Jumat, 09 Februari 2024

KUPAS TUNTAS FENOMENA FLEXING

            Pada dasarnya, semua manusia pasti senang ketika diberi pujian dan validasi dari orang lain. Jika  seseorang tidak mendapat atensi yang cukup, mereka akan mencari validasi dari orang lain  dengan cara memamerkan dirinya atau bahasa kerennya flexing. Berdasarkan 1Cambridge  Dictionary, flexing adalah kegiatan menunjukkan sesuatu yang dimiliki dengan cara yang tidak  dianggap menyenangkan oleh orang lain. Berkat kemajuan teknologi dari globalisasi, kini  seseorang tidak hanya bisa pamer di lingkungan sekitarnya, tapi bisa pamer ke seluruh orang  yang melihat konten sosial medianya. Flexing ini menjadi suatu perilaku yang sering dilakukan,  terutama di kalangan selebriti sosial media. Konten flexing yang dibuat oleh para selebriti dengan  memamerkan barang mewah ini pun herannya dinikmati masyarakat. 2Pengamat budaya dan  komunikasi digital UI, Firman Kurniawan mengatakan bahwa konten flexing adalah konten yang  unik sehingga mendapat perhatian masyarakat. 3Krueger juga menyatakan bahwa konten pamer  merupakan bentuk dari promosi diri atau branding untuk memperlihatkan kekayaan. Contohnya  ada kasus sosialita palsu bernama 4Anne Sorokin yang suka flexing di sosial media dengan  berlibur di tempat mewah, ternyata selama ini temannya yang membiayai liburannya dan semua  kekayaannya palsu. Dapat dikatakan branding yang ingin didapatkan Anne adalah sosialita kaya  meski aslinya Ia bukanlah orang kaya. Kasus Anne ini juga merupakan contoh dari teori  dramatugi, dimana kehidupan “mewah” Anne hanyalah sandiwara yang berbeda dari realita. 

            Flexing ini sudah dilakukan sejak dulu sebelum sosial media berkembang, contohnya ketika ada  perkumpulan keluarga, banyak kerabat berlomba-lomba memamerkan segala aspek  kehidupannya yang bisa dibanggakan. Tetapi pada jaman dulu, flexing yang dilakukan hanya  sesaat saja saat ada perkumpulan sehingga orang-orang tidak selalu bisa pamer setiap saat.  Berbeda dengan jaman sekarang yang serba digital, semua orang dapat memamerkan kehidupan mereka di sosial media. Penyebab flexing menurut psikolog 5Dr.Art Markman adalah untuk  mengekspresikan status sosial, artinya semakin banyak hal yang dipamerkan maka semakin  dianggap tinggi status sosial seseorang. Dr.Art Markman juga menjelaskan bahwa flexing ini  dilakukan karena seseorang ingin menunjukkan kesuksesan dan memiliki apa yang tidak dimiliki  orang lain, perilaku inilah yang nantinya dapat menciptakan tekanan yang tidak sehat pada diri  sendiri dan orang lain. 6Penelitian dalam jurnal Psychological Science menuliskan bahwa  penyebab flexing dipengaruhi rasa ketidakamanan atau insecure sehingga mereka berusaha  menutupi rasa ketidakamanannya dengan memamerkan kekayaan. 

Status sosial dalam segi ekonomi sangat berpengaruh dalam flexing, orang-orang berusaha untuk  meningkatkan status mereka dengan usaha memamerkan kekayaan mereka. Keinginan memiliki  status tinggi inilah yang akan menimbulkan tekanan pada individu. Berdasarkan teori  Differential Association, dikatakan perilaku seseorang dipengaruhi lingkungan pergaulannya,  artinya bahwa flexing dapat terjadi karena ada tekanan pada individu untuk ikut-ikutan flexing agar dirinya tidak termarginalkan. Berdasarkan teori tahapan sosialisasi, play stage adalah tahap  dimana anak meniru segala perbuatan yang dilihatnya, play stage ini dapat menjadi acuan  seseorang melakukan flexing. Jika anak tumbuh di lingkungan yang orang-orangnya suka  memamerkan harta, maka anak tersebut akan merasa flexing adalah hal yang normal untuk  dilakukan sebagai pembuktian diri. Fenomena flexing ini serupa dengan pernyataan 7Robert  Miles mengenai kaum nouveaux yaitu kaum menengah di Eropa yang berlomba untuk membeli  barang mewah untuk dipamerkan agar mereka dianggap lebih maju dari status aslinya. Dalam hal  ini, dapat dikatakan bahwa flexing dilakukan agar seseorang dianggap lebih maju secara ekonomi  dan sosial dibanding status aslinya. Flexing ini juga cenderung dilakukan pada masyarakat  perkotaan, 8Corrigan mengatakan masyarakat gesselschaft merupakan tempat ideal untuk  memamerkan harta karena masyarakatnya tidak saling mengenal dan formal. 


Dalam permasalahan sosial, flexing dapat menyebabkan seseorang berperilaku diskriminatif.  Perilaku diskriminatif ini akan menjurus ke gejala sosial secara faktor ekonomi, yaitu  kesenjangan sosial dan eksklusivisme. Orang-orang yang melakukan flexing akan menganggap  status ekonomi mereka lebih tinggi dibanding yang lain sehingga mereka hanya ingin bergaul  dengan orang yang memiliki status tinggi. 9Dosen psikologi Universitas Muhammadiyah  Surabaya Dewi Ilma juga menyatakan perilaku flexing akan membuat seseorang sulit diterima di  lingkungannya, khususnya di lingkungan baru. Kesimpulannya adalah status sosial ekonomi  sangat penting bagi beberapa orang, mereka rela memamerkan bahkan memalsukan  kehidupannya agar bisa memiliki status tinggi, rasa haus akan validasi dan keinginan untuk  dipuji inilah merupakan faktor penyebab perilaku menyimpang. Dari faktor penyebab  penyimpangan ini akan menyebabkan permasalahan sosial dan hancurnya hubungan sosial. Oleh  karena itu, keluarga sebagai kelompok primer berperan penting dalam pertumbuhan anak agar  tidak dihasut oleh budaya flexing. Pemilihan kelompok sosial primer pertemanan juga  berpengaruh terhadap perilaku flexing sehingga penting untuk mencari kelompok pertemanan  yang sehat. 


1. https://jatim.tribunnews.com/2023/04/30/arti-kata-flexing-istilah-gaul-kerap-seliweran-di-sosmed-ternyata-ada dampak-bagi-kesehatan 

mental#:~:text=Menurut%20Cambridge%20Dictionary%2C%20Flexing%20adalah,oleh%20orang%20lain%20tidak %20menyenangkan

2. https://ameera.republika.co.id/berita/rqtwh6414/kenapa-konten-flexing-cepat-viral-ini-jawaban-pakar 3. https://psychology.binus.ac.id/2022/11/29/flexing-self-branding-atau-penipuan/ 

4. https://time.com/6147088/inventing-anna-true-story/ 

5,6. https://cianjur.suara.com/read/2023/02/22/103243/mengapa-orang-suka-flexing-berikut-penjelasan-faktor psikologi-di-balik-keinginan-untuk-memamerkan-diri-menurut-ahli 

9 Dosen Psikologi Paparkan Alasan Seseorang Lakukan Flexing

7,8. 

https://www.researchgate.net/publication/345461755_Pamer_Kemewahan_Kajian_Teori_Konsumsi_Thorstein_Veb len 

9. https://www.um-surabaya.ac.id/homepage/news_article?slug=dosen-psikologi-paparkan-alasan-seseorang lakukan-flexing


Karya: NADINE CELIA LESMANA 

SMA TARAKANITA GADING SERPONG




0 komentar:

Posting Komentar