Selasa, 01 Juni 2021

Terorisme; Kekerasan dan Stigma Negatif Ancaman Disintegrasi Sosial


Terorisme telah banyak terjadi dan mengancam keamanan serta stabilitas berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Keberagaman masyarakat sering dijadikan alat untuk berbagai aksi terorisme. Namun, keberagaman bukan penyebab utama aksi terorisme di Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan1. Menurut Charles Kegley dan Eugene Witkoff (The Global Agendas Issues and Perspectives), terorisme adalah suatu cara untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan ancaman kekerasan guna menimbulkan rasa takut dan korban sebanyak-banyaknya secara tidak beraturan2. Menurut Konvensi PBB tahun 1937, terorisme adalah segala bentuk tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat3.

Terorisme merupakan tindakan untuk mencapai tujuan berdasarkan kepentingan kelompok dengan menggunakan kekerasan dan menimbulkan rasa takut kepada masyarakat. Aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh oknum di pintu masuk Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan tanggal 28 Maret 2021 merupakan aksi terorisme. Dampak kejadian tersebut adalah adanya korban luka-luka dan kerusakaan fasilitas berupa pintu gerbang gereja, beberapa kendaraan di sekitarnya serta pecahnya kaca hotel di sekitar gereja tersebut4. Bom Bali I terjadi di kawasan Kuta dan Denpasar, Bali tanggal 12 Oktober 2002 adalah aksi terorisme yang dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia. Dampak dari peristiwa tersebut adalah kerusakan puluhan bangunan, ratusan korban jiwa yang mayoritas wisatawan asing serta ratusan korban luka-luka5. Berbagai aksi terorisme terjadi menggunakan kekerasan dan menyebabkan adanya korban jiwa, kerusakan bangunan serta ketakutan di masyarakat.

Kekerasan merupakan suatu ekspresi yang dilakukan oleh individu maupun kelompok dimana secara fisik maupun verbal mencerminkan tindakan agresi dan penyerangan pada kebebasan atau martabat6. Berdasarkan teori kekerasan dari Thomas Santoso, aksi terorisme termasuk kekerasan struktural. Kekerasan struktural merupakan kekerasan yang terbentuk dalam suatu sistem sosial di masyarakat dan menimbulkan hilangnya rasa saling memiliki di dalam kelompok tersebut7. Adanya perubahan sosial yang cepat, sedangkan sistem sosial dan nilai masyarakat tidak mampu merespon sama cepatnya. Akibatnya, muncul tindakan yang berusaha untuk menolak adanya perubahan melalui aksi terorisme.

Terorisme terjadi sebagai ungkapan beberapa oknum untuk menolak adanya persamaan kedudukan terhadap keberagaman yang ada. Oknum tersebut menyebarkan pandangan yang menyimpang, sehingga muncul stigma negatif masyarakat terhadap keberagaman. Stigma negatif masyarakat mengakibatkan muncul tindakan saling menyalahkan dan menuduh. Tindakan tersebut menyebabkan pertentangan antarkelompok di masyarakat. Ketidakmampuan norma sosial dalam menyelesaikan permasalahan mengakibatkan terjadi disintegrasi sosial yaitu kondisi ketidakberaturan dalam masyarakat akibat tidak berjalannya fungsi serta norma sosial yang menimbulkan perpecahan.

Keberagaman dalam masyarakat tidak dapat diterima oleh oknum tertentu dan mengakibatkan muncul tindakan yang berusaha memecah persatuan. Tindakan kekerasan berupa terorisme mengakibatkan disintegrasi sosial harus segera diatasi. Salah satunya melalui integrasi sosial dalam keberagaman di masyarakat. Integrasi sosial merupakan proses penyesuaian di antara unsur-unsur sosial yang berbeda-beda sehingga membentuk suatu kesatuan masyarakat yang serasi8. Integrasi sosial dapat dilakukan secara normatif, fungsional dan koersif 9.

Integrasi sosial di dalam masyarakat dilakukan melalui norma sosial, pelaksanaan fungsi dari masing-masing kelompok, serta melalui pemaksaan dan kekerasan oleh pihak berwenang. Dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai norma sosial, pelaksanaan peran masing-masing kelompok, serta pemberian gas air mata maupun menembak oknum kejahatan oleh kepolisian merupakan upaya yang dilakukan untuk mengintegrasikan masyarakat. Melalui integrasi sosial, diharapkan masyarakat yang heterogen dapat menyatu serta memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan, sehingga tercipta kehidupan yang serasi dan harmonis dalam bermasyarakat.

DAFTAR PUSTAKA 

1 KBBI. 2012. “Arti Kata Terorisme”, https://kbbi.web.id/terorisme, diakses pada 14 April 2021 pukul 14.30.

2 Wikipedia. 2021. “Definisi Terorisme”, https://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_terorisme, diakses pada 14 April 2021 pukul 14.50.

3 Wikipedia. 2021. “Definisi Terorisme”, https://id.wikipedia.org/wiki/Definisi_terorisme, diakses pada 14 April 2021 pukul 14.50.

4 Azanella, Luthfia Ayu. 2021. “Bom Gereja Katedral Makassar : Kronologi Kejadian, Keterangan Polisi dan Sikap Presiden”, https://www.kompas.com/tren/read/2021/03/29/100000165/bom-gereja-katedral-makassar-kronologi-kejadian-keterangan-polisi-dan-sikap?page=all, diakses pada 14 April 2021 pukul 15.12.

5 Agregasi Sindonews.com. 2020. “Daftar Nama Pelaku Bom Bali 1 yang Ditangkap & Masih Buron”, https://nasional.okezone.com/read/2020/12/13/337/2326645/daftar-nama-pelaku-bom-bali-1-yang-ditangkap-masih-buron, diakses pada 14 April 2021 pukul 15.20.

6 Haryanta. 2012. Kamus Sosiologi. Surakarta: Aksara Sinergi Media.

7 Rufikasari, Lia Candra. 2016. Sosiologi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas XI. Surakarta: CV Mediatama.

8 Haryanta. 2012. Kamus Sosiologi. Surakarta: Aksara Sinergi Media.

9 Rufikasari, Lia Candra. 2016. Sosiologi Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas XI. Surakarta: CV Mediatama.


Karya: I Dewa Ayu Rai Suryati

(SMAN 1 Kediri Bali)

Finalis Olimpiade Sosiologi (OSUM) 2021



0 komentar:

Posting Komentar