahiyangan. dikutip pada kamis. 15 April 2021

[5] Murniaseh,Endah. (2021). “Macam-Macam Penyimpangan Sosial dan Contoh Perilaku Menyimpang”  dikutip pada kamis. 15 April 2021

[6] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-56556322 dikutip pada kamis. 15 April 2021

Karya: Kirana Ai
MAN 1 MALANG
Juara Harapan 2 Olimpiade Sosiologi (OSUM) 2021


0 komentar:

Posting Komentar